Oleh Hasanuddin Atjo
Di suatu saat, saya dan Gubernur Sulteng terpilih , Rusdy Mastura, terlibat dalam dialog kecil, sambil menunggu bourding pesawat Wings Air, tujuan Makassar dari Batulicin, Tanah Bumbu, Kalteng.
Kami berempat bersama Amin Atjo dan Nasir Mangge, mendiskusikan panen di tambak udang teknologi Supra Intensif yang dinilai bung Cudi, sapaan akrab Rusdy Mastura, fantastis karena produktivitasnya mencapai 150 ton/ha/siklus (120 hari).
Saya berkomentar bahwa teknologi ini saya temukan tahun 2011, di Kabupaten Barru, Sulsel. Direplikasi pertama di Sulteng tahun 2014, di saat saya sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan bung Cudi masih sebagai Wali Kota Palu.
Namun teknologi budidaya udang ini, kemudian menjadi besar dan berkembang di luar Palu, seperti yang kita saksikan di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, pemekaran dari
Kabupaten Kota Baru.
Kita layak, patut memberi apresiasi kepada pak Mardani dan pak Rois Sunandar H Maming yang mau dan berinvestasi memakai teknologi ini untuk lebih meyakinkan publik dan lembaga keuangan bahwa inovasi teknologi ini benar benar terukur dan bisa sebagai penghasil devisa.
Awalnya ada juga kalangan yang “mencibir” dan tidak yakin dengan teknologi ini. Apalagi dibangun di Kalimantan yang perairannya agak masam dan tinggi kandungan bahan organiknya, sehingga dinilai kurang ideal untuk kepentingan budidaya udang.
Selesai saya berbicara, bung Cudi berkomentar: Ehh, sejak “komiu” (anda, bahasa lokal) ajak saya ke Mamboro, Kota Palu di tahun 2014 melihat tambak udang seperti ini tetapi ukurannya mini, hanya 400m persegi, saya sangat yakin bahwa ini teknologi budidaya yang benar.
Dan dalam APBD kota Palu tahun 2015, dimasukkan juga anggaran percontohan tambak seperti itu. Sayangnya, upaya itu tidak bisa dimanfaatkan oleh pengganti saya. Padahal tujuannya untuk kepentingan edukasi, transformasi masyarakat kota Palu khususnya.
Bung Cudi, masih melanjutkan komentarnya bahwa dalam debat Visi dan Misi Gubenur di Pilkada 2015 dan 2020, udang menjadi salah komoditas prioritas saya. Dan Alhamdulillah nanti di Pilkada 2020 baru saya terpilih. Dan Insyah Allah, udang akan menjadi salah satu prioritas saya. Jadi tolong komiu bantu. Siap bung Cudi, kata saya.
Dalam diskusi sebelumnya telah dibahas bahwa bung Cudi dalam priode kepemimpinannya kurang lebih tiga setengah tahun (sampai 2024) akan mengembangkan 5 komoditas pangan prioritas, dan juga akan memetakan sejumlah komoditas pangan potensial untuk priode jangka panjang.
Lima komoditas prioritas itu adalah udang, porang, durian, sapi dan rotan. Setiap OPD teknis memiliki satu komoditas prioritas atau icon, dan harus dirancang dengan satu pendekatan, berorientasi hulu-hilir (industrialisasi) serta berbasis masyarakat.
Saya mengatakan bahwa dalam pengembangan komoditas, kita sering melupakan prinsip 5 W +1 H. Semua tersenyum karena rupanya masih ingat teori manajeman lama yang masih adaptif dan relevan dengan kondisi kekinian.
Bila semua berpikir 5 W + 1 H dan menerapkan dalam mendesain program dari OPD masing masing, maka insya Allah, hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu peran dari Litbang dan Bappeda sangat strategis dalam melahirkan program program yang terukur.
Kehadiran tenaga ahli, tergabung dalam tim ahli menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan dalam mendesain (merencanakan) sejumlah program prioritas. Teori mengatakan bahwa perencanaan yang benar telah menjamin tingkat keberhasilan 50 persen, meskipun belum dilaksanakan.
Reputasi dari tenaga ahli harus menjadi pertimbangan pemerintah daerah ( gubernur dan DPRD). Dan sekedar intermezo bahwa reputasi itu terbangun dari kesuksesan yang
berulang. Kesuksesan merupakan dampak dari kegagalan berulang.
Kalau reputasi itu menjadi ukuran, memang agak kesulitan mencari orangnya , namun ada jikalau kita berkeinginan dan mau mengikuti mekanisme yang lazim, dan hal ini tidak akan menjadi soal. Banyak pengalaman yang bisa dicontoh di Pemerintah Provinsi lainnya dan sejumlah Kementerian.
Kembali ke 5 W + 1 H, yang diawali W pertama yaitu what, (apa yang akan dikembangkan); who (siapa yang mengembangkan); when (kurun waktu pengembangan); why (mengapa dikembangkan); where (dimana lokasi pengembangan). Dan ditambah 1 H, yaitu how yang bermakna bagaimana cara kita mengembangkannya.
Lima komoditas prioritas tersebut tentunya sudah melalui telaah makro Bung Cudi serta masukan dari orang orang ahli dibidangnya yang sering diajak berdialog. Salah satu nilai lebih Bung Cudi menurut sejumlah orang antara lain gemar memburu Inovasi dan teknologi.
Kita berharap, bahwa apa yang menjadi impian Bung Cudi bersama rakyat Sulawesi Tengah antara lain melalui perbaikan fiskal daerah yang rendah dan menekan angka kemiskinan yang tinggi mampu diwujudkan.
Mengakhiri artikel ini, bahwa dialog singkat saya dengan Achmad Ali, salah satu anggota DPR RI asal Sulteng , di suatu kesempatan awal Februari 2021 lalu, berkeyakinan bahwa target Sulteng berada di peringkat fiskal 15 -20 dari 34 Provinsi. Dan, angka Kemiskinan tembus di bawah 10 persen di tahun 2024 dapat diwujudkan.
Di 2020, kapasitas fiskal daerah (kemampuan belanja daerah) dari Provinsi Sulteng berada di urutan ke 25. Dan angka kemiskinannya di atas rata-rata nasional , yaitu sekitar 13 persen. Dan semua kita berharap kiranya, stakeholders terkait bahu membahu memberi dukungan dari harapan-harapan itu. SEMOGA.






