Blended Learning Sukseskan PTM Terbatas

  • Whatsapp
Firima Zona Tanjung. Foto: Dok

Firima Zona Tanjung (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Borneo Tarakan)

PEMBELAJARAN Tatap Muka Terbatas (PTM Terbatas) bukan lagi sekadar wacana. Beberapa wilayah di Indonesia telah melakukan pola pembelajaran ini secara bertahap sesuai dengan pengaturan teknis dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Bukan tanpa alasan, upaya penyelenggaraan pendidikan melalui PTM Terbatas memang krusial karena berkaitan langsung dengan langkah konkret pemerintah guna mengatasi learning loss yang menjadi isu utama semenjak pandemi melanda.

Bacaan Lainnya

Namun demikian, pertanyaan baru pun muncul, yakni apakah PTM Terbatas sepenuhnya efektif untuk mengatasi learning loss pada peserta didik? Kemudian, apa yang harus dilakukan oleh para guru agar peserta didik terlibat secara aktif selama implementasi PTM Terbatas, khususnya pada pembelajaran bahasa Inggris?

Kombinasi Metode Pembelajaran Luring dan Daring: Blended Learning

Mengacu pada kondisi pandemi yang masih berlangsung hingga kini, proses pembelajaran peserta didik di sekolah tidak akan berjalan maksimal apabila hanya bertumpu pada metode luring saja. Hal ini disebabkan oleh ragam perspektif yang dialami oleh peserta didik terhadap pembelajaran yang sudah mereka jalani selama dua tahun terakhir.

Ada peserta didik yang merasa jenuh karena harus belajar dari rumah sebagaimana hasil penelitian Puspita Sari dkk “Dampak Pembelajaran Daring bagi Siswa Sekolah Dasar selama Covid-19 pada Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan, volume 2 nomor 1, April 2021. Akan tetapi, ada pula peserta didik yang menunjukkan perspektif positif terhadap pembelajaran daring selama pandemi berlangsung seperti yang dilaporkan Adzkiya dan Suryaman dalam “Penggunaan Media Pembelajaran Google Site dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas V SD, pada Educate: Jurnal Teknologi Pendidikan, volume 6 nomor 2, 2021.

Dengan variasi respon yang ditunjukkan peserta didik terhadap metode pembelajaran luring ataupun daring tersebut, penerapan model pembelajaran yang tepat menjadi pekerjaan rumah baru bagi para pendidik atau guru. Menanggapi hal tersebut, salah satu alternatif model yang dapat digunakan selama PTM Terbatas ini adalah model blended learning.

Menurut Stein dan Graham dalam buku Essentials for Blended Learning: A Standards-Based Guide terbitan tahun 2014, blended learning adalah kombinasi pembelajaran tatap muka dan daring yang berorientasi pada penyelenggaraan pembelajaran yang efektif, efisien, dan fleksibel bagi peserta didik. Pendek kata, apabila model blended learning diasosiasikan dengan kegiatan pembelajaran selama PTM Terbatas, maka penerapan model ini diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik—yang sebelumnya mengalami kendala belajar akibat penurunan motivasi atau kesulitan memahami materi selama belajar dari rumah—agar lebih termotivasi dan berpartisipasi secara aktif karena mereka diajar dengan menggunakan dua metode berbeda secara berkala.

Lalu, poin apa saja yang dapat mendukung kesuksesan penerapan model blended learning pada pembelajaran bahasa Inggris selama PTM Terbatas?

Pertama, guru yang literat digital. Peranan guru yang cakap dalam mengoperasikan gawai sekaligus mengakses aplikasi sangatlah penting. Secara umum, literat digital tidak hanya menyangkut kemampuan mengakses informasi melalui platform-platform digital, tetapi juga kemampuan merencanakan, melaksanakan, memantau, serta mengevaluasi proses pembelajaran daring yang efektif bagi peserta didik. Sebagai tambahan, guru juga akan sangat membantu keterlaksanaan PTM Terbatas apabila mereka mampu menganalisis kebutuhan belajar dan ketersediaan perangkat digital pendukung yang dimiliki peserta didik untuk mengikuti pembelajaran.

Namun demikian, menurut data yang dipublikasikan Prof. Didi Suherdi, Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia, dalam buku “Online Teaching of English as a Foreign Language in Indonesia: Lessons from Covid-19 Pandemic” yang terbit pada Februari 2021, motivasi guru yang tinggi belum didukung dengan pengalaman penggunaan moda daring yang cukup sehingga mereka membutuhkan pelatihan intensif yang dapat berkontribusi positif pada kesuksesan program pembelajaran. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pelatihan literasi digital dan pelatihan mengajar berorientasi digital yang dilaksanakan secara kontinu dan terprogram bagi guru amat dibutuhkan.

Disinilah peran dinas pendidikan setempat sangat penting terutama dalam hal sosialisasi dan pelaksanaan program pelatihan. Selain itu, peran pihak sekolah terhadap pengembangan profesionalisme guru juga sangat signifikan. Salah satunya dengan mengadakan kolaborasi dengan mitra sekolah baik instansi maupun institusi pendidikan tinggi secara simultan dan berkesinambungan. Tentu saja, hal ini direkomendasikan agar dampak ikutannya segera terwujud, yakni peningkatan optimalisasi ketercapaian tujuan pembelajaran di kelas-kelas.       

Kedua, rencanakan sesi pembelajaran. Di masa pandemi seperti saat ini, menyelenggarakan sesi pembelajaran yang menarik bagi peserta didik pasti membutuhkan perencanaan matang, mulai dari tahap persiapan hingga evaluasi pembelajaran. Artinya, guru benar-benar dituntut agar lebih luwes terhadap metode yang digunakan di kelas. Salah satu bentuk fleksibilitas guru dalam menyelenggarakan pembelajaran adalah dengan merencanakan rangkaian aktivitas sekaligus moda yang akan digunakannya. Sebagai contoh, apabila guru hendak mengajarkan kosakata bahasa Inggris dengan mengusung tema tertentu, maka metode kombinasi komunikasi sinkronus dan tatap muka dapat diterapkan secara bersamaan. Perpaduan komunikasi ini tentu memberi kesempatan bagi guru, peserta didik yang belajar dari rumah, ataupun yang hadir di sekolah untuk saling terhubung, berinteraksi, terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, dan mendapatkan feedback misalnya terkait pelafalan kata, ejaan, dan pemahaman atas makna kosakata yang diajarkan. Selain itu, moda daring juga dapat digunakan, yakni dengan mengaplikasikan platform digital tertentu guna meningkatkan sinergi guru-peserta didik sekaligus kualitas pembelajaran.

Tambahan pula, optimasi kualitas proses pembelajaran, motivasi, dan partisipasi aktif peserta didik dalam pemelajaran dapat dicapai sekaligus dipengaruhi oleh fleksibilitas guru saat memilih dan mengimplementasikan metode serta moda untuk aktivitas pembelajaran. Perlu ditekankan juga bahwa kondisi pembelajaran yang berbeda-beda menghendaki setiap guru untuk berkreasi dalam mengajar, tetapi kreasi berupa variasi metode, strategi, teknik pembelajaran dan ragam platform digital yang digunakan pun harus diselaraskan dengan konteks, tujuan pembelajaran, dan gawai pendukung yang ada.

Ketiga, tumbuhkan motivasi dan semangat belajar peserta didik. Poin ini memang disebutkan sebagai poin penutup dalam tulisan ini. Akan tetapi, poin ini justru memegang peranan penting pada sinergi guru-peserta didik dalam penerapan blended learning selama PTM Terbatas.

Adapun alternatif cara yang bisa dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar dan keaktifan peserta didik, antara lain, mengajukan pertanyaan yang bersifat kontekstual dengan memberikan kesempatan yang sama bagi peserta didik yang hadir di dalam kelas maupun yang hadir secara virtual, menggunakan metode variatif sehingga peserta didik tidak mudah bosan dan lebih aktif terlibat dalam aktivitas pembelajaran, memberikan reward berupa acungan jempol atau emotikon jempol serta pujian bagi peserta didik yang berhasil menjawab pertanyaan, menyampaikan instruksi yang jelas saat memberikan tugas, memberikan umpan balik berupa catatan kemajuan atau penilaian yang dapat membantu peserta didik mengidentifikasi progres belajar mereka, dan menumbuhkan semangat mereka dengan senantiasa memberikan komentar positif pada setiap performa yang ditunjukkan peserta didik guna meningkatkan kepercayaan diri mereka, terlebih di masa transisi pembelajaran daring menjadi PTM Terbatas yang dilakukan secara bertahap ini.

Dengan model blended learning dan tiga poin pendukung keterlaksanaannya yang telah dipaparkan di atas, diharapkan para guru bahasa Inggris terus termotivasi, terus melatih diri, dan bersinergi dengan perkembangan teknologi terkini sehingga upaya menekan learning loss dan meningkatkan semangat belajar serta partisipasi aktif peserta didik bukan sekadar mimpi melainkan akan mengejawantah di ruang kelas tatap muka dan tatap maya mulai kini hingga nanti. Aamiin. ***

Pos terkait