oleh

Opening FPPN 2016, Keceriaan yang Tidak Tuntas

PERAHU LAYAR – Lomba perayu layar tradisional tiba di tempat finish di Ajungan Nusantara dengan mengambil start di Kelurahan Mamboro – 25 September 2016. (KIA)

Arif Yahya: FPPN Jadi Trending Topik Nasional
PALU, PE – Kehadiran Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2016, seolah menjadi oase bagi warga yang haus hiburan murah. Pagelaran yang digagas sejak Hidayat- Pasha dilantik,  diharapkan tak hanya sebagai hiburan rakyat. Ada harapan besar mengiringi hajatan ini yang didalamnya menyertakan pentas budaya kolosal, sport dan kuliner beragam rasa. Karena itu, Hidayat-Sigit dengan didampingi tim pendamping, merasa perlu melakukan road show menjual FPPN 2016 ke sejumlah daerah. Salah satunya mendatangi jantung pariwisata dunia – Bali.

Harapannya,  para bule itu  menjadikan hajatan ini sebagai destinasi berikutnya. Upaya ini sebangun dan selaras dengan misi FPPN 2016 – menggemakan Kota Palu ke seantero jagat. Festival Palu Nomoni diharapkan dapat didengar di negara-negara skandinavia, Eropa Barat atau negara  Balkan tempat para bule yang gemar berburu matahari negara tropis.

Pembukaan malam kemarin yang dipusatkan di komplek tambak garam – Talise, mestinya menjadi ajang pembuktian bahwa jualan festival ke Bali, Sulbar dan Makassar tidak sekadar pelesiran tanpa makna. Untuk membuktikan itu, Palu Ekspres mengecek sejumlah spot utama FPPN 2016, khususnya di 9 stage sepanjang Pantai Talise hingga Pantai Taman Ria. Beberapa kali bolak-balik tidak menemukan ada gerombolan bule sedang menyusuri pantai sembari menyimak peta jalan atau membolak balik buku saku berisi informasi situs pariwisata Kota Palu. Satu-satunya bule yang terlihat  adalah wakil walikota Boras – Swedia, Jill Jessica Magnusson. Namun kehadiran  kehadiran Jessica hampir dipastikan bukan atas inisiatif pribadi sebagai turis lepas melainkan tamu  undangan Pemkot Palu, yang selama ini menjalin kerjasama di bidang energi alternatif.

Namun terlepas dari plus minus itu, masyarakat yang selama ini haus hiburan  tak peduli. Entah ada turis atau tidak. Dibenak warga, menikmati hiburan murah plus bisa berjualan aneka kuliner adalah peluang yang tidak boleh dilewatkan. Pemkot pun seperti yang dikemukakan  Walikota Hidayat ingin menjadikan hajatan tiga hari ini sebagai pesta rakyat dengan dampak ekonomi kepada pelaku usaha kecil menengah. Komitmen itu terlihat ketika Hidayat melarang   UPTD Parkir Dinas Perhubungan tidak mengambil kontribusi parkir. ”Biarlah itu dinikmati warga. Ini pesta rakyat,” katanya. (Palu Ekspres Selasa, 20 September 2016).

DIHADIRI RIBUAN WARGA
Keceriaan warga menyambut pesta kolosal sudah terlihat sejak siang. Polisi bahkan sudah menutup akses kendaraan menuju ke kawasan pantai Talise hingga Taman Ria sejak pukul 16.00 wita. Ribuan orang berduyun-duyun menuju spot utama. Mereka penasaran, melihat prosesi menabuh gimba dan peniupan lalove. Dua alat musik tradisional yang kini jarang dipentaskan di hadapan publik. Namun keinginan warga untuk menyaksikan panggung megah FPPN 2016, harus berbuah kekecewaan. Roundown acara yang mestinya, 19.30 wita molor hingga 21.05.

Penyebabnya menunggu kedatangan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Kekecewaan berikutnya, parade sambutan pejabat yang menyita waktu panjang. Warga juga kecewa karena hujan yang mengguyur membuat  suasana makin tidak nyaman. Idhamsyah, yang harus mengantarkan anaknya Lulubana, menari peaju, di Taman Ria mengaku kecewa, karena anaknya yang baru berusia 8 tahun baru mentas pada pukul 23.00 wita. ”Mestinya jika menyertakan anak-anak panitia bisa mendahulukan anak-anak daripada seremonial lainnya,” keluhnya.

Keluhan yang sama juga dikemukakan ibu Sarlia, yang menyuruh anaknya pulang sejak awal daripada menunggu parade pidato yang menghabiskan waktu. Hujan turun juga memaksa sejumlah anak sekolah yang kebagian meniup lalove dan penabuh gimba memilih pulang sejak awal. ”Hujan kong lambat dimulai, mendingan pulang saja,” sorak sekumpulan siswa peniup lalove. Hujan juga menggagalkan rencana menyalahkan 520 buah pelita yang berjejer dari Pantai Talise hingga Taman Ria – dengan panjang sekira 7,2 kilometer.

Di sosial media, gerutuan ”warga” sosmed tak kalah garang. Salah satu postingan yang dikemukakan pemilik akun   Rani Aulia Purnamasari berhasil mengundang 200-an komentar.

Di akun facebooknya, Aulia menulis, mewakili seluruh pemain gimba dan lalove, kami sangat merasa kecewa atas festival tadi malam, sia sia latihan 2 bulan, pulang sekolah hnya ganti baju dan langsung menuju tmpt latihan, rela kekurangan waktu untuk istirahat dan kejar”an dlm mengerjakan tugas , tapi pada hari H hanya ini yg kami dpt? , kami sangat di kecewakan !! Semoga tahun depan tdk begini lagi!,” .

Terpantau media ini, puluhan ribu pengunjung memutuskan pulang saat Walikota baru saja memulai sambutannya sebab acara inti yang dinantikan tak kunjung tampil. Bersamaan dengan itu pula hujan juga mulai mengguyur lokasi kegiatan. “Lebih baik kita pulang saja, soalnya tempat parkir motor jauh sekali baru pemukulan gimba dan peniupan lalove tidak jadi,”keluh seorang warga.
Keluhan pun mulai nomoni dari mulut ratusan siswa/siswi yang dipersiapkan untuk menabuh gimba dan meniup lalove. Kehadiran siswa/siswi ini mulai terlihat bahkan sejak sore hari. Jumlahnya sekira 700 orang lebih. Pasalnya, hingga pukul 23.00 kode untuk memulai atraksi tersebut tak kunjung terlihat.

Meski dalam guyuran hujan, prosesi acara pembukaan lainnya tetap berjalan. Menteri Pariwisata RI Arief Yahya dan Gubernur Sulteng turut membacakan sambutan. Usai sambutan-sambutan, lokasi kegiatan kemudian digeser ke lokasi anjungan nusantara. Disana, rombongan Menteri dan Gubernur disambut dengan tarian tradisi penyambutan, peaju. Ratusan siswa-siswi yang dipersiapkan sebagai penari sambutan terlihat masih tetap bersemangat menyambut rombongan.

Sementara itu, Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia Arif Yahya menetapkan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) untuk tahun 2017 mendatang sebagai event berskala Nasional. Menurutnya FPPN adalah sebuah upaya pelestarian budaya lokal yang dipersiapkan untuk menunjang pengembangan pariwisata Kota Palu secara khusus dan pariwisata Indonesia secara umum. Menpar mengatakan, sejak di launcing pada 20 Juni lalu di Jakarta, FPPN telah banyak dikenal bukan hanya secara nasional namun juga internasional. Secara nasional event tersebut ungkap Menpar telah menjadi pembicaraan hangat publik belakangan ini. Alasan tersebutlah kata Menpar yang menjadi pertimbangan utama untuk menetapkan FPPN layak ditetapkan sebagai event nasional. “Sejak diluncukan Juni lalu FPPN sebenarnya sudah mendunia dan sekarang menjadi trending topik. Karena itu saya memutuskan menjadikan Palu Nomoni sebagai event Nasional,” kata Menpar.

Menpar mengapresiasi upaya Pemkot Palu tersebut. Dia pun berharap penyelenggarakan even itu dalam menyambut hut Kota Palu itu terus dikembangkan, bahkan jika perlu FPPN dijadikan sebagai event untuk menyambut hari pariwisata dunia yang jatuh pada tanggal 27 September.

Namun begitu Menpar menekankan sejumlah hal untuk pengembangan pariwisata. Menurutnya, ada dua hal yang harus menjadi syarat mutlak mendatangkan wisatawan dari dalam maupun ancanegara.Dua hal itu adalah sarana transportasi yang memadai dan event berskala internasional.  “Kota Palu pun kalau bisa harus menggelar event internasional sebagai kegiatan pendukung FPPN. Itu merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk menujang pariwisata,”ujarnya. Arif pun meminta Pemerintah Provinsi maupun Kota harus mengupayakan peningkatan status bandara Mutiara Sis-Aljufri. Dengan demikian Kota Palu nantinya bisa menjadi pintu masuk bagi kunjungan pariwisata di wilayah Sulteng.

“Gubernur sudah mengatakan bahwa Sulteng tahun depan akan melaksanakan tour the celebe sport dengan rute mulai dari Kabupaten Tojo una una, menuju Poso dan Parigi Moutong dan berakhir di Kota Palu. Harap Arif, rencana itu perlu didorong menjadi international event. “Kementerian PAriwisata siap mendukung kegiatan itu,”terangnya. Namun begitu lanjut Arif,  agar event Tour The Selebes nantinya dapat berjalan sukses, maka pemerintah setempat sebaiknya tidak mebatasi pesertanya hanya pada tingkat regional. Namun harus dibuka seluas-luasnya hingga manca negara.
Menpar pun mengemukakan saat gerhana matahari total beberapa bulan lalu di Palu, Indonesia mendapat penghargaan tertinggi oleh para trevel Mart sebagai Negara yang sangat kreatif menjual venomena alamnya.  Saat itu ungkap Menpar,dari sekian banyak daerah yang menjadi spot pengamatan, Sulteng terpilih menjadi daerah terbaik. “Saya berterima kasih kepada Palu. Karena Sulawesi Tengah Khususnya Kota Palu sebagai daerah yang sempurna saat menyaksikan gerhana matahari total,” demikian Menpar.(mdi)

News Feed