Senin, 6 April 2026

Palu Untuk Keputusan Yang Sah

Muhd Nur Sangadji/ foto: Ist/PaluEkspres

Tentu, bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Dan, lebih penting adalah derivasi dari kriteria umum ini. Makin mikro, makin signifikan dan mudah menemukan perbedaan pilihannya. Skor dan bobot diletakan secara adil seoptimal mungkin. Inilah upaya untuk meng-quatifikasi sesuatu kriteria yang mungkin sangat kualitatif. Ujungnya, akan muncul angka akhir yang boleh jadi sangat tipis perbedaannya.

Kalau ada empat pilihan, maka unggulkan dua yang paling siap. Selebihnya, adalah penerimaan. Di poin ini, kualitas demokrasi diukur. Dan KAHMI sebagai kumpulan para cerdik pandai harus tampil memberikan contoh. Kepada soal pilihan begini.

Saya selalu ingat Lionel Jospine. Dia adalah kandidat presiden Perancis yang kalah melawan Jaque Siraque. Beda suaranya hanya sekitar 2 persen. Tapi, Jospine tampil dalam pidato penerimaan. Dia bilang ; Jaque Siraque, “je vous Salue, parceque vous etez beacoup croyez par le peoplement” (Saya hormati anda, sebab anda lebih dipercaya oleh rakyat). Semoga hadir jiwa kenegarawanan begini di tempat kita. Tentu, prosesnya pun harus adil.

***
Jika ketetapan sudah di-palu-kan. Dimanapun tempatnya. Tahapan berikutnya adalah substansi. Kita segera berpindah dari soal kontestasi ke substansi. Ribuan kaum cerdik pandai berkumpul tidak boleh cuma sekadar pilih pemimpin. Di arena ini harus lahir ide dan gagasan hebat. Gagasan tentang kemaslahatan manusia (umat). Dan, tentang ke-Indonesian. Sebab, untuk itulah kita berhimpun.

Substansi pertama adalah cara dan proses memilih pemimpin nasional KAHMI. Biarlah, ditingkat ini kita tetap berbentuk presidium. Tapi, mereka yang terpilih harus lahir dari proses yang bersih. Dalam catatan kritisnya, profesor Siti Johra mengingat dengan sangat serius. Jangan ada tercium sedikitpun upaya tidak terpuji bernama “money politic”. Sebab, penyogok dan uang disogok, tempatnya bukan di Munas ini. Tempatnya telah disiapkan khusus oleh Allah. Tempat itu bernama, Neraka Jahanam.

Keadaban harus tercipta kembali. KAHMI harus tampil mengoreksi tabiat yang nyaris menjadi budaya ini. Cara yang paling pasif adalah memberi contoh. Dan, Munas inilah tempatnya.

Substansi selanjutnya adalah gerakan pemikiran Kahmi untuk ikut dalam agenda kemaslahatan dan peradaban umat (baca ; manusia). Baik, tingkat lokal, nasional dan global.

Saiful Rurai mengurainya dengan sangat dalam. Lalu, Salehuddin (mantan ketua HMI Sulawesi Tengah), ikut mengkompilasinya. Kemaslahatan ini sangat terkait dengan ke-Indonesian. Korupsi, Narkoba, Terorisme dan Bencana (natural disaster and social disaster or Conflic). Sering juga disebut, bencana alam dan non alam, termasuk pandemi. Inilah empat masalah besar kita dan dunia saat ini. Dia memberikan dampak serius pada keselamatan generasi dan negeri. Sayang, bila kita lalai membicarakannya. Janganlah.***

(Penulis adalah Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)