Foto Genangan Air Menyebar di Medsos, Stop Salahkan Pemkot!

  • Whatsapp

PALU EKSPRES, PALU – Fenomena genangan air di jalan-jalan Kota Palu kembali menjadi perhatian netizen.

Hal ini menjadi semakin tidak baik,  lantaran pemandangan tersebut diposting oleh netizen yang bukan warga Kota Palu.

Bacaan Lainnya

Seorang netizen yang tinggal di Palu merasa terusik dengan postingan foto genangan air di Jalan Tanjung Karang tersebut.

Adalah Yardin Hadan,  netter yang aktif dan peduli pada fenomena kota,  prihatin dan membuat ulasan panjang pada postingan facebooknya.

Yardin yang juga dikenal sebagai wartawan di Palu ini,  dalam pernyataan tertulisnya,  mengajak warga net untuk tidak lagi menyalahkan pemerintah atas fenomena air tergenang di Jalan Tanjung Karang Kecamatan Palu Timur tersebut.

Yardin, dalam tulisannya menunjukkan kekecewaan dan keprihatinannya terhadap warga kota,  sekaligus menunjukkan betapa tidak enaknya pemandangan di jalan tersebut,  hingga para tamu yang datang ke Kota Palu menunjukkan kesan kurang baik mereka atas pengalamannya berkunjung ke Palu.

Berikut tulisan lengkap Yardin Hasan yang dikutip dari laman Facebooknya, Selasa (19/1).

INI agak memalukan bagi kita warga kota. Bagaimana bisa di tengah terik siang bolong, tidak ada hujan juga tak ada sungai, tiba-tiba ruas Jalan Tanjung Karang berubah bak kolam ikan. Air kehitaman dengan bau menyengat menyeruak kemana-mana. Bukan hanya kita warga kota, pendatang dari daerah lain bakal ternganga-nganga keheranan. Tak sampai di situ, si tamu tadi bakal langsung membagikannya ke timeline media sosialnya. Tak heran jika genangan di sepotong jalan Tanjung Karang itu itu tiba2 menjadi bahan obrolan atau lebih tepatnya bullyan oleh orang lain di luar kota Palu. Kemarin saya sendiri mendapat foto itu, dari teman di Ambon yang ia sendiri entah darimana mendapatkannya. ”MANTAP” ini caption singkat yang dikirimkan di obrolan WA bersamaan dengan gambar air setinggi lutut orang dewasa itu. Teman ini pasti tidak sedang memuji gambar yang dikirimkannya itu. Bisa saja ia sengaja meledek dibalut candaan yang sarkastis. Ia meledek, koq bisa ya seperti itu?….

*****

Sejak beberapa tahun terakhir ini, pemerintah keukeuh menata drainase dalam kota. Untuk yang ini bisa kita rasakan dan lihat sendiri. Bagaimana drainase di ruas jalan utama diperbaiki, dibuat lebih dalam. Di atasnya dibuat menarik dan terlihat artistik. Di ruas jalan Sutomo, bahkan dibuatkan bangku sehingga pejalan kaki bisa melepas penat di atas bangku2 mungil itu. Upaya perbaikan itu bahkan terus berjalan sejak beberapa tahun lalu hingga hingga hari ini. Saat ini kita malah melihat sisa material yang berserakan secara serampangan di jalanan bahkan sudah memakan korban. Siang tadi Pak Wawali Sigit Purnomo Said sudah me-warning kontraktor untuk membersihkan material yang berserakan di badan jalan – harus bersih setidaknya hingga seminggu kedepan. Karena selain mengganggu estetika kota juga membahayakan pengendara khsusunya pada malam hari. (korbannya sudah ada). Melihat keseriusan pemerintah menata kota, khususnya drainase maka tidak adil jika genangan air di jalan Tanjung Karang itu kesalahannya dialamatkan ke pemerintah kota.

****

Kita mungkin pernah atau sering melihat beberapa kerabat kita seenaknya menjadikan drainase sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. kita bahkan terlalu sering melihat orang membuang atau membakar sampah di dalam got. Sesuatu yang mestinya tidak perlu dilakukan. Alih alih membersihkan atau mengangkat sampah dari dalam, kita malah dengan sangat nyaman menjadikannya sebagai tempat pembuangan akhir. Perlu dicatat, drainase yang lebar dan dalam, itu adanya di Jalan Basuki Rahmat dan Jln Tanjung Karang yang saat ini airnya meluber kemana mana itu. Setidaknya saya pernah mencoba masuk di dalamnya saat konstruksinya sedang dalam tahap pengerjaan. Dalamnya nyaris rata dengan kepala saya. Artinya, got di ruas jalan itu, cukup lebar dan dalam. Tapi apa yang terjadi ketika hujan yang tak sampai sejam, air tidak mengalir melalui kanal yang ada. Air justru merembes dan berebut keluar mencari jalannya sendiri. Akhirnya seperti yang terlihat perampatan Basuki Rahmat – Jalan Touwa dan I Gusti Ngurah Rai seketika akan berubah menjadi pantai, untuk hujan yang tak sampai sejam. Hempasan ”ombak” yang timbul dari dorongan kendaraan yang melaju di atasnya bahkan pernah membuat seorang ibu nyungsep di air.

***
Karena itu stop menyalahkan atau menyumpahserapahi pemerintah karena dianggap tidak tanggap atau abai terhadap kepentingan publik. Justru kebiasaan kita yang gemar menjadikan drainase sebagai tempat membuang sampah lah penyebabnya. Pemandangan yang sering terlihat adalah membuang sampah air minum kemasan dari balik kaca mobil. Beberapa hari lalu, seorang bapak bahkan nyaris terpeleset dari motor saat menghindari buangan plastik kemasan dari penumpang angkot. juga pernah ada kulit langsat dibuang dari dalam mobil dan itu di depan kantor Polda Sulteng…hahahaaa..

 

Pos terkait