Ibu Kota Negara Berpindah (The Glory of the Past)

  • Whatsapp
Muhd Nur Sangadji/ foto: Ist/PaluEkspres

Oleh : Muhd Nur Sangadji

TIBA tiba ada gagasan pindah Ibu kota. Lalu, pro kontra mencuat di mana-mana. Mungkin biasalah dalam demokrasi. Tidak mengapa sepanjang yang berniat benar-benar tulus. Dan, yang menolak pun bermaksud sama. Kalau begitu mari adu gagasan. Bicara tentang indikator-indikator manfaat dan atau resiko secara objektif.

Menurut hemat saya, ada sejumlah pertimbangan yang boleh diletakkan. Pertama, aspek historis. Kedua, sisi analogi atau pembanding. Ketiga, secara ekonomi harus menguntungkan. Keempat, secara sosial mesti diterima. Kelima, secara strategis lebih efektif dan efesien. Keenam, secara ekologis lebih berkelanjutan. Ketujuh, secara teknik memungkinkan. Dan, dari dukungan ketersediaan sumber daya, terutama lokal, tersedia cukup dan memadai.

Saya sengaja tidak memasukkan aspek politik sebagai pertimbangan. Karena, hiruk pikuk selama ini adalah soal politik itu. Dan, jika pertimbangan ketujuh aspek ini telah diletakkan dengan jujur, tulus dan elegan. Maka, politik, tinggal mengikuti saja. Dan, ini baru mungkin kalau para politisian kita adalah juga negarawan. Lho, apa bedanya. Ada ahli yang bilang. “The Politician always thinking their next position. While, the state man always thinking their next generation”. Wallahu a’lam.

*****

Secara historis, ide tentang pindah ibu kota telah ada sejak zaman orde baru. Presiden Soekarno pada tahun 1960-an telah menggagas perpindahan ibukota ke Kalimantan. Sama pulaunya seperti yang direncanakan sekarang. Bahkan, kalau tarik lebih ke belakang. Pusat pemerintahan di era kolonial Belanda, dipindahkan dari kota Ternate ke Kota Batavia atau Jakarta yang sekarang.

Saiful Rurai, pengkaji sejarah, kebudayaan, politik dan pembangunan Maluku Utara mengkonfirmasi kebenaran historis ini. Beliau menunjuk catatan FSA de’Clercq( De Boijdragen tot de Kennis der Residentie Ternate,1890), dan disertasi Pastor Dr.Kareel Steenbrink, ibukota VOC adalah dari Ternate. Nanti, Gubernur Jenderal ke-4, Jan Peterzoon Coen pindahkan ke Batavia (1916), setelah mengirim 2 surat dari Ternate ke Heren Zeventijn (Dewan Direksi VOC/Dewan 17).

Pemprov Sulteng

Pos terkait