World Without Agriculture (Dunia Tanpa Pertanian)

  • Whatsapp
Nur Sangadji. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

SAYA ingat satu ketika, saat diundang ceramah oleh mahasiswa kedokteran Universitas Tadulako. Saya berkelakar sambil memperkenalkan diri sebagai petani. Saya bilang begini ; “No Farmers. No Agriculture. No Food. No Living”. Jadi, tanpa petani, kamu bisa apa ? Adik-adik mahasiswa kedokteran ini menyela. Tanpa fakultas kedokteran, tidak ada dokter. Tanpa dokter, siapa yang urus kesehatan orang ?

Bacaan Lainnya

Saya bilang, (tetap dalam suasana berkelakar), masih ada dukter. Mereka balik tanya, apa itu dukter..? Saya jawab, dukun terlatih. Artinya, masih ada alternatif. Tapi dunia pertanian, tidak ada alternatifnya. Karena, kita tidak akan pernah bisa membuat makanan dari plastik. Tentu, sesuatu yang tidak mungkin.


Kelakar ini saya jadikan pembuka artikel ini. Untuk menandaskan bahwa tanpa pertanian, kehidupan berhenti. Beralasan untuk kuatir, karena baru-baru ini ada kabar resmi. Datang dari situs ofisial Bappenas RI. Dalam situs itu, ada rilis berita yang sangat menghebohkan dunia pertanian. Bappenas memprediksi, pada tahun 2063, tidak akan ada lagi petani di Indonesia. Ini mengejutkan, tapi pasti bukan tanpa alasan.

Apriori, saya pikir mereka berhipotesis berdasarkan angka presentasi alih usaha petani pada sektor usaha lainnya. Atau angka alih fungsi lahan pertanian ke lahan peruntukan lain. Tulisan ini tidak hendak mendebat angka-angka rasionya. Hanya, mengikuti logika dan menyoal akibatnya.

Pada tahun 1973 total petani Indonesia sebesar 65,40 persen. Pada tahun 1990 jumlah petani tinggal 28 persen. Jadi, bila trendnya linier maka diduga pada tahun 2063, tidak ada lagi petani. Logikanya sederhana saja. Membandingkan tahun dan presentasenya. Ditemukan angka 1,80 an persen per tahun petani kita beralih usaha. Maka, kita butuh waktu 28/1,8 sama dengan 33 tahun. Sekarang tahun 2021, maka 33 tahun kemudian adalah 2054. Indonesia tidak lagi punya petani. 9 tahun lebih cepat dari prediksi Bappenas.


Kita menyebutnya Patani. Di negara lain ada sejumlah istilah untuknya. Ada “peasant”, “farmer” dan “agriculturist”. Selain kosa kata Petani, ada diksi lain yang juga populer. Agribussinesman dan Pelaku Agro-Industri, kedua kosa kata terakhir apakah termasuk (kelompok yang boleh) disebut petani juga?.

Terlepas dari benar salahnya, kita bisa melihat dari sisi yang lain. Terdapat petani yang benar-benar bertani meski tidak memiliki lahan. Ada juga petani yang benar-benar bertani tapi lahannya sempit di bawah 0.2 Ha. Bahkan, ada juga petani yang ikut kerja bertani di lahan orang lain. Selain itu, ada yang benar-benar petani, mempunyai lahan di atas 0.2 Ha dan juga menjual hasil pertaniannya sendiri. Ada juga orang yang tinggal di desa, tidak bertani tetapi menjual hasil pertanian. Sebaliknya, ada orang tinggal di kota, tapi memodali orang desa bertani.

Apapun kategori dan status petani tersebut, mereka semua berkontribusi menyediakan pangan untuk kehidupan. Tanpa mereka, ketersediaan pangan tidak dapat menjangkau konsumen. Petani yang memproduksi dan pedagang atau distributor yang membagi, menjadi satu kesatuan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. Yaitu, produksi, distribusi dan konsumsi.


Saat ini, dan atau bahkan sejak dahulu. Nasibnya para petani selalu tidak menentu. Didesak dari dalam maupun dari luar. Jumlah keturunan dan pembagian warisan lahan pertanian berlangsung alamiah. Rasio lahan perkapita mengecil dengan sendirinya. Lahan yang sudah kecil itu, dengan mudah dilepas untuk kebutuhan mendesak. Paling sering, saat menikahkan anak.

Mereka yang tetap bertahan boleh jadi terpaksa karena tidak ada alternatif lain. Itulah sebabnya, begitu ada peluang alih profesi secara instan. Langsung ditangkap. Terutama, tawaran dari sektor extraktif seperti pertambangan dan perkebunan skala besar. Mereka, tinggalkan profesi sebagai petani. Beralih profesi, bahkan untuk status sebagai satpam. Maka, beralasan bila Bappenas mengingatkan bahaya hilangnya profesi pertanian di Indonesia tahun 1963. Janganlah. ***

Pos terkait