25 Ribu Sawah Terancam

FOTOA HAEL

TERANCAN KEKERINGAN. Salah seorang petani asal Desa Kota Nagaya sedang memupuk padinya yang saat ini terancam kekeringan akibat musim kemarau.

Debit Air Irigasi Menurun, Petani Parimo Antri
PARIMO, PE – Seluas 25 ribu hektar sawa di dua kecamatan, Lambunu dan Bualemo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) terancam kering. Akibat keramau panjang saat ini, sudah sekitar 30 persen dari sawah tersebut merasakan dampak kekeringan tersebut. Bila terus berlanjut, dipastikan mengalami gagal panen.
PPL Tanaman Pangan Kecamatan Bolano Lambunu, Ibrahim mengatakan, musim kemarau yang sudah berlangsung empat bulan dipastikan akan berdampak pada areal persawahan yang ada di dua kecamatan itu. Kata dia, debit air irigasi Kota Nagaya saat ini sudah mencapai penurunan 50 persen. Akibat penurunan debit itu, petani terpaksa secara bergilir menggunakan air.

“Karena debit air sudah menurun petani harus bergiliran untuk bisa mendapatakan aliran air kepersawahan mereka. Kalau tidak seperti ini sawah – sawah yang jauh dari irigasi pastinya akan kering,” kata Ibrahim kepada Palu Ekpsres, Minggu  11 Oktober 2015.

Dia mengatakan, akibat penurunan debit air irigasi Kota Nagaya itu, setiap malam petani yang berkerumun di pintu air irigasi hanya untuk antrian mengairi persawahan yang hampir kering itu.
Ia menilai, jika musim kemarau ini masih berlangsung, tentunya akan berpengaruh pada pertumbuhan buah padi yang saat ini masih sementara. Sulit dipastikan jika sawah ini kekurangan air, buah padi yang sementara berisi akan mengalami kerusakan sehingga akan berdampak pada penurunan hasil produksi.

“Jika hujan tidak turun dalam sebulan ini, tidak juga akan semuanya gagal panen, namun pasti adalah beberapa sawah milik petani yang akan gagal panen karena kondisi air yang tidak memungkinkan,” ujarnya.
Ia berharap melihat kondisi ini, pihaknya sudah melaporkan ke KUPTD Pertanian dan Peternakan  untuk menindak lanjuti kepihak pemerintah kabupaten khususnya dinas terkait agar bisa memberikan bantuan mesin pompa air. Pengusulan permitaan bantuan pompa air ini, untuk mencegah adanya krisis air pada setiap sawah yang saat ini tanaman padi sementara berbuah.

“Tanaman padi sekarang ini saat–saatnya masa pertumbuhan buah, petani berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan mesin pompa air untuk bisa mengantisipasi kekeringan sawah yang ada di dua kecamatan ini,” harapnya.

Tugiem, salah seorang petani Desa Kota Nagaya Kecamatan Lambunu mengaku seperempat hektar tanaman padinya mengalami kerusakan akibat musim kemarau berkepanjangan. Ia mengaku, sawah miliknya seluas satu hektar setiap hari melakkan perawatan dengan menjaga pintu air irigasi agar bisa teraliri. Ia mengaku, untuk bisa mendapatakan aliran air dari irigasi terpaksa dilakukan antrian. Namun antrian yang dilakukan hanya bisa membasahi separuh sawah miliknya.

“Baru kali ini mas kamaraunya berkepanjangan, lihat loh, padinya sudah sebagian mati karena mengalami kekeringan air. Jika kekeringan ini berlangsung lama, saya yakin hasil panen kami akan menurun,” katanya.
Dia berharap, kondisi yang dialami oleh petani sawah di Kecamatan Balano Lambunu saat ini, pemerintah setempat bisa memperhatikan dengan membantu mesin pompa air agar aliran air masuk diareal perasawahan bisa lebih maksimal.

“Kalau ada pompa air aliran air masuk di persawahan pasti cepat. Dan kami berharap pemerintah bisa membantu mesin pompa sehingga sawah–sawah yang butuh air cepat teratasi,” pintanya. (ady)