Minggu, 5 April 2026

Waspadai Stok dan Lonjakan Harga Beras pada Akhir Tahun

PALU EKSPRES, JAKARTA – Pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga beras
menjelang Natal dan tahun baru. Sebab, akhir tahun merupakan masa
tanam, bukan masa panen. Padahal, pada masa itu permintaan justru
meningkat.

Pengamat Indef Bhima Yudhistira memprediksi harga beras akan naik
pada akhir tahun. Saat ini harga beras terpantau naik 0,42 persen
bila dibandingkan dengan Oktober sampai minggu ketiga November.
Kontribusi kenaikan harga beras ke inflasi diperkirakan 0,03-0,1
persen. Dia menyebut kondisi itu masih lebih baik daripada Januari
2018. Saat itu ada kenaikan harga beras sebesar 3 persen. Hal itu
membuat kontribusi beras ke inflasi tembus 0,24 persen. “Pantauan
harga memang belum final,” ungkapnya.

Gejolak volatile food akan terasa pada Desember. Inflasi volatile
food hingga Oktober sudah mencapai 1,58 persen lebih tinggi daripada
total volatile food 2017 yang sebesar 0,71 persen. Pemicunya, akhir
tahun adalah musim tanam raya, bukan panen raya. “Ancaman banjir
akibat musim hujan menjadi salah satu faktor penyumbang gagal panen,”
jelasnya.

Surplus beras bukan jaminan harga stabil. Ada dua hal yang perlu
diperhatikan meski terjadi surplus. Pertama, aksesibilitas. Pasokan
ada, tapi tidak tersedia di pasaran. Tren harga tinggi pada akhir
tahun menjadi peluang oknum tertentu untuk melakukan penimbunan.
“Ketegasan Satgas Pangan diperlukan untuk antisipasi,” ucapnya.

Kedua, pasokan ada, tapi Bulog terkendala penyerapan gabah/beras di
masyarakat. Bulog memiliki ketentuan dalam menyerap beras. Misalnya,
kadar air dan harga. Tidak semua beras di masyarakat bisa diserap
Bulog.

Menurut dia, langkah strategis yang bisa dilakukan pemerintah adalah
memastikan produksi beras November sampai Desember 2018 sesuai
target. Pemerintah perlu memperhatikan daerah-daerah yang akan panen
pada bulan tersebut. Tujuannya, memastikan panen berhasil. Caranya
bisa dengan pengendalian hama dan mitigasi banjir. “Perlu juga
memastikan stok beras gudang Bulog 1,5 juta ton per bulan,” tegasnya.

Berdasar data BPS, produksi beras pada November mencapai 1,2 juta
ton. Sedangkan Desember 1,22 juta ton. Sementara itu, konsumsi
November 2,43 juta ton dan Desember 2,51 juta ton. Terdapat defisit
1,23 juta ton pada November dan 1,129 juta ton pada Desember. “Akhir
tahun memang krusial karena tidak bertepatan dengan masa panen,”
tegasnya.

Sementara itu, Food Station yang merupakan perusahaan BUMD DKI
Jakarta menyampaikan, harga kulak beras kini sudah tinggi. Direktur
Utama Food Station Arief Prasetyo Adi mengatakan, dalam seminggu ini
Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) membutuhkan pasokan 6 ribu ton
beras. Stok dikatakan aman jika minimal mencapai 30 ribu ton. Stok
saat ini memang masih 51 ribu ton. “Namun, harga perolehannya sudah
tinggi,” paparnya.

Dia menerangkan, berdasar Inpres 5/2015, gabah yang dibeli Bulog
seharga Rp 3.700 harus kembali di-review. Saat ini harga gabah sudah
di atas Rp 5.000. Sangat sulit bagi pelaku usaha menjual beras medium
dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 9.450. “Kita perlukan Bulog
untuk intervensi,” terangnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan beras pada akhir tahun,
dilakukan operasi pasar beras medium Food Station dengan Bulog di
PIBC. “Operasi pasar sangat diperlukan sampai Februari atau Maret
2019,” terangnya. Menurut dia, peningkatan kebutuhan beras akhir
tahun tidak akan signifikan. Yang diperlukan adalah menjaga
availability stock dan range harga.

(nis/c10/oni)