Heboh Grace Natali Dukung LGBT, Hingga Doa yang Diralat

  • Whatsapp

PALU EKSPRES, JAKARTA– Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali bikin geger. Kali ini gegeran itu dipicu oleh dua spanduk provokatif, bergambar Ketua umum PSI Grace Natalie dan Sekjennya Raja Juli Antoni. Plus logo partai dan tulisan ‘Hargai Hak-Hak LGBT’ (Lesbian Gay Homoseksual dan Transgender).

Dua spanduk berlatar belakang putih itu di pasang di sekitar Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di Jalan KH. Abdullah Syafei dicopot. Sepanduk itu diamankan oleh Panwaslu Kecamatan Tebet, Satpol PP, dan Muspika Tebet, Jakarta Selatan.

Bacaan Lainnya

Kepala Satpol PP Jakarta Selatan Ujang Hermawan mengatakan, dua sepanduk itu diturunkan bersama sejumlah pengurus PSI. Menurutnya, pihak PSI merasa tidak memasang dua buah spanduk dukungan terhadap kalangan LGBT.

Atas kejadian itu, kata Ujang, PSI akan melaporkan ke polisi atas oknum yg memasang spanduk tersebut. “Spanduk yang diturunkan oleh warga sekitar 2 buah. Warga setempat memang menolak adanya sepanduk itu,” ungkapnya, Jumat (1/2/2019).

Untuk mengantisipasi spanduk provokatif itu, dirinya memerintahkan kepada jajaran Satpol PP Kecamatan untuk berkordinasi dangan Camat dan Lurah serta PPK, PPS dan Panwaslu Kecamatan/Kelurahan untuk segera mencopot bila ada spanduk serupa.

“Saya pun melakukan komunikasi dengan Kesbangpol Jakarta Selatan untuk masalah ini,” kata dia.

Terpisah, Camat Tebet, Mahludin menegaskan, masyarakatnya menolak dengan keberadaan sepanduk itu. Warga setempat pun meminta agar mencopot spanduk dukungan PSI yang mendukung hak-hak LGBT.

Menurutnya, saat berdialog dengan sejumlah pengurus PSI, spanduk itu bukan dipasang oleh pengurus. Melainkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kemudian, pengurus PSI sudah melayangkan surat kepada Bawaslu terkait spanduk yang sudah merugikan nama partainya.

“Itu bukan dipasang oleh partainya, katanya. Warga setempat juga menolak ada spanduk semacam itu,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PSI Sumardy mendatangi Bareskrim Mabes Polri, hari ini, Kamis (31/1/2019). Ia melapor terkait spanduk yang mencatut nama dan gambar ketua umum Grace Natalie, dan sekretaris jenderal Raja Juli Antoni.

Adapun spanduk itu bertuliskan ‘Hargai Hak-hak LGBT’. Spanduk tersebut terpasang di sejumlah lokasi di Jakarta. Seperti di Otista, Permata Hijau, dan JPO Tebet.

Sumardy mengatakan, spanduk itu terbilang abal-abal karena bukan PSI yang mencetak dan memasangnya. Hal ini bisa dilihat dengan penulisan nama Grace yang salah. Seharusnya nama belakang Grace adalah Natalie, namun di spanduk itu tertulis Natali.

“Nama ketumnya saja salah, nulisnya Grace Natali,” imbuhnya.

Kemudian font yang digunakan berbeda dengan yang biasa pihaknya gunakan. “Itu bisa dibuktikan dari kami banyak cetak spanduk calon-calon kami, font-nya berbeda,” ujar Sumardy di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Keberadaan spanduk tersebut pun, katanya, merugikan PSI. Untuk itu, pihaknya membuat aduan ke polisi. Ada dua laporan, pertama terkait pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong. Laporan kedua penyebaran berita bohong melalui media Twitter yakni, akun @dppFSI dan @LembagaF.

“Ada dua akun yang kami laporkan, bagaimana spanduk itu disebarkan melalui Twitter. Jadi ada dua laporan,” sebut Sumardy.

Dalam laporan bernomor LP/B/0136/I/2019/Bareskrim dan LP/B/0135/I/2019/Bareskrim itu, disertakan pula barang bukti berupa spanduk dan print out dari dua akun Twitter.

Lebih lanjut Sumardy menduga, keberadaan spanduk abal-abal itu bentuk ketakutan sejumlah pihak akan sepak terjang PSI. “Kami elektabilitasnya semakin meningkat dan hampir masuk Senayan,” tukasnya.

Terpisah Sekjen PSI Raja Juli Antoni juga ikut membantah itu spanduk resmi. Dia menduga ada serangan sistematis oleh kelompok politik yang terganggu dengan PSI.

“Perlu kami tegaskan bahwa, spanduk dan baliho itu bukan dibuat oleh PSI, kita akan ke Bawaslu dan polisi,” ujar Antoni.

Namun, hingga saat ini belum jelas siapakah yang memasng spanduk itu. Pihak kepolisan pun belum memberikan keterangan terkait kasus tersebut. Bahkan tidak sedikit warganet sejumlah politikus, menduga bahwa spanduk itu salah satu trick lama agar dapat perhatian publik.

“Ya biasa bisa saja playing victim, biar berasa didzalimi, namanya juga politik. Buktinya belum jelas siapa terlapornya dan siapa yang masang,” ujar politikus Senayan yang tak ingin disebutkan namanya itu.

Sementara itu pihak Bawaslu sudah menegaskan bahwa laporan yang dibuat PSI kurang lengkap dan ditolak. Pernyataan mengenai ditolaknya laporan itu disampaikan Kuasa Hukum sekaligus kader PSI Anthony Winza usai mendampingi Wakil Ketua DPW PSI DKI Rian Ernest dalam pelaporan kasus itu kepada Bawaslu DKI.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya sudah mencoba memenuhi persyaratan yang dibutuhkan terkait pelaporan. Namun saat ini belum ada pihak yang menjadi terlapor, sehingga pelaporan pun kurang kuat.

“Kami sudah mencoba untuk memenuhi persyaratan, tapi memang sayangnya terlapornya itu belum ada,” ujar Anthony, saat ditemui di Kantor Bawaslu DKI, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (31/1/2019).

Lebih lanjut Anthony juga mengaku, Bawaslu memberikan waktu hingga Senin agar pihaknya bisa melengkapi bukti dalam pelaporan tersebut.

“Kami sudah membuat laporan formal, tapi persyaratan formalitasnya masih kurang dan kami diberi waktu sampai hari Senin,” jelas Anthony.

Usai geger Grace Natali, publik juga kemudian sempat diramaikan dengan polemik Menkominfo Rudiantara yang sempat mengeluarkan pernyataan “Yang gaji kamu siapa?” kepada anak buahnya di Kemenkominfo, lantara si ASN perempuan itu sempat berbicara soal pilpres.

Namun, yang paling menggegerkan hingga akhir minggu ini adalah soal doa Kyai sepuh sekaligus tokoh NU dari zaman ke zaman, yang juga dikenal sebagai petinggi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Maimoen Zubair saat didatangi capres 01, Joko Widodo.

Dalam sebuah video 38 detik yang mendadak viral saat Kiai Maimoen Zubair alias Mbah Moen sedang memanjatkan doa. Di tayangan itu tampak Mbah Moen di tangan kanannya memegang kertas berwarna kuning.

Sementara tepat disampingnya adalah capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) bersama Ibu Negara yang tampak sedang berdoa mendengarkan doa yang disampaikan Mbah Moen.

Dalam video tersebut Mbah Moen memanjatkan doa dan menyebut sosok yang diharapkan menjadi pemimpin Indonesia mendatang. Namun doa itu bukan untuk Jokowi yang tepat berada di sampingnya. Melainkan untuk capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

“Ya Allah, hadza ar-rois hadz rois Prabowo, ij-al ya illahana (Ya Allah inilah pemimpin, inilah pemimpin Prabowo),” ujar Mbah Moen.

Polemik pun kemudian langusng bergulir, Rommy dan sejumlah timses Jokowi -Maru ramai rama ‘meralat’ doa tersebut. Wakil Ketua Umum PPP Arwani Thomafi meminta untu pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menghentikan kebiasaan potong video dan framing yang keluar konteks.

Menurut Arwani, video tersebut harus dilihat secara utuh. Tidak bisa dibaca hanya satu video saja. Di video ada yang mem-framing sebagai doa untuk Pak Prabowo semestinya melihat secara utuh.

“?Beliau menyebut jelas ‘hadza rois (presiden ini) dan mendoakan untuk menjadi presiden kedua kalinya (marrah tsaniyah)”. Jelas di sini, siapa yang dimaksud menjadi presiden kedua kalinya, tentu merujuk Pak Jokowi.

Beliau saat ini menjadi presiden di periode pertama. Kecuali doanya “menjadi capres kedua kali”, itu tentu ditujukan ke Pak Prabowo,” ujar Arwani kepada JawaPos.com, Sabtu (2/2/2019).

Arwani mengaku? ada video lain juga Mbah Moen menegaskan doanya ditujukan untuk Jokowi. Sehingga isi dari doa itu agar jadi presiden kedua kali itu untuk Jokowi bahkan ditegaskan dua kali dengan menyebut Jokowi.

Ketum PPP Rommy kemudian membuat vlog bersama Mbah Moen, dan Jokowi. Dalam vlog yang berdurasi satu menit ini, Rommy menanyakan kepada Mbah Moen pesan yang ingin dia sampaikan kepada para santri.

“Ya pasti. Saya sampaikan supaya bisa santri-santri itu ikut kiai. Jadi, Pak Jokowi orang Jawa dan Islam. Dan saya yakin ini akan menjadi besarnya Islam, dan besarnya kemakmuran bangsa,” ujar Mbah Moen menjawab pertanyaan Rommy.

Mbah Moen pun memerintahkan para santri mendukung Jokowi dan Ma’ruf Amin di pilpres 2019 ini, sama seperti dirinya. “?Ya, harus ikut saya. Ya Pak Jokowi, siapa lagi? Yang bersama saya ya Pak Jokowi ini,” katanya.

Soal viralnya video mbah Moen itu, Rommy mengakui itu hanya salah ucap. Terbukti, pada video kedua, Mbah Moen menegaskan yang ia doakan menjadi presiden adalah Jokowi.

Menanggapi hal itu, cucu Mbah Moen, Rojih Ubab Maimoen angkat suara. Dia menilai seharusnya masyarakat melihat utuh doa yang diucapkan kakeknya, supaya tidak terjadi salah paham. Dia menegaskan, sebetulnya doa tersebut ditujukan untuk Jokowi.

“Tidak harus menjadi polemik jika semua orang melihat secara utuh doa yang disampaikan Mbah Moen,” ujar Gus Rojih sapaan akrabnya, melalui keterangan tertulis, Sabtu (2/2/2019).

Sementara itu terkait langkah Ketua Umum PPP, Romahurmuziy atau Rommy yang memberi tahu Mbah Moen atas kesalahannya pun dianggap bukan hal yang keliru. Gus Rojih menilai wajar karena dikhawatirkan doa sebelumnya itu akan dipolitisasi sedemikian rupa.

“Langkah Gus Rommy menyampaikan kepada Mbah Moen juga tidak melanggar kesopanan. Justru ini menjaga kehormatan Mbah Moen di depan tamunya yaitu Pak Jokowi,” sambungnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa seorang kiai selalu punya tradisi mendoakan anak-anaknya. Apalagi yang menjadi pemimpin nasional.

“Orang tua itu mendoakan anak-anaknya yang nakal agar baik. Orang tua seperti itu,” kata Hasto di Gedung Joang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (3/2/2019).

Hasto memastikan bahwa Mbah Moen pasti memberikan dukungan sepenuhnya kepada Jokowi. Sebab kepemimpinan Jokowi terbukti untuk rakyat. Apalagi anak Mbah Moen, Gus Yasin, kini menjadi wakil gubernur Jawa Tengah.

“Gus Yasin menjadi wakil gubernur karena dicalonkan oleh PDI Perjuangan,” ucap Hasto.

Terkait dengan Romahurmuzy, Ketum PPP yang terkesan panik sampai menyampaikan koreksi doa Mbah Moen, Hasto menjawab itu karena yang bersangkutan bersemangat memenangkan Jokowi.

Di lain pihak, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais angkat bicara terkait tokoh Nahdlatul Ulama yang juga dikenal sebagai petinggi Partai Persatuan Pembangunan, Maimoen Zubair berdoa untuk capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Menurut Amien Rais, itu adalah takdir dari Allah SWT. Sehingga Mbah Moen -sapaan akrab Maimoen Zubair- mendoakan Prabowo. Bukan ke Joko Widodo (Jokowi).

“Iya itu Allah yang menakdirkan. Beliau engga menyebut tamunya (Jokowi). Tapi menyebut Prabowo, itu takdir,” ujar Amien Rais saat ditemui di Rumah Djuang, Jakarta, Sabtu (2/2/2019).

Mantan Ketua MPR ini juga mengaku, saat ini dukungan ke pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus saja bertambah. Sehingga dia mengaku senang banyaknya dukungan ini. “Iya pendukung makin banyak,” katanya.

Menanggapi hal itu, cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mengaku apa yang disampaikan Mbah Moeh -sapaan akrab Maimoen Zubair- tidak? perlu dibesar-besarkan. Karena tujuannya adalah mendoakan Jokowi dan juga Prabowo Subianto.

?”Enggak usah dibesar-besarkan. Buat saya wajar saja. Mungkin beliau mendoakan Pak Prabowo dan juga mendoakan Pak Jokowi. Kan dia kiai yang besar, ulama yang besar,” ujar Sandi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (2/2/2019).

Sandi juga meminta Koalisi Adil dan Makmur tidak perlu membesar-besarkan masalah itu. Begitu juga koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin tak perlu membesarkannya. Sehingga hargai saja yang diucapkan oleh Mbah Moen.

“Kan yang menguasai lidah kita Allah. Allah yang menggerakan kita dan beliau juga mendoakan Pak Jokowi selesai masalahnya,” ungkapnya.

(igm/jpc)

Pos terkait