oleh

Pemotongan Gaji Padat Karya Masih Wacana

BAKAL DIPOTONG – Pemotongan gaji peserta program padat karya tahun 2017 baru sebatas wacana.

PALU,PE- Walikota Palu Hidayat menegaskan pemotongan gaji peserta program padat karya tahun 2017 baru sebatas wacana. Pemkot menurutnya masih akan melakukan kajian mendalam terkait kemampuan anggaran daerah untuk kelanjutan program tersebut.
“Itu baru wacana, belum menjadi keputusan pemerintah,”tegas Hidayat, Jumat pekan lalu.

Menurutnya, program tersebut tetap akan menjadi prioritas apabila anggaran daerah memungkinkan. Saat ini proses asistensi dan klarifikasi seluruh program anggaran tahun 2017 masih sedang berjalan.

“Tidak mungkinlah kita hilangkan, itu tetap akan dilaksanakan. Makanya saya bilang kita lihat kemampuan daerah dulu,”sebutnya.
Hidayat menggambarkan, dalam proses klarfikasi dan asistensi anggaran yang sedang berjalan saat ini, kemungkinan besar ada pemangkasan anggaran pada sejumlah program anggaran ditingkat SKPD.

Pemangkasan menurut Hidayat dilakukan untuk selanjutnya dialihkan pada program anggaran peningkatan fisik jalan-jalan lingkungan di Kota Palu yang selama ini tidak pernah tercover dalam APBD.

Itu lantaran dana alokasi khusus (DAK) infrastruktur jalan yang bersumber dari APBN tidak dapat diperuntukkan bagi peningkatan jalan lingkungan. DAK hanya bisa digunakan untuk jalan kota, provinsi dan nasional.

“Kondisi jalan lingkungan di Kota Palu saat ini sudah banyak yang rusak. Masyarakat sudah teriak-teriak. Makanya tahun ini kita akan mengalihkan sejumlah anggaran untuk peningkatan jalan lingkungan ini,”pungkasnya.

Wacana pemotongan gaji padat karya ini santer terdengar dikalangan peserta padat karya, meski belum ada keterangan resmi dari Pemkot Palu.

Bahwa gaji bulanan peserta tahun 2017 nanti diwacanakan turun menjadi Rp250ribu perbulan dari sebelumnya sebesar Rp500ribu. Anggaran yang diplot untuk program itupun kemungkinan besar tinggal sebesar Rp13,8miliar dari sebelumnya Rp36miliar lebih sesuai dengan  jumlah peserta padat karya yang saat ini tersisah 4.609 peserta.

“Informasi yang kami terima begitu. Jadi gaji kami dikurangi menjadi 250ribu perbulan. Namun katanya hari kerjanya juga dikurangi dari seminggu menjadi dua hari yakni Sabtu dan Minggu,”kata seorang peserta padat karya yang tak ingin namanya termuat dalam berita.

Menurut sumber ini, selain hari kerja dan gaji padat karya, teknis kerja juga diwacanakan tidak lagi membersihkan rumput liar dan sampah yang berada di pingiran jalan. Peserta menurut sumber akan diarahkan membersihkan rumah-rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya dimasing-masing kelurahan.

“Jadi kabar yang kami terima jam kerja tetap 3 jam dalam sehari untuk Sabtu dan Minggu.  Katanya agar kami bisa menggunakan lima hari lainnya untuk fokus pada pekerjaan utama,”ungkap sumber.(mdi)

News Feed