Oleh MHD. Natsir*
PADA pinsipnya pendidikan merupakan upaya untuk mendewasakan peserta didik. Dewasa dalam pengertian meningkat pengetahuannya, berubah sikapnya menjadi lebih baik dan memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan. Pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, tidak hanya fokus pada peningkatan kognitif, tetapi melupakan kemampuan afektif dan psikomotoriknya. Sehingga hasil akhir dari pendidikan yang mendewasakan adalah lahirnya peserta didik yang mampu mewujudkan ilmu yang sudah diperoleh bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat sekitar. Bukan hanya dewasa “casingnya” tetapi balita kualitasnya.
Hal ini perlu menjadi perhatian, mengingat sampai saat ini pembelajaran daring yang sedang berlangsung terkesan lebih banyak mengisi ruang kognitif peserta didik dan belum maksimal dalam memberikan bimbingan pada peningkatan kemampuan afektif dan psikomotoriknya. Padahal membangun aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang dan berkesinambungan adalah nilai pendidikan yang paling tinggi.
Untuk mewujudkan pendidikan yang mendewasakan, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama, pertama dalam pendidikan yang mendewasakan guru berperan sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator tugas pendidik adalah menciptakan berbagai aktivitas yang dapat memotivasi peserta didik untuk terlibat langsung dalam keseluruhan proses pendidikan. Menggabungkan berbagai unsur pokok dari penyelenggaraan pendidikan agar proses belajar menjadi efektif melalui proses interaksi antar peserta didik dan pendidiknya.
Kedua, Pendidik memiliki peran yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas kompetensi peserta didiknya. Pendidik harus mampu mengembangkan potensi diri peserta didik melalui pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu adanya program-program pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas peserta didik.
Ketiga, menghargai beragamnya potensi yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Karena peserta didik bukanlah manusia yang tidak memiliki pengalaman sama sekali. Terkadang mereka lebih menguasai sesuatu dibanding pendidiknya itu sendiri. Dalam hal inilah konsep guru yang murid dan murid yang guru berlaku. Guru bisa saja dapat pengetahuan baru dari siswa, tanpa dia harus merasa rendah diri.
Keempat, membangun proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered active learning) dengan sifat pembelajaran yang kontekstual. Artinya peserta didik diminta secara mandiri untuk aktif melakukan pembelajaran yang sesuai dengan fakta-fakta yang ada wujudnya, sehingga mampu mempertanggungjawabkan setiap materi yang dipresentasikan. Ini menunjukkan adanya pendewasaan dalam berpikir dan bersikap, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengekplorasi kemampuan yang dimilikinya.
Memang tidaklah mudah untuk mewujudkan pendidikan yang mendewasakan pola pikir dan juga pola sikap peserta didik. Beberapa kenyataan menunjukkan bahwa meskipun sudah menyelesaikan pendidikannya, masih banyak peserta didik tersebut yang belum menunjukkan sikap-sikap yang dewasa. Mereka belum mampu mewujudkan ilmu yang diperoleh untuk bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Oleh sebab itu, pendidikan yang mampu mendewasakan peserta didik harus menjadi perhatian. Meskipun dalam suasana pandemi dan belajar dengan sistem daring. Melalui pendidikan yang mendewasakan, peserta didik dapat tumbuh dan berkembang sempurna. Sehingga dapat melaksanakan tugasnya sebagai manusia dan mampu menciptakan suatu karya yang gemilang. mengangkat manusia menjadi pemimpin dimuka bumi ini dengan tugas dan tanggung jawab memakmurkan kehidupan dan memelihara lingkungan.
Agar terwujud pendidikan yang mendewasakan, maka dalam setiap proses pendidikan harus bisa mengembangkan empat potensi yang ada pada diri manusia. Pertama adalah potensi hati, artinya pendidikan haruslah mampu mengembangkan kemampuan hati manusia, kemampuan untuk berempati dan peduli pada makhluk lainnya. Hati manusia yang tidak peduli dengan makhluk lainnya akan bersikap seperti hewan. Begitu banyak contoh manusia yang tidak peduli dengan orang susah, meskipun cerdas tetapi tidak memberikan rmanfaat bagi orang lain. Bahkan sebaliknya kecerdasan tersebut digunakan untuk korupsi dan mengambil hak-hak orang lain. Karenanya pendidikan harus mampu meningkatkan rasa peduli manusia terhadap sesama dan makhluk yang lainnya.
Kedua adalah potensi kemampuan jasmani manusia. Manusia memiliki kemampuan fisik yang mengalahkan kemampuan makhluk yang lainnya di muka bumi ini. Meskipun manusia terlahir dalam keadaan lemah, tetapi manusia bisa berjalan dan berlari melebihi kecepatan kuda. Bisa terbang tinggi melebihi burung. Dengan kemampuan yang terasah, maka manusia bisa menyelesaikan masalahnya. Oleh sebab itu kemampuan manusia harus dikembangkan dengan pendidikan. Pendidikan yang baik akan membantu manusia untuk menyempurnakan kemampuan yang dimilikinya.
Ketiga potensi akal fikiran manusia. Manusia diberikan Allah SWT akal fikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Akal fikiran manusia haruslah dikembangkan kemampuannya dengan proses pendidikan yang baik. Manusia akan menjadi lebih baik, apabila mampu menggunakan akal fikirannya untuk kemaslahataan ummat. Berfungsinya akal fikiran manusia untuk jalan kebaikan akan memudahkannya menuju predikat manusia paripurna.
Keempat adalah potensi kemampuan spiritual. Potensi ini menjadikan manusia sadar bahwa dia adalah makhluk yang akan menjadi lebih baik dan sempurna ketika bisa dekat dengan Tuhannya. Kemampuan hati, jasmani, dan akal yang baik tidak berarti apa-apa apabila kemampuan spiritual terabaikan. Karena kemampuan spiritual yang baik akan memandu manusia untuk berperilaku yang baik. Sehingga berimbas pada pembentukan karakter manusia itu sendiri.
Semoga saja dengan menjalankan proses pendidikan yang mendewasakan, kita bisa mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik untuk bisa menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya. Manusia yang tidak hanya dewasa secara fisik, tetapi juga kemampuan berfikirnya, sikapnya dan kemampuannya untuk memberikan manfaat kepada lingkungan sekitarnya. ***
*Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang






