oleh

Kampusku Sayang, Kampusku Malang

-Opini-4.323 views

Oleh Muhd Nur Sangadji*

Di kampus ku terungkap kabar tentang kriminal. Ternyata pelaku pencurian selama ini adalah mahasiswa. Satu atau sekelompok. Mereka berkeliaran di banyak tempat. Bahkan, di mushala, dengan pura pura ikut salat.

Spontan saya balas postingan karib di WA Fakultas. “Trims infonya Pak Irwan Lakani”. Lantas saya ajak, mari bersama kita berdoa. “Duhai Allah, ampunilah kami selaku Guru yang selama ini mendidik mereka”. Saya juga mengajak berdoa, “semoga terungkap pula pencuri yang lebih besar”. Doa terakhir ini untuk merespon informasi media lokal.

Tidak lama berselang. Muncul berita yang menggemparkan Indonesia. Rektor sebuah perguruan tinggi ternama terciduk KPK. Bersama Inspektorat Kementerian Pendidikan, rektor bernasib apes ini ditangkap. Angka penyelewengannya hanya kurang dari Rp50 juta saja. Tapi, tetaplah kejahatan. Bahwa ada kejahatan yang lebih besar tidak terungkap. Itu, soal yang lain lagi.

SUARA LANGIT

Saya tidak tahu mau bilang apa lagi atas dua kejadian ini. Murid dan guru sama-sama berbuat nista. Maka, dengan menggunakan standar iman terendah. Saya mengajak karib saya semua kaum ilmuwan untuk lebih khusyuk berdoa. Berdoa sesuai keyakinan agama masing-masing agar dijauhkan dari musibah lantaran kealpaan bersama.

“Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuknat tiba’ah wa arinal batila batilan warzuqnaj tinaba, birahmatika yaa arhamar rahimeen. (Yaa Allah tunjukan yang hak itu hak dan beri kekuatan kami untuk menjalaninya serta tunjukkan pula yang bathil terlihat bathil dan juga beri kekuatan kami untuk menghindarinya). Dan, pahatkan ke hati kami keyakinan bahwa, “Innal batila kana zahuqa”. (sesungguhnya yang bathil pasti hancur).

Duhai pencipta langit dan bumi. Janganlah hukum kami karena kelalaian bersaksi. Sebagaimana seruan mu, “Wala talbisul haqqa bil bathil, wataktumul haqqa wa antum ta’lamun (Q, S Al Baqarah, 42). “Dan janganlah kamu campur kan yang hak dan batil,, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, padahal kamu mengetahui”,

Seruan-seruan langit ini, sesungguhnya bahagian dari bahan ceramah ku di masjid sepanjang Ramadhan. Namun, karena Covid 19, semua jadwal batal. Maka, izinkan saya untuk menumpahkannya di artikel ini.

AJAKAN INTERNAL

Atas semua kejadian itu, saya mengajak karib internal untuk hadirkan kampus bermartabat akademik. Menjadi mulia di Indonesia, bahkan dunia (karena visi kita bertaraf Internasional).

Semua ambil tanggung jawab karena sehebat apa pun prestasi kita dalam mangajar, meneliti, publikasi nasional bahkan internasional yang terus kita banggakan dan pengabdian masyarakat. Semuanya menjadi sirna, kalau kampus berwajah kriminal, baik umum maupun kriminal akademik.

Apalagi, ternyata pelakunya adalah warga kampus sendiri. Kita sedang merapuh secara internal. Jadi, mesti serius mengurusnya.Pokoknya, harus ada tekad yang kuat. Yusuf Kalla bilang, tidak boleh negara kalah menghadapi penjahat.Maka, Rektor dan Dekan harus pimpin gerakan untuk mencegah penyimpangan perilaku (devian behavior) ini di kampus kita.

BERBAGI TUGAS

Kemarin siang, 26/05/2020, saya diminta ketua Bawaslu, Ruslan Husen SH.MH, beri hikmah halal bi halal bagi seluruh anggota Bawaslu Sulawesi Tengah. Saya menyetir satu ayat dalam ceramah daring itu. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat pembuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka, sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (QS. Al Rum 30:41).

Saya teruskan, “halal bi halal, maaf-memaafkan dan ihlas-mengihlaskan adalah perbuatan baik”. Tapi, dia bukanlah apologi untuk membiarkan kesalahan dan kejahatan terjadi di pelupuk mata. Karena, akibatnya akan kita rasakan di bumi sebagai musibah. Dan, diakhirat sebagai pertanggungjawaban dan ganjarannya.

Karena itu, kita sama sama perlu berbagi tugas. Negara sedang bertugas berat melindungi warga dari virus Covid 19 yang menyerang paru paru. Bawaslu, juga begitu sesuai misinya. Melindungi rakyat Indonesia dari Virus-TC (tamak dan curang) yang menyerang hati manusia. Menjadi sebab kekisruhan Pilkada.

Tugas kampus lebih berat lagi, lantaran mencakup keduanya. Itu karena, kampus diamanahkan untuk mendidik manusia. Sayang, tugas mulia ini ternoda. Lantaran, mahasiswa dan rektornya bersama-sama memproduksi kriminal.

TINDAKAN NEGARA

Setelah bersama Bawaslu. Saya diundang sorenya, ikut acara halal bi halal bersama ketua BPK (Agung Firman Sampurna). Ketika disinggung musibah yang menimpa kampus. Mas Agung bilang begini. BPK sesungguhnya mengetahui, banyak kampus menyalahgunakan status BLU-nya. Dana acap kali digunakan pribadi dan kelompok untuk plesiran ke mana- mana. Bahkan kata beliau, disalahpakaikan dalam kegiatan pemilihan Rektor sekali pun.

Namun demikian, BPK serba salah. Bila ditindak akan mencemari nama institusi dan dunia pendidikan. Tapi, ada yang menyela Mas Agung. Sebenarnya, kita tidak sedang mempermalukan institusi kampus. Kita, justru hendak menyelamatkan kampus dari perilaku kurang terpuji segelintir individu. Kebetulan bergelar Doktor dan atau berjabatan Profesor yang sedang menjadi petinggi kampus. Rektor, Dekan dan pembantu-pembantunya. Kampus kita, dengan demikian, tengah dirusak dari dalam.

Maka, kita perlu bertindak sungguh-sungguh, karena kita sayang kepada kampus. Di sana, anak-anak Indonesia dididik menjadi manusia. Artinya, kita juga sayang generasi dan bangsa ini. Semoga.

*Penulis, pengajar mata kuliah Pendidikan Karakter dan Anti Koropsi di Universitas Tadulako

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed