oleh

Waktu Mepet, Sayembara Logo Sulteng Harus Diperpanjang

BINCANG AKRAB – Gubernur Sulteng Longki Djanggola mendengarkan  pembuatan merek dagang Sulteng di sektor pariwisata ini dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Senin 21 November 2016. (foto: ANITA)

 

PALU, PE – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berencana akan menyelenggarakan sayembara pembuatan merek atau “branding” untuk Pariwisata Sulteng. Branding ini seperti “Enjoy Jakarta” milik Pemprov DKI, dan “Wonderful Indonesia” milik Kementerian Parekraf.
Rencana tersebut dipaparkan Kadis Parekraf Sulteng, Hj Norma Mardjanu di hadapan Gubernur Sulteng Longki Djanggola, Senin 21 November 2016.
Selain Norma, hadir pula Staf Ahli Gubernur, Mohamad Hidayat Lamakarate, Prof Nurhayati Ponulele, Wakil Rektor 2 Universitas Tadulako, Prof Djayani Nurdin dan anggota DPRD Sulteng yang membawahi sektor pariwisata, Nyoman Slamet serta sejumlah praktisi pariwisata Sulteng.
Pemaparan dilaksanakan di ruang kerja Gubernur Sulteng karena Longki ingin mendengarkan langsung ide tentang pembuatan merek dagang Sulteng di sektor pariwisata ini. Dia mengingatkan bahwa untuk menjual Sulteng hingga ke manca negara tak perlu dengan memoles dan membungkusnya dengan hal-hal berbau artifisial. “Kita tetap harus mengikuti budaya yang ada di Sulteng. Saya lihat, turis-turis luar (negeri) itu menyukai yang alami, apa adanya.”
Dia mencontohkan tentang tampilan suku Topoda’a  dan Tau Taa di Kabupaten Tojo Unauna yang masih memelihara kehidupan adatnya dan kearifan lokal. Longki juga meminta panitia untuk memperhatikan keterwakilan dari 12 kabupaten dan kota Palu dalam sayembara pembuatan Logo dan slogan yang diharapkan dibuat dalam bentuk frasa itu. Dia mengingatkan panitia untuk mencari formula yg pas sebagai patron yg akan mengikat dari panitia.
Banyak masukkan yang disampaikan oleh anggota tim penilai serta undangan dari praktisi pariwisata Sulteng ini. Rencana yang baru berupa Term of Reference (TOR) itu pun kurang memenuhi berbagai kriteria dalam pelaksanaan sayembara dan masih perlu dilengkapi dan dibenahi.
Yang menarik, Ketua Tim penilai Mohamad Hidayat Lamakarate mempertanyakan waktu penyelenggaraan yang sudah sangat sempit. Mengingat, kegiatan tersebut baru bersifat TOR, sementara pelaksanaan kegiatan itu menggunakan anggaran TA 2016. “Apakah cukup waktu untuk bisa menyelenggarakan, karena Desember sudah harus selesai,” ungkap Hidayat.
Praktisi Pariwisata Recky Lapiang mengatakan pembuatan logo dan slogan ini membutuhkan waktu minimal 3 bulan. Itupun baru mendapatkan filosofi dari logo tersebut. “Persiapannya minimal tiga bulan untuk mendapatkan filosofinya. Belum lagi visualnya yang harus ditampilkan. Waktunya sangat mepet kalau akhir tahun ini,” tandas Recky yang juga ahli multimedia itu.
Dia mengingatkan bahwa tak banyak desainer grafis di Sulteng hingga kini. Apalagi, sayembaranya berskala lokal dengan nilai hadiah sebesar Rp15 juta. Namun Recky mengapresiasi keinginan untuk menyelenggarakan sayembara tersebut. “Namun kalau mau hasilnya berkualitas, waktunya harus diperpanjang lagi. Kalau terburu-buru hasilnya tidak baik,” tandasnya. Apalagi kata dia, kini perubahan era dari cetak ke digital dimana logo itu seharusnya bisa ditempatkan di media apapun, baik kaca, kain, kertas dan lainnya.
Hal senada juga disampaikan Joshua Marundu, fotografer terkenal di Sulteng. Menurutnya perlu dipertimbangkan untuk memperpanjang waktu pelaksanaan sayembara tersebut dengan tujuan akhirnya kualitas yang terbaik.Kemungkinan Sayembara ini baru akan diumumkan hasilnya pada April 2017 nanti. (aaa)

News Feed