Senin, 6 April 2026

Palu Untuk Keputusan Yang Sah

Muhd Nur Sangadji/ foto: Ist/PaluEkspres

Nah, keputusan tentang dimana ditetapkan, akan menggunakan Palu. Menetapkan Manado, Mataram, Yogya, Surabaya atau Lampung tetap menggunakan Palu. Dan, akan unik bila palu diketuk tiga kali untuk menetapkan Palu sebagai tuan rumah. Namun, dimanapun ditetapkan. Berharap, diakui. Diiklaskan. Serta, dianggap pantas oleh semua pihak.

Untuk sampai di sana, kita perlu bicara tentang kriteria penentuan yang objektif dan adil. Yaa, harus bicara ke sini karena mau tidak mau, kita terpaksa tenggelam dalam urusan kontestasi. Yaitu, memilih satu dari sekian yang mungkin. Kita bersaing multi dimensi. Tidak sekadar untuk mendapatkan yang terbaik. Ataupun yang tersiap. Tapi, juga harus yang terpenting. Pada titik inilah rumusan kriteria perlu didudukan dengan sungguh-sungguh. Konsekuensi dari sebuah kompetisi.

Saya ingat waktu Teknokrat BJ Habibie dipanggil pulang oleh pak Harto. Pemegang otoritas di Jerman terbelah dua. Mereka yang menolak, beranggapan bahwa Habibie adalah milik dunia. Maka berdomisili di Jerman pun tidak mengapa. Tapi, kelompok yang menerima, justru menggunakan alasan yang sama untuk membolehkan. Mereka bilang, justru karena Habibie itu milik dunia maka dia boleh pulang ke Indonesia. Karena di sana adalah tempat lahirnya. Dan, Indonesia sebagai negara yang belum berkembang sangat membutuhkannya. Memilih, akan selalu punya pertimbangan dan kriteria.

***
Saya pernah membaca kriteria umum dalam memilih sesuatu berkait manajemen. Pertama, secara teknis memungkinkan (technically, posible). Kedua, secara sosial diterima (socially, acceptable). Ketiga, secara ekonomi, menguntungkan (economically, profitable). Keempat, secara ekologi, berkelanjutan (ecologicaly, sustainable). Kelima, dukungan lokal, tersedia (local resources, supportable).