Astaga, Sandiaga Uno Dipolisikan Gara-gara….

  • Whatsapp
adv

JAKARTA, PE – Menjelang digelarnya Pilkada DKI putaran kedua, calon Wakil Gubernur DKI Sandiaga Salahudin Uno berurusan dengan kepolisian. Dia dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penggelapan uang dalam penjualan tanah dengan korban Djoni Hidayat.

Laporan itu disampaikan Djoni melalui kuasa hukumnya, Fransiska Kumalawati Susilo ke Polda Metro Jaya, Kamis (8/3) lalu. Laporan itu diterima dengan nomor register LP/1151/III/2017/PMJ/Dit Reskrimum, Tanggal 08 Maret 2017.

Bacaan Lainnya

Dalam laporan itu, Sandiaga disangkakan dengan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan. “Benar soal penggelapan, saya melaporkan kasus penggelapan itu ke Polda Metro Jaya pada 8 Maret 2017 kemarin,” kata Fransiska dia ketika dikonfirmasi, Senin (13/3).

Selain Sandiaga, Fransiska juga melaporkan nama Andreas Tjahyadi yang diduga kolega bisnis Sandiaga. Menurutnya, saat Sandiaga dengan Andreas menjadi direksi di PT Japirex, mereka telah melakukan penjualan properti berupa sebidang tanah.

Dalam pengakuannya, Fransiska telah berusaha menghubungi Sandiaga dan Andreas beberapa kali namun tidak ada respons yang positif. Hingga akhirnya dia melaporkan kasus ini ke polisi.

Dia menerangkan, perkara ini bermula ketika manajemen Japirex, yaitu Sandiaga dan Andreas berencana menjual aset tanah Japirex seluas kira-kira 6.000 meter persegi di jalan Curug Raya kilometer 3,5 Tangerang Selatan. Di belakang tanah itu terdapat 3.000 meter persegi milik Djoni Hidayat.

Sekadar informasi, Djoni Hidayat juga merupakan jajaran manajemen di PT Japirex itu. Berdasarkan keterangan Djoni yang diungkapkan Fransiska, tanah 3.000 meter itu adalah tanah titipan dari mendiang Happy Soeryadjaya. Diketahui almarhumah merupakan istri pertama Edward Soeryadjaya anak dari William Soerjadjaja, pengusaha kondang pendiri PT Astra Internasional.

Sandiaga dan Andreas kemudian mengajak Djoni untuk ikut menjual tanahnya. “Mereka (Sandiaga dan Andreas) bilang waktu itu karena tanah Pak Djoni tidak memiliki akses jalan. Mereka juga menjanjikan memberi keuntungan dari hasil penjualannya,” beber dia.

Pada akhir 2012, seluruh properti tersebut laku terjual dengan harga Rp 12 miliar. “Ya, laku tahun 2012 sekitar Rp 12 miliar,” katanya.

Meski laku terjual, Djoni hanya diberikan uang sekitar Rp 1 miliar saja. Uang itu diberikan oleh Andreas sebagai bagian dari pemutusan kerja dan keuntungan. Lanjut Fransiska, pada saat itu Djoni mengira jika sisa uangnya itu telah diberikan Sandiaga dan Andreas kepada keluarga Edward Soeryadjaya. “Belakangan diketahui uang hasil penjualan tanah itu tidak pernah diterima oleh keluarga almarhumah Happy Soeryadjaya,” papar Fransiska.

Dia berharap Sandiaga memenuhi janjinya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sebab, Sandiaga dan Andreas tidak lagi merespon komunikasi dengan Fransiska maupun Djoni.  “Ya dikirimi pesan lewat whatsapp juga sudah tidak di balas,” lanjut Fransiska.

Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait dugaan penggelapan yang menjerat Sandiaga. “Iya benar laporan itu, pelapornya Fransiska, benar,” ucapnya saat dihubungi.

Sebagaimana diketahui, saat ini Sandiaga Uno merupakan cawagub yang sedang bertarung di putaran kedua Pilkada DKI. Sandi yang berpasangan dengan Anies Baswedan akan bertarung dengan pasangan calon nomor 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)- Djarot Saiful Hidayat.

(Fajar/JPG/PE)

Pos terkait