Dampak Kemarau Warga Mulai Gunakan Air Irigasi

  • Whatsapp
adv

MANFAATKAN SUNGAI  – Sejumlah ibu rumah tangga Desa Moutong Barat, lebih memilih mencuci di aliran buangan saluran irigasi, setelah sumur miliknya mengalami kekeringan akibat – Musim kemarau berkepanjangan membuat sebagian warga Parimo menjadikan sungai untuk kebutuhan air minum.(F/Ahmad Udyn/PE)

PARIMO, PE – Akibat kemarau berkepanjangan yang sudah hampir empat bulan. Sejumlah desa yang berada di wilayah ujung utara Kabupaten Parigi Moutong, seperti Kecamatan Moutong dan Kecamatan Ongka Malino sudah mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk mencuci saja warga menggunakan sisa buang air irigasi, sedangkan untuk kebutuhan konsumsi warga lebih memilih membeli dipangkalan air gelon.

Seperti di Desa Moutong Barat Kecamatan Moutong, selama musim kemarau sejumlah sumur milik warga sudah mulai mengering. Sedangkan keberadaan air PAM milik desa, juga sudah mengalami pengurangan debet aliran air. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih seperti mencuci dan mandi terpaksa warga beralih menggunakan saluran air irigasi. Namun untuk kebutuhan konsumsi ( Air minum ) warga  terpaksa membelinya dengan gelon.

Muliadi, salah seorang warga Desa Mutong Barat mengaku, kalau mandi mencuci dan kakus ( MCK ) selama musim kemarau, bersama warga lainnya selalu menggunakan bekas air buangan dari saluran irigasi. Ia menyatakan, titik air yang selalu dipadati warga setempat hanya untuk mencuci dan mandi berjarak 500 meter dari pemukiman. Air tersebut kata dia, tergenang disebuah lubang yang mengalir dan air tersebut belum dipastikan ada jaminan kesehatan, sehingga warga enggan mengkonsumsi sebagai air minum.

“Karena saat ini musim kemarau terpaksa kami menggunakan saluran irigasi hanya untuk mencuci dan mandi. Kalau untuk kebutuhan minum kami membeli  air gelon di depot air terdekat,”kata Muliadi kepada Palu Ekpsres.

Muliadi mengaku, Desa Moutong Barat diketahui sudah sejak lama mengalami krisis air bersih, sehingga Pemda Parigi Moutong beberapa tahun lalu memberikan bantuan sebuah mobil tanki air, namun mobil tersebut tidak maksimal fungsinya, sehingga krisis air bersih tetap saja dirasakan oleh warga setempat.

“Ada memang mobil tanki air tapi selama ini mobil tersebut tidak maksimal fungsinya. Saya tidak tau kenapa tidak berfungsi, atau mungkin rusak atau tidak ada dana operasionalnnya,”ungkapnya.

Di tempat terpisah, krisis air bersih juga dirasakan warga yang  berada di Desa Santigi Kecamatan Ongka Maga melino. Desa yang memiliki enam dusun sejumlah sumur suntik milik warga juga sudah mulai mengering. Bagi warga, untuk mencuci terpaksa mnggunakan mata air dari aliran sela – sela bebatuan, mata air tersebut yang aliranya sangat kecil masyarakat setempat digunakan untuk mandi dan konsumsi.

“Kalau untuk sumur biasa atau sumur suntik milik masyarakat saat ini sudah mengering. Untungnya kami memiliki mata air yang bersumber dari sela – sela bebatuan, tapi airnya sangat kecil. Dan itulah yang digunakan oleh warga mencuci dan minum,”kata Sekdes  Santigi, Misran Hali.

Dia juga mengaku, karena daerahnya berada di ketinggian krisis  air bersih sering juga dirasakan setiap tahun. Sebanyak  lima bak air yang disiapakn disetiap dusun dan tangki air bersih yang disumbangkan oleh Pemda Parigi Moutong juga tidak maksimal.

“Ada mobil tangki air bersih yang disumbangkan oleh Pemda Parimo ke desa kami, sampai saat ini tidak jelas fungsinya karena mobil tersebut mengalami kerusakan. Kami belum bisa mengambilnya dibengkel karena belum ada dana,”ujarnya.

Warga dua desa itu berharap, krisis air bersih yang masih menderah didesanya itu bisa segera teratasi dan meminta kepada Pemda Parimo untuk segera memberikan perhatian kepada desa dan kecamatan yang saat ini dilanda krisis  air bersih.(ady)

Pos terkait