oleh

Kuno dalam Kini Ala Anne Avantie

TransparanFoto: M. Abduh/Wolipop

Paduan Kebaya Modern dan Celana Transparan

JAKARTA,PE-Bagaikan wanita Paris yang kini tengah menggandrungi tren celana transparan seperti yang juga ditampilkan di panggung Elie Saab, Haider Ackermann, Loewe atau Miu Miu di Paris Fashion Week lalu. Siapa yang sangka tren ini singgah sebagai padanan bersama kebaya modern. Hanya Anne Avantie yang bisa begini.
Melanjutkan tahun ke-26 nya berkarya di industri mode Tanah Air, desainer Anne Avantie membawa penonton menuju Semarang, tanah kelahirannya. Mulai dari suasananya dan juga busana di panggung Jakarta Fashion Week, Selasa (27/10/2015), dikemas seolah penontonnya mengikuti perjalanan waktu dari mulai menggambarkan kebaya kartini yang klasik, hingga akhirnya kebaya transparan yang khas Anne.

Pertunjukkan Anne menjadi salah satu agenda yang sayang dilewatkan di JFW. Di setiap pertunjukkan koleksi terbarunya, selalu saja diselipkan aksi teatrikal yang membuat runway terlihat menyenangkan dan ditunggu-tunggu.
Kali ini temanya adalah Gambang Semarang. Diungkap Anne, ia mendapat idenya saat bolak-balik Jakarta-Semarang dengan kereta. Maklum saja, desainer yang dikenal rendah hati ini mengaku ia takut naik pesawat dan memilih kereta sebagai alat transportasinya.

“Ini sudah tahun ke-26, waktunya saya bersiap untuk kembali pulang ke rumah. Anne Avantie nggak pernah jadi orang Jakarta. Ini memberikan bukti cinta saya, saya besar di Semarang yang banyak budayanya,” ujar Anne sebelum menampilkan shownya di area Fashion Tent, Senayan City.
Awalnya Anne menceritakan kehidupan Semarang di zaman dulu melalui video. Cerita pun di mulai dengan kebaya-kebaya klasik bersiluet kartini dengan pakem tradisional. Selebriti Tanah Air juga terlibat berperan dalam fashion show teatrikal ini antara lain Edrick Tjandra, Indra Bekti dan Indy Barends.

Dilanjutkan Anne, gambaran Semarang dalam imajinasinya adalah sebuah kota dengan keberagaman etnis, budaya dan agama. Empat etnis seperti Arab, Jawa, Tiong Hoa dan Belanda yang hidup harmonis di sana pun adalah inspirasinya menggambarkan Semarang lewat busana. Masing-masing etnis dibagi dalam paduan warna yang khas, misalnya Tiong Hoa memakai warna merah dan hijau yang dominan dan juga nuansa Oranye untuk Arab.
“Semuanya tidak dimasukkan dalam siluetnya tapi lewat warna. Semuanya tergambarkan tapi tidak terkotak-kotakkan,” tambah desainer kelahiran 61 tahun lalu ini.

Dari kebaya klasik, kebaya-kebaya itu bertransformasi menjadi kebaya kontemporer yang kekinian. Tidak lagi membicarakan pakemnya, namun melihatnya lebih dalam sisi artistik. Dalam proses pembuatan selama dua bulan, banyak panel transparan yang dihadirkan dengan payet berkilau dibuat menutupi beberapa bagian tubuh sehingga terkesan seksi ketika dipakai.

Sampai di sini penonton rasanya masih bisa menerima koleksi kebaya Anne yang memang memiliki identitasnya sendiri itu. Kemudian mulai model-model berjalan dengan kebaya dan bawahan celana transparan. Dibuat dari tulle yang mengekspos kulit, namun dipercantik dengan bordiran di sepanjang celana.
Padanan kebaya sebagai atasan juga dibuat sama seksinya dengan bordir yang didominasi hitam. Sekilas kebaya terlihat seperti jumpsuit untuk menggambarkan konsep ‘Kuno dalam Kini’ yang diinginkan sang desainer.

Tak hanya itu, ada pula kebaya dikemas layaknya crop top dan dipadukan bersama celana transparan. Kemudian untuk memberi sentuhan dramatis, padanan kebaya kontemporer dan celana transparan ini dibuat megah dengan kain panjang seperti gaun di bagian belakang.”Saya ingin memberikan kesegaran dalam tema fashion show. Saya ingin penonton bergembira bersama saya. Dunia fashion bukan dunia eksklusif. Desainer bukan kristal yg sulit disentuh,” pungkasnya.(als/ami)

News Feed