PALU EKSPRES, PALU– Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berhasil menekan persentase penduduk miskin di daerah ini hingga 0,32 persen.
Hal itu disampaikan Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar, Selasa (15/1/2019), di kantor BPS Sulteng.
Faisal menjelaskan, penurunan persentase penduduk miskin di Sulteng yang mencapai 0,32 persen pada kondisi September 2018 karena jumlah penduduk miskin saat itu tercatat 413,49 ribu orang atau 13,69 persen. Sementara pada kondisi Maret 2018, jumlah penduduk miskin sebanyak 420,21 ribu orang atau 14,01 persen.
Dengan demikian, jika membandingkan antara kondisi Maret 2018 dengan kondisi September 2018, terjadi penurunan penduduk miskin sebesar 6,72 ribu orang atau 0,32 persen.
Faisal menjelaskan, walau jumlah penduduk miskin di Sulteng mengalami penurunan namun angkanya masih berkutat di dua digit.
“Semoga angka penduduk miskin ini bisa satu digit seperti persentase angka kemiskinan di tingkat nasional,” ujar Faisal.
Secara umum, pada periode Maret 2010-September 2018 tingkat kemiskinan di Sulawesi Tengah mengalami penurunan baik dari sisi jumlah maupun persentasenya, namun sejak 2015 tingkat kemiskinan tersebut menunjukkan fluktuasi yang cenderung meningkat. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin terutama dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok seperti beras, ikan, telur, gula, dan mie instan. Sementara untuk kebutuhan non pokok, dipicu tingginya konsumsi rokok di kalangan penduduk miskin.
Sementara itu, Kepala Bidang Statistik Sosial Muhammad Wahyu Yulianto mengatakan, pendataan penduduk miskin yang dilakukan oleh BPS dilaksanakan sebanyak dua kali selama setahun, yakni pada Bulan Maret dan September. Adapun pendataan untuk periode September 2018, dilaksanakan per tanggal 3 hingga 23 September 2018. Sehingga, angka penduduk miskin Sulteng untuk bulan September 2018 ini, kondisinya menggambarkan sebelum bencana gempabumi, tsunami dan likuefaksi yang melanda tiga kabupaten/kota pada 28 September 2018.
“Lain lagi kondisinya (jumlah penduduk miskin) setelah gempa karena biar bagaimanapun, bencana tersebut cukup berpengaruh terhadap kondisi kemiskinan di daerah ini. Karena pastinya, ada warga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana,” kata Wahyu.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan BPS katanya, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 10,15 persen, turun menjadi 9,50 persen pada September2018. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2018 sebesar 15,51 persen, turun menjadi 15,41 persen pada September 2018.
Adapun jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan selama periode Maret 2018 hingga September 2018, turun sebanyak 1,19 ribu orang dari
85,03 ribu orang pada Maret 2018 menjadi 83,84 ribu orang pada September 2018. Sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 5,53 ribu orang dari 335,18 ribu orang pada Maret 2018 menjadi 329,65 ribu orang pada September 2018.
Wahyu menjelaskan, peranan komoditi makanan terhadap naiknya angka penduduk miskin jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
“Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap angka penduduk miskin di perkotaan maupun di perdesaan, adalah beras, rokok kretek filter, tongkol/tuna/cakalang, kue basah, gula pasir, telur ayam ras, cabe rawit, mie instan, dan kue kering/biskuit. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan yang besar pengaruhnya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi,” ungkapnya.
(fit/palu ekspres)
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah
September 2017-September 2018
Daerah/Tahun Jumlah Penduduk Miskin (Ribu orang) Persentase
Perkotaan
September 2017 81,56 10,39
Maret 2018 85,03 10,15
September 2018 83,84 9,50
Perdesaan
September 2017 341,72 15,59
Maret 2018 335,18 15,51
September 2018 329,65 15,41
Total
September 2017 423,27 14,22
Maret 2018 420,21 14,01
September 2018 413,49 13,69
Sumber Diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Sussenas)






