Minggu, 5 April 2026
Tak Berkategori  

Arus Abd. Karim Versus AKBP (Purn) Rostin Bersaing di Dapil I

PALU EKSPRES, PALU – Setiap event pemilu selalu muncul istilah dapil (daerah pemilihan) neraka. Sebutan ini menunjukkan, tingginya intensitas persaingan di daerah pemilihan tertentu. Namun di pemilu 2019 nanti, istilah ini sepertinya tak lagi berlaku. Pasalnya, enam daerah di Sulawesi Tengah yang calegnya berjuang untuk DPRD provinsi semuanya menghuni dapil neraka. Tokoh-tokoh besar itu terdistribusi secara merata di enam dapil di Sulawesi Tengah. Mereka dikenal mempunyai basis dan rekam jejak yang kuat di masyarakat. Sebut misalnya, Ketua DPW Golkar Sulteng, Arus Abdul Karim yang akan berhadap-hadapan dengan Alimuddin Paada dari Gerindra di dapil Sulteng 1 Kota Palu. Golkar tampaknya menyadari Dapil Kota Palu adalah baromoeter politik di Sulawesi Tengah. Karena itu, kandidat yang dicalonkan adalah tokoh-tokoh populer yang sudah teruji dan mempunyai basis massa yang kuat. Selain Vera Rompas Mastura dan Iqbal A Maqqa yang berstatus petahana, terdapat pula tokoh berpengalaman Helmy D Yambas. Mantan jurnalis Kompas ini menempati nomor urut 4 setelah, Arus A Karim, Vera Mastura, Iqbal A Maqqa. Namun langkah para jawara Golkar ini bakal tak berjalan mulus. Parpol kompetitor juga mencalonkan sejumlah kader mumpuni. Gerindra misalnya, menjagokan petahana Alimuddin Paada dan Muhlis Yabi serta mantan Kepala Dinas Kesehatan yang belum lama pensiun dari PNS dr Ansyahari. Muhlis Yabi dikenal mempunyai dukungan yang kuat di tingkat akar rumput. Tak mau ketinggalan, Partai NasDem yang berambisi menambah dua kursi di DPRD provinsi menjagokan figur dengan beragam latarbelakang. Salah satunya adalah Yahdi Basma. Legislator NasDem yang migrasi dari dapil Sulteng (ST) tiga (Tolitoli-Buol) ke dapil Palu, diplot partainya di nomor urut 1. Di Dapil ST 1 tersebut, Nasdem juga menjagokan sejumlah sosok unggulan. Selain Yahdi, ada Muhammad Helmi (aktifis) Adi Pitoyo (pegiat UMKM), Fadlun (mantan birokrat) dan Rostin Tumaloto perwira pensiunan Polri serta Baso Yotolembah (mantan birokrat).

Bermodal nama-nama hebat ini, Ketua DPW NasDem Sulteng Tahmidi Lasahido merasa percaya diri mendulang suara signifikan ke parlemen. Partai Hanura yang sempat dilanda konflik internal di DPP antara kubu Oso versus Sarifudin Sudding, akhirnya bisa bernapas lega. Ini setelah KPU RI mengesahkan kubu Oso. Dengan demikian, proses pencalonan di daerah bisa dilakukan tanpa kendala. Pada pemilu kali ini, Hanura masih memercayakan kepada kader muda Erwin Lamporo. Ia dipercaya menduduki kursi nomor urut 1. Erwin yang dikenal pernah menjadi tenaga magang profesional di Jepang akan didampingi Marwan P Angku mantan Ketua KPU Kota Palu. Kemudian Ibu Abdul Rahman – istri mantan calon wakil bupati Donggala Abdul Rahman ST di nomor urut 3. Disusul urutan keempat Ibu Teti – salah seorang rohaniawan terkemuka di Kota Palu. Sedangkan PKS yang pada dua pemilu terakhir selalu mengirim 1 wakilnya di DPRD provinsi, kembali bertekad mempertahankan kursi yang sudah didudukinya selama 10 tahun tersebut. PKS mengirim wakil-wakilnya, antara lain Ketua DPW PKS hasil reshuffle Wahyudin di nomor urut 1. Diikuti Wiwik Jomiatul Rofi’ah mantan anggota DPRD Kota Palu dan calon wakil wali kota Palu, diposisi kedua. Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang pada Pemilu 2014 memperoleh 1 kursi, menjagokan tokoh mudanya, Ashar Yahya. Mantan politisi Golkar dan Gerindra ini bertekad mempertahankan 1 kursi di dapil Kota Palu yang bakal ditinggalkan koleganya Janus Rumambi yang diplot partainya menjadi caleg DPR RI. Ashar Yahya didampingi Elisa B Allo – mantan pejabat di Kabupaten Buol serta di urutan ketiga ada Andi Pridya – fungsionaris PDIP Sulteng berlatarbelakang pengusaha. Tak ketinggalan pula, Partai Indonesia Raya (Perindo. Sebagai pendatang baru, partai besutan Harry Tanoesoedibjo ini tidak mau sekadar menjadi penggembira di even akbar lima tahunan ini. Di Dapil 1, Perindo menjagokan Andi Kemal salah seorang pegiat seni di Sulawesi Tengah. Ia diikuti Daniel Tulandi serta Yani Berliana aktivis Paguyuban Toraja Kota Palu. Di urutan keempat dan Presiden Yapan – Rusman Lamakasusa. Di Kota Palu, sosok Rusman sudah sangat familiar. Ia pernah tercatat sebagai politisi PPP dan PBB. Staf pengajar Fisip Untad Dr Slamet Riyadi Cante, belum lama ini mengatakan, figur dengan rekam jejak yang bagus akan menjadi pembeda sekaligus penentu, apakah caleg tersebut dipilih atau tidak. Selain itu, kedekatan emosional kata dia akan menjadi preferensi bagi setiap orang untuk menentukan pilihannya. Karena itu kata dia, figur-figur yang populer dan mempunyai komitmen yang kuat terhadap persoalan-persoalan kerakyatan berpeluang besar memenangkan kompetisi yang ketat ini.

(kia/palu ekspres)