Minggu, 5 April 2026
Palu  

 Saat Sekolah Kejuruan di Palu Menjawab Keresahan Tenaga Medis

PALU EKSPRES, PALU – Pandemi virus korona telah memicu kecemasan  publik global. Di Indonesia, tenaga medis  kewalahan menangani pasien yang bertambah saban hari. Kurangnya dukungan perlengkapan yamg memadai bagi para dokter dan tenaga medis, telah menimbulkan keresahan di kalangan dokter dan perawat. Meninggalnya beberapa dokter yang menangani pasien korona di beberapa wilayah di Indonesia disebut-sebut karena terpapar virus akibat minimnya perlengkapan alat pelindung.  

Di Sulawesi Tengah, keresahan para dokter dan tenaga medis, setidaknya  mulai teratasi. Dua sekolah kejuruan hadir untuk menjawab kegalauan para dokter itu.  SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 5 Palu, sejak jumat pekan lalu, dipercaya untuk memproduksi alat pelindung diri yang akan didistribusikan bagi para tenaga medis di rumah sakit rujukan covid 19 di Sulawesi Tengah.

Hj Raja Pattah adalah salah satu tenaga pengajar di SMK Negeri 5 Palu kepada wartawan mengatakan, mereka mendapatkan order dari RSUD Undata Palu – sebagai salah satu rumah sakit rujukan Covid 19 untuk membuat APD. Sekolahnya ungkap Raja Pattah, mendapat order pembuatan APD sebanyak 200 buah. Di Palu ada dua sekolah yang mendapatkan order serupa. Satu lagi adalah SMK 1 Negeri Palu (dulu SMKK) mendapat order dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlahnya pun sama, 200 buah.

Tak semua tokoh kain di Palu, menjual kain jenis spunbond untuk APD. Menurut Raja Pattah, hanya satu toko yang menjual kain tersebut, itu bukan toko kain melainkan toko yang menjual alat tulis kantor. Saat mendapat order dari rumah sakit, ia langsung bergerilya mencari kain yang sesuai dengan spesifik dari pihak rumah sakit. Ia pun mulai berfikir untuk melakukan order khusus jika tidak ada toko di Palu yang menjualnya. Baginya ungkap Raja Pattah, keterlibatannya dalam pembuatan baju pelindung tak sekadar soal hitungan bisnis. Di atas itu, ia dan rekan rekannya ingin berkontribusi dalam penanganan virus ganas ini. ”Saya sebagai tenaga pendidik juga penjahit, ingin berkontribusi dalam penanganan virus corona. Mungkin inilah yang bisa kami lakukan,” katanya bersemangat.

Di SMK Negeri 5 Palu, total ada 7 tenaga kerja yang terlibat pembuatan baju khusus dokter ini. Terbagi dalam dua tugas.  Lima orang untuk menjahit dan dua orang khusus memotong. Upahnya pun berbeda. Dengan biaya jahit Rp15 ribu per potong, setiap penjahit akan mendapat upah Rp10 ribu per potong dan bagian pengguntingan Rp5 ribu per potong. Umumnya yang terlibat adalah para guru, satu orang pegawai kontrak dan seorang lagi alumni di SMK Negeri 5 Palu.  Beberapa penjahit yang dimintai komentarnya  mengaku, keterlibatan mereka pada proyek ini tak semata soal honor. Tapi bagaimana sekolah kejuruan  berkontribusi pada isu isu kemanusiaan salah satunya adalah penanganan wabah korona tersebut. 

Kenapa harus kain spunbond? Menurut Raja Pattah yang bertanggungjawab sebagai koordinator proyek ini, kain jenis ini sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh pihak RS Undata.   Kain spunbond menurut dia, tidak tidak banyak tersedia di toko kain di Kota Palu. Pasalnya, peruntukannya masih terbatas untuk properti tertentu.  Kain spunbond adalah bahan kain yang biasa digunakan untuk menggantikan plastik dan kertas yang sering digunakan untuk shooping bag, goodie bag dan souvenir. Bahan spunbond merupakan bahan yang higienis. Karena itulah digunakan dalam dunia kesehatan. Baik untuk pembuatan masker, tutup kepala dan pampers. Lanjut dikatakannya, pemilihan kain ini didasarkan pada sifatnya yang ramah lingkungan karena bahan ini bisa untuk di daur ulang. Bahkan penggunakan bahan ini sebagai tas belanja sudah sangat popular dikarenakan penggunaan plastik sudah mulai dibatasi.

Sejatinya SMK 5 adalah sekolah kejuruan khusus untuk kerajinan rotan. Sekolah ini oleh penggagasnya mantan Wali Kota Palu Rusdi Mastura diproyeksikan sebagai pusat kegiatan kerajinan rotan di Sulawesi Tengah bahkan Indonesia. Dalam perjalanannya, tak hanya membuka jurusan kerajinan rotan tapi juga ada kerajinan sablon dan menjahit. Seperti yang dikemukakan Raja Pattajh, salah satu staf pengajar di sekolah ini, sekolahnya sangat bangga ikut berkontribusi dalam penanganan virus yang kini telah menjadi pandemi global. ”SMK Bisa,” tutupnya. (kia/palu ekspres)