oleh

Atjo : SII Jawaban Hadapi MEA dan Bonus Demografi

ANTUSIAS. Salah satu Duta Besar Negara sahabat didampingi isterinya meminta penjelasan detail kepada Kadis DKP Sulteng Dr Hasanuddin Atjo tentang proses pengembangan udang melalui sistem Supra Intensif ini. anitaamier/PE

Palu, PE — Sebanyak 31 peserta Tour Diplomatic Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal di Indonesia, hadir di Tambak pengembangan Udang Vanamae Supra Intensif Indonesia (SII), di Balai Benih Ikan (BBI) UPT Pembenihan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, di Mamboro Kecamatan Palu Utara, Jumat 18 September 2015. Kepada para wakil dari 25 negara sahabat itu, diperlihatkan bagaimana pengembangan udang dalam kolam kecil namun menghasilkan ribuan kilogram dalam sekali panen.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Dr Ir H Hasanuddin Atjo MP, selaku tuan rumah menjelaskan proses pemeliharaan dan pemanenan udang yang berhasil dia kembangkan melalui temuan Supra Intensif sejak tahun 2013 lalu.
Atjo mengatakan penemuan ini sangat penting. Mengingat ke depan seluruh negara diperhadapkan pada kondisi melonjaknya populasi manusia yang menyebabkan kebutuhan akan pangan semakin meningkat. Selain itu, negara Asean juga akan memasuki Asean Economic Community pada akhir 2015. Serta Bonus Demografi pada periode 2020-2030.

“Ada empat pertanyaan sebagai konsekuensi dari kondisi tersebut, yaitu tentang nutrisi, keberlangsungannya, kualitas yang baik dan bagaimana tetap menjaga lingkungan hidup,” ujar Atjo dalam sambutan berbahasa Inggrisnya.
Maka, kata dia, masa depan itu ada di sektor perikanan. Salah satunya adalah industri di bidang perikanan. Atjo yakin penemuannya berupa pengembangan Udang Supra Intensif ini bisa menjawab salah satu dari persoalan tentang ketersediaan nutrisi yang berkesinambungan dengan kualitas yang baik dan lingkungan yang tetap terjaga.
Teknologi yang lahir dari hasil disertasinya ini kata Atjo, memberikan garansi peningkatan kualitas udang dan terjaga dari segala penyakit bila kita bisa memisahkan udang dari kotorannya dalam proses pengolahannya.

Sejumlah peserta, para duta besar yang didampingi isterinya serta konjen negaranya terlihat antusias terhadap Udang dan temuan tersebut. Beberapa dari mereka bertanya langsung kepada Atjo tentang proses pemeliharaan udang tersebut. Salah satunya adalah Isteri Duta Besar Bulgaria, Mariana Michewa. Dia tertarik melihat shrimp karena di negaranya tak pernah melihat proses pengembangan udang secara langsung seperti ini.

Esti Andayani, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Indonesia melihat pentingnya kehadiran para ambassador tersebut di tambak Udang SII tersebut. “Ini bisa menjadi informasi yang penting untuk mereka bawa ke negaranya. Apakah mereka akan menerapkan teknologi ini atau mereka berinvestasi di sini,” ujar Esti kepada wartawan. Esti melihat antusiastik dari amabassador yang datang bersama isteri mereka itu. Para wakil kedutaan besar dan konjen ini hadir sebagai tamu Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam rangka memeriahkan Sail Tomini 2015.

Dalam bincang lepasnya dengan Kadis DKP Sulteng, Esti mengingatkan untuk memperbaiki link dengan Kemenlu agar penemuan tersebut bisa diakses langsung melalui website. Tentang regulasi, Esti mengatakan baiknya DKP dan KKP membicarakan hasil temuan tersebut dengan Kementerian Ristek dan Teknologi. Agar, teknologi yang digunakan bisa dilakukan di Indonesia. (aaa)

News Feed