Dimana-Mana Tuhan Panggil, Asal Jangan di Paramba

00-KAKI

AKRAB DENGAN HUTAN – Suku Wana sangat percaya bahwa hutan merupakan sumber kehidupan mereka.

Oleh-oleh dari Suku Wana (2)
MENYEBUT nama Manyo’e, Lijo atau Salubiro, yang terbayang pertama adalah Suku Wana, masyarakat yang hidup di belantara hutan. Bagi penulis, Suku Wana bukan lagi nama yang asing. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, penginjilan di daerah Wana selalu menjadi bagian dari doa syafaat. Bahkan lagu rohani: dimana-mana Tuhan panggil saya kerja di ladang Tuhan diplesetkan menjadi dimana-mana Tuhan panggil, asal jangan di Paramba. Paramba merupakan ibukota Desa Manyo’e, salah satu pemukiman Suku Wana yang berada tepat di bawah kaki gunung Sinara. Tempat ini baru bisa dilalui kendaraan motor roda 2 pertengahan tahun 2015. Sebelumnya, untuk sampai kesana harus berjalan kaki lebih dari satu hari, atau menggunakan jasa angkutan udara milik yayasan.

Perkenalan dengan Suku Wana terjadi tahun 2006 saat pertunjukkan Wana the Indeginous People di Anjungan Sulawesi Tengah oleh Pemda Morowali. Saat itulah pertama kali penulis bersentuhan dengan masyarakat Wana. Kesederhanaan (lebih tepatnya keluguan) dan sumpit yang dibawa langsung dari daerah pedalaman menjadi kesan pertama saat berkenalan. Sebagaimana masyarakat yang hidup di pedalaman, alas kaki menjadi hal tersulit dalam beradaptasi. Kebiasaan berjalan beriringan di tempat mereka juga terbawa sampai di Jakarta. Suku Wana memang mempunyai kebiasaan jika berjalan selalu berbanjar satu dengan mereka yang dituakan atau dianggap pemimpin berjalan paling depan.

Dari berbagai literatur yang ada, Suku Wana diyakini telah sejak lama mendiami wilayah Gunung Sinara dan pinggiran Sungai Bongka yang melewati wilayah Morowali Utara dan Tojo Una-Una. Albert C Kryut, peneliti dari Belanda dalam artikelnya yang berjudul De To Wana op Oost-Celebes (1930), menyebutkan sebagian imigran tersebut menyebar dan menjadi 4 kelompok suku yang memiliki dialek bahasa yang berbeda, yaitu:  Suku Burangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di kawasan Lijo, Parangisi, Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro; Suku Kasiala, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan kemudian bermukim di Manyoe, Sea, sebagian di Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro; Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di kawasan Kajupoli, Toronggo, Opo, Uemasi, Lemo, dan Salubiro; Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi. Kelompok suku ini sampai sekarang masih menutup diri dari pengaruh luar (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).

Menurut tetua-tetua adat suku Wana, mereka meyakini bahwa nenek moyang mereka dari satu asal, yaitu dari Tundantana, sebuah tempat di wilayah Kaju Marangka, yang berada dalam kawasan Cagar Alam (CA) Morowali. Tundantana diyakini sebagai tempat manusia pertama yang dititiskan dari langit dan kemudian melahirkan nenek moyang Suku Wana.

Perkenalan kedua penulis dengan Suku Wana terjadi tahun 2012. Saat itu penulis bersama sejumlah teman mengendarai sepeda motor sampai di Lijo, Kecamatan Mamosalato. Diperlukan perjuangan dan semangat pantang menyerah untuk bisa sampai di tempat tersebut. Jalanan kendaraan roda dua  hanya menapak bekas aliran air. Tidak terhitung berapa kali harus terjungkal dari kendaraan sebelum akhirnya sampai di Lijo.

Nama daerah ini sendiri diberikan oleh Kepala Distrik Kumisi Bali Lagaronda, yang memindahkan warga yang bermukim di pinggiran Sungai Bongka ke tempat yang lebih tinggi akibat terkena banjir. Pemukiman warga yang berada di ketinggian kemudian dinamakan Lijo yang berarti Lihat Joljota. Joljota (Golgota dalam bahasa Ibrani) adalah bukit  tempat Kristus disalibkan.

Masih di tahun 2012, penulis juga sempat menyaksikan langsung tradisi Momata di wilayah Desa Taronggo, Kecamatan Baturube. Momata adalah prosesi menghilangkan kenangan kepada salah satu kerabat yang meninggal. Selama seminggu waktu berkabung adalah saat sanak keluarga dari berbagai penjuru tempat datang menghibur kaum keluarga. Setelah itu dilakukan proses menghancurkan rumah tempat tinggal dan mereka pun berpindah tempat tinggal.

Mungkin karena itulah Suku Wana dikenal sebagai masyarakat peladang berpindah. Menggunakan barter sebagai sistem dalam melakukan transaksi, mempunyai pandangan sederhana tentang kehidupan dan alam, serta dikenal sebagai penyumpit ulung. Sejak bertemu langsung di pedalaman Lijo tahun 2012, masyarakat Wana sangat mengagungkan ayam hutan. Bahkan ayam menjadi alat pembayaran kesehatan jika mereka terpaksa harus ke tenaga medis terdekat karena tidak memegang uang sebagai alat bayar.

Suku Wana sangat percaya bahwa hutan merupakan sumber kehidupan mereka, rumah sekaligus tempat dari nenek moyang mereka. Mengajak Suku Wana menganut salah satu agama yang diakui negara butuh perjuangan panjang. Keuletan para misionaris dan sejumlah sinode serta yayasan pendidikan membuat hadirnya helipad di lapangan sepakbola Paramba dan Salubiro, landasan pacu jenis pesawat Cesna di Padanjese. Mungkin karena itulah lagu rohani dimana-mana Tuhan panggil saya kerja diladang Tuhan akhirnya diplesetkan menjadi dimana-mana Tuhan panggil, asal jangan di Paramba.

Namun Suku Wana bukan milik umat Kristiani semata. Sejak 2012 bangunan masjid di Winangabino (dulu namanya Pu’umboto) dan satu lagi yang sampai tahun 2015 tidak pernah selesai dibangun berdiri di dusun Ngoyo. Perjuangan membuat Suku Wana memeluk agama memang butuh perjuangan dan keuletan.

Masyarakat pedalaman akhirnya menjadi komoditas politik saat berlangsung proses demokrasi. Sistim noken yang selama ini dikenal di pedalaman Irian sesungguhnya sering terjadi juga di tempat ini. Harga semen yang melambung tinggi di puncak Jayawijaya juga terjadi di tempat ini, karena untuk sampai ditujuan dikenakan hitungan pikulan per kilo ditambah harga jual dari tempat angkut. Harga semen Oktober 2015 di Paramba adalah 380 ribu rupiah/sak, dari harga dasar 80 ribu rupiah di Pandauke, ibukota Kecamatan Mamosalato.

Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas, saat berdialog dengan beberapa warga Morowali Utara saat kunjungannya di Palu terkejut saat mendengar kisah Suku Wana dari mereka yang melakukan interaksi langsung selama ini. “Eh, masih ratusan sampe ribuan orang di pegunungan ? Mereka itu warga Indonesia juga yang harus mendapat pelayanan yang sama lho. Ini sudah 70 tahun kita merdeka. Saya akan atur jadwal untuk bisa kesana,” kata GKR Hemas.

Tahun 2015 mungkin menjadi titik balik kehidupan warga yang tinggal di pedalaman. Masuknya kendaraan roda 2 pertengahan tahun paling tidak membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika kita mau melakukannya, dan bukan sekedar janji-janji yang dilontarkan baik oleh para kandidat maupun para calon legislator. Dibutuhkan figur yang merasakan langsung kondisi jalan, dan tahu bagaimana harus melakukan pembangunan jalan dan jembatan berkaitan kondisi obyektif tanah dan hutan yang selama ini menjadi rumah bagi masyarakat Wana. (Erick Tamalagi)