Peningkatan IPM Perlu Diseriusi

00-FOTO AA

SERAHKAN PENGHARGAAN – Gubernur Sulteng Longki Djanggola menyerahkan penghargaan kepada siswa berprestasi pada upacara HUT Hardiknas di Kantor Gubernur, Senin 2 Mei 2016. (harold/humas pemprov)

Pemerintah Dorong Wajib Belajar 12 Tahun
PALU,PE- Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menilai kualitas pendidikan di Sulteng masih perlu mendapat perhatian serius. Mulai dari peningkatan mutu tenaga pendidik, lama sekolah siswa hingga peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.Pasalnya kata Longki, indeks pembangunan manusia (IPM) di Sulteng masih berada dibawah rata-rata IPM nasional. Dimana IPM Sulteng tahun 2013 tercatat 72,54persen sedangkan IPM secara nasional tercatat 73,81persen.

IPM merupakan  Indeks ukuran  capaian pembangunan manusia berbasis  komponen dasar kualitas hidup dari dimensi panjang dan kesehatan manusia serta pengetahuan dan kehidupan yang layak. “Jadi memang masih banyak hal yang harus diseriusi untuk mengurus pendidikan di Sulteng, apalagi kita menghadapi MEA dan mengingat IPM kita masih rendah dibawah rata-rata nasional,”kata Longki, Senin 2 Mei 2016.

Berangkat dari itu kata Longki, maka di momen hari pendikan nasional 2 Mei tahun ini diharapkan menjadi motivasi bagi pemerintah dan seluruh pihak untuk menggalakkan upaya peningkatan kualitas pendidikan. “Untuk itu kita harus lakukan dengan berbagai macam cara dan pendekatan. Agar bisa terwujud bagaimana perbaikan managemen sekolah, meningkatkan kulitas guru dan murid, termasuk sarana dan prasarana pendidikan,”jelasnya.

Meski demikian Longki menyebutkan bahwa sudah ada beberapa hal yang menunjukkan kemajuan dalam bidang pendidikan. Contohnya saja dari sisi angka lama sekolah. Menurutnya di wilayah Sulteng angka lama sekolah dan angka anak yang tidak sekolah umumnya sudah cukup baik. Namun begitu katanya aspek itu memang perlu terus lebih ditingkatkan lagi. “Cukup baik namun belum signifikan karena kita masih belum mencapai standar nasional,” demikian Longki.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng Ardiansyah Lamasituju mengemukakan, untuk meningkatkan IPM dapat dilakukan dengan dua pola, yaitu perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan.Perluasan akses artinya bagaimana mendorong agar semua anak usia sekolah dapat terakomodir dalam pendidikan dasar dan menengah sehingga program wajib belajar sembilan tahun dapat tercapai di Sulteng.

Sedangkan upaya peningkatan mutu adalah bagaimana pemerintah mampu melaksanakan kebijakan pendidikan untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan guru  yang mengacu pada kurikulum. Sehingga menurutnya, seluruh aspek peningkatan pendidikan dapat berjalan sesuai standar yang ada.
“Itu semua dapat dilakukan apabila sarana dan prasarana memadai. Tenaga pendidikan standar, kemampuan menjalankan kurikulum standar dan maksimal. Itu yang harus dilakukan oleh seluruh pihak bukan hanya pemerintah,” jelas Ardiansyah.

Selain itu, kata Ardiansyah, pemerintah juga perlu terus mendorong kebijakan dari segala aspek agar seluruh anak diwilayah Sulteng dapat mengikuti program wajib belajar 12 tahun. Dia menambahkan, bahwa khusus untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak merupakan tanggung jawab kolektif dari semua pihak. Sebab karakter pendidikan anak ternyata bukan hanya terbentuk dari lingkungan sekolah. “Untuk kita pahami bersama bahwa dari 24 jam dalam sehari, posisi waktu anak dilingkungan sekolah hanya tujuh jam. Selebihnya ada di lingkungan keluarga dan masyarakat,” jelasnya.

Maka itu sambungnya, semua pihak utamanya keluarga harus terlibat aktif dan bertanggungjawab dalam proses pembentukan karaktek anak.  “Semua lini dan elemen masyarakat harus  bertanggung jawab, bukan hanya pemerintah. Apalagi tanggungjawab bersama itu memang diatur dalam undang-undang tentang pendidikan,” demikian Ardiansyah.Sementara, Rektor Untad  Prof Dr Ir Muh Basir Cyio SE MS, mengatakan, mutu lulusan di Sulawesi Tengah (Sulteng) khususnya di tingkat SLTA harus lebih ditingkatkan lagi.

Persaingan yang cukup ketat dalam sejumlah jalur seleksi menuju perguruan tinggi negeri seperti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) layaknya sebuah seleksi alam yang menentukan tingkat kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan SLTA dan sederajat.

Dalam tataran inilah, lulusan-lulusan  SMA di Sulteng sering tergenjet oleh lulusan-lulusan dari luar. Khususnya pada jalur SBMPTN. Pada jalur yang dikenal dengan jalur tes tertulis menuju Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini menuntut kualitas akademik masing-masing calon mahasiswa. Kondisi ini menjadi keprihatinan bagi Rektor Untad, Prof Dr Ir Muh Basir Cyio SE MS. Menurut rektor, pada jalur ini, calon-calon mahasiswa dari Sulteng sering tergenjet oleh calon-calon mahasiswa dari luar Sulteng.

‘’Saya melihatnya bahwa lulusan kita, khususnya adik-adik calon mahasiswa yang dari SMA di Sulteng masih sering kalah bersaing dengan lulusan-lulusan dari luar Sulteng. Karena memang demikian adanya. Sebuah persaingan dalam akademik. Ini mungkin yang menurut saya harus kita perhatikan dan kita benahi,” tanda Rektor.

Dalam segi partisipasi mendukung akses kualitas pendidikan pun menurut rektor masih jauh dari harapan. Misalnya saja pada tahapan jalur SNMPTN. Jalur yang notabene merupakan jalur seleksi tanpa tes bagi calon mahasiswa untuk bisa melanjutkan studi ke PTN manapun di Indonesia ini kurang mendapat dukungan dari pihak sekolah sebagai yang berwenang.

Pada SNMPTN, sekolahlah yang berwenang mendaftarkan siswanya pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) untuk didaftarkan sebagai salah satu calon peserta SNMPTN. Namun, faktanya, dibanding Sulawesi Selatan, Sulteng jauh di bawah harapan.Sulteng hanya menyuplai 174 sekolah sebagai peserta SNMPTN. Hanya mengalami kenaikan satu angka dari tahun sebelumnya. Sedangkan Sulsel yang berjubel jumlah PTN-nya menyuplai hingga 203 sekolah.

‘’Ini kembali kepada tanggungjawab dan kepedulian sekolahnya. Karena setiap jalur seleksi masuk PTN itu memberi kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak-anak kita calon mahasiswa untuk bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau melalui PTN,” tandasnya. (mdi/mrs)