oleh

Petani Poboya Tertarik Gunakan Pestisida Alami

PENYULUHAN – Suasana Penyuluhan Pertanian oleh Tim Dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tanama, Untad di Poboya, Sabtu (o4/2). Petani Poboya tertarik untuk menggunakan pestisidan alami dibanding pestisida sintetik. Foto: Dok Jurusan HPT Untad

Berharap Sumber Air Tak Tercemari Limbah Tambang

PALU, PE – Para petani di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu tertarik menggunakan pestisida alami. Ini karena pestisida alami lebih mudah terurai di lingkungan dibanding pestisida sintetik. Selama ini, petani di Poboya dan sekitarnya menggunakan pestisida sintetik.

Ketertarikan menggunakan pestisida alami ini terungkap dalam kegiatan Penyuluhan Pertanian yang dilakukan tim dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Sabtu (o4/2). Masalah hama dan penyakit tanaman menjadi topik utama kegiatan ini.

Para petani menyadari berbagai dampak penggunaan pestisida sintetik, seperti hama menjadi kebal, hama menjadi semakin banyak dan terutama kesadaran akan bahaya pestisida sintetik terhadap kesehatan petani itu sendiri.

Pada kesempatan tersebut, para petani menyampaikan keluhan tentang hama dan penyakit yang sering menyerang pada tanaman budidaya meeka, seperti hama penggerek batang padi atau walang sangit yang meyerang tanaman padi. Selain itu hama ulat bawang dan pengorok daun yang menyerang tanaman bawang merah, serta hama lalat buah dan penyakit antraknosa pada tanaman cabai. “Selama ini, tanaman cabai diserang hama lalat buah,” keluh Andong.

Selain soal hama dan penyakit tanaman, para petani berharap sumber air mereka yakni Sungai Pondo tidak tercemari oleh aktivitas pertambangan. Mereka juga berharap dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) perusahaan pemegang kontrak karya di Poboya yakni PT Citra Palu Minerals (CPM), dapat disalurkan untuk memberdayakan petani setempat dengan melibatkan para dosen pertanian Untad.

Menanggapi persoalan ini, Tim Dosen menyampaikan beberapa alternatif pengendalian hama dan penyakit yang lebih ramah lingungan, misalnya dengan penggunaan pestisida botani.

Menurut mereka, di sekitar lingkungan masyarakat terdapat banyak tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida botani, di antaranya: daun pepaya, daun sirsak dan daun mimba. Ketiga jenis tanaman ini, daunnya dapat diekstrak dengan cara sederhana menggunakan air.  “Air perasan inilah yang bisa digunakan untuk mengatasi hama dan penyakit. Selain itu pengelolaan habitat juga menjadi hal penting sebagai bagian dari kegiatan pengedalian hama terpadu guna mengatasi gangguan hama dan penyakit dengan cara yang lebih aman,” jelas Irwan Lakani, doktor bidang penyakit tanaman Untad.

Penyuluh Pertanian Kecamatan Mantikulore, Muhammad Salim mengatakan, petani di Kecamatan Mantikulore, masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Untuk Kelurahan Poboya saja saat ini terdapat 32 hektar lahan padi sawah, 25 hektar jagung, 10 hektar bawang merah dan lima hektar cabai keriting dan cabai rawit. “Para petani di Poboya dibagi dalam 12 kelompok tani. Delapan adalah kelompok tani pertanian dan empat kelompok tani peternakan,” jelas Salim, alumni Faperta Untad.

Sekretaris Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Faperta Untad Asrul Hasanuddin mengatakan, kegiatan penyuluhan akan menjadi agenda rutin lembaga mereka. Selain, sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi, juga sekaligus menjawab persoalan petani di lapanngan. “Kami berharap kegiatan ini ke depan dapat dukungan dari pemerintah dan perusahaan di Poboya,” kata Doktor Penyakit Tanaman ini. (awm)

News Feed