oleh

Gedung RS Undata Baru Tak Layak

BELUM LAYAK – Gedung RS Undata baru yang terletak di Jalan RE Martadinata, Palu Timur, belum layak ditempati.

Ruang ICU Berlantai Tripleks dan Gunakan AC Bekas
PALU, PE- Gedung baru RSU Undata ternyata tidak layak untuk sebuah rumah sakit.  Selain gedungnya yang dibangun asal jadi, kondisi areal tanah yang berbukit-bukit menyebabkan para medis kesulitan memberikan pelayanan kesehatan.

Pantauan Palu Ekspres akhir pekan lalu,  lantai tehel di beberapa ruang di gedung yang belum lama ditempati itu mengalami pecah dan tidak terpasang baik. Demikian pula lantai tehel di lorong-lorong yang menghubungkan satu gedung ke gedung lainnya, juga mengalami pecah-pecah.
Selain pecah, lantai tehel di lorong-lorong itu licin.

Belum lagi kondisi areal yang berbukit,  sehingga menyebabkan para medis kesulitan ketika mengevakuasi pasien.  “Tapi syukurlah, di beberapa bagian lorong yang sedikit mendaki sudah dilapisi karet,  sehingga kaki tidak sulit lagi melangkah,” kata salah satu suster yang tak mau menyebut namanya.

Palu Ekspres sempat memasuki ruang ICU. Di sini keadaan makin bertambah parah. Ruang ICU yang mestinya dingin kenyataannya sedikit panas, karena hanya dilengkapi empat AC (Air Condition).  Bahkan salah satu di antaranya AC yang terpasang, adalah AC bekas yang warnanya sudah kekuning-kuningan.  “Di sini AC-nya tidak kuat mendinginkan ruangan sebesar ini. Beberapa AC yang terpasang hanya ada 1 Pk, padahal ruangnnya besar,” kata salah perawat lain kepada Palu Ekspres.

Yang lebih tak higienes lagi lantai ICU RS Undata. Lantainya, bukannya tehel, melainkan hanya menggunakan tripleks tebal kemudian dilapisi perlak plastik warna kuning. “Ruangan ini sama sekali tidak steril. Lantainya lembab. Apalagi dilapasi perlak, serangga dan sejenisnya bisa saja hidup di bawahnya. Padahal yang namanya ruang ICU harus steril,” kata perawat itu.

Palu Ekspres yang kala itu terheran dengan kondisi ICU itu, langsung mengorek lebih jauh informasi dari perawat itu. Perawat itu mengakui kondisi gedung baru RS Undata memang tidak layak untuk sebuah rumah sakit. Perawat itu  mengaku prihatin. Sebagai rumah sakit rujukan di ibukota priovinsi Sulteng, seharusnya selain dilengkapi sarana dan prasarana lebih lengkap, kondisinya pun harus layak untuk sebuah rumah sakit.

Perawat itu kemudian membeber, penyebab RS Undata sulit berkembang. “Pak di sini meskipun ada direktur, tetapi ada juga direktur bayangan. Direktur bayangan ini yang lebih berkuasa dari direktur sebenarnya.  Ketika ada pengajuan pembelian untuk alat tensi darah misalnya, meskipun sudah disetujui oleh direktur, tetapi kalau direktur bayangan tidak menyetujui, maka  itu tidak akan jadi,” kata perawat itu.

Untuk pengadaan alat ukur jantung misalnya. Perawat itu mengatakan, alat ukur jantung itu  diadakan dua tahun lalu, tetapi ketika tiba di RS Undata ditolak oleh dokter ahli jantung karena tidak memenuhi spek. “Alat ukur jantung yang diadakan adalah buatan China, makanya dokter jantung menolak. Tapi agar tidak menjadi temuan, maka dipakailah di ruang ICU,” kata perawat itu.
Beberapa alat ukur jantung itu mengalami kerusakan. Bahkan ada di antaranya yang sudah beberapa kali diperbaiki lalu dipakai lagi.

Informasi yang diperoleh koran ini, karena ketidak layakan gedung baru RS Undata itu, maka RS Undata akan dipindahkan lagi ke lokasi yang lama setelah pembangunan gedung baru selesai. Konon, gedung baru di lokasi yang lama akan dibangun mulai tahun depan. Sementara lokasi RS Undata yang sekarang ini  akan ditempati RS Madani. Direktur RS Undata, dr Reni Lamadjido, dikonfirmasi Palu Ekspres melaui via seluller enggan memberi banyak komentar terkait kabar rencana pemindahan RS Undata.

Pertanyaan Palu Ekpsres terkait ketidaklayakan fasilitas RS Undata pun tak sempat dia jawab.
“Minta tolong ya dek, jangan dulu ekspose tentang kabar pemindahan. Karena ini masih akan dibahas oleh Gubernur, Sekprov dan pejabat asisten lainnya. Terimah kasih ya,”jawab Reni terburu-buru dan langsung memutuskan sambungan telefon. (rez/mdi)

News Feed