Minggu, 5 April 2026
Daerah  

Gempa Turki Samakah dengan Gempa Palu?

Gempa Turki samakah gempa Palu?
Gempa Turki samakah gempa Palu? ilustrasi jalan retak akibat pergeseran/ Foto: LuisVillasmil/Unsplashcom

Gempa Turki Samakah dengan Gempa Palu? Gempa bumi Turki dengan magnitudo 7,8 yang terjadi pada Senin (6/2/2023) lalu mengingatkan kita pada musibah gempa yang terjadi Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala pada 28 September 2018 lalu.

Gempa dengan magnitudo 7,4 yang terjadi di Palu itu diiringi tsunami bahkan Liquifaksi yang menyebabkan ribuan nyawa melayang.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis bahwa korban meninggal akibat gempa Palu ini mencapai 2.045 orang. Terbanyak di kota Palu sebesar 1.636 orang disusul Sigi kemudian Parigi.

Gempa Turki Samakah dengan Gempa Palu? Akankah ada pengaruhnya kepada belahan dunia yang lain.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mengatakan kemungkinan gempa Turki bisa saja terjadi di Indonesia. Mengingat kemiripan kondisi tektonik walau tidak sama persis.

Indonesia termasuk wilayah yang rawan diguncang gempa karena aktivitas sesar aktif. Salah satunya ya Sesar Palu Koro.

Sesar Palu Koro, Gempa Palu dan Gempa Turki

Sesar Palu Koro adalah patahan mendatar mengiri (sinistral strike slip fault) yang membelah Pulau Sulawesi menjadi dua. Mulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga Teluk Bone.

Di Kota Palu, sesar ini melintasi Teluk Palu ke arah wilayah daratan. Lalu sesar memotong jantung kota sampai ke Sungai Lariang di Lembah Pipikoro. Sesar ini merupakan struktur geologi utama di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dilansir dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, Kompas.com menuliskan bahwa Sesar Palu Koro terdiri dari beberapa segmen. Di antaranya segmen Selat Makassar sepanjang 130 km yang terletak di laut, segmen Palu sepanjang 31 km, segmen Saluki sepanjang 44 km. Serta segmen Moa sepanjang 66 km yang terletak di darat.

Sesar Palu Koro yang aktif inilah yang memicu gempa bumi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah,lima tahun yang lalu itu.

“Gempa bumi di Turkiye memberikan warning bagi kita yang ada di Indonesia,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Dwikorita Karnawati menyampaikan itu dalam konferensi pers secara daring bertajuk Analisis Pembelajaran Gempa Bumi Turki untuk Indonesia, Kamis (23/2/2023).

“Gempa Turkiye mengingatkan kita bahwa sesar aktif dengan pergerakan geser mendatar atau strike slip dapat menyebabkan kejadian gempa katastrofi dan gempa yang kompleks,” kata Dwikorita dikutip dari Kompas.com.

Menurutnya perlu ada kajian secara komprehensif untuk mempelajari zona sesar geser atau strike-slip fault di Indonesia.

Di Indonesia ada sejumlah sesar yang perlu dikaji secara komprehensif di antaranya yang melintasi Provinsi Sulawesi. Yaitu Sesar Palu-Koro, Sesar Matano, Sesar Gorontalo, Sesar Besar Sumatera, Sesar Cimandiri, Sesar Opak, Sesar Sorong, Sesar Tarera Aiduna, dan Sesar Yapen.

Hubungan gempa Turkiye bagaimana Sesar Palu Koro? Dwikorita menerangkan bahwa gempa Turki
telah memecahkan seluruh segmen sesar Anatolia Timur menjadi enam bagian, yakni Tyrgoklu, Golbasi, Yarpuzlu, Lakehazar, dan Gorzali sepanjang 300 kilometer.

Pecahnya segmen sesar Anatolia Timur ini menurut Dwikorita pun menjadi peringatan bagi Indonesia.

Menurut Dwikorita fenomena pecah sesar ini pernah terjadi di Pulau Lombok tahun 2018. Saat itu Pulau Lombok diguncang lima kali gempa kuat dalam waktu tiga minggu dengan kekuatan magnitudo 6,4; 7,0; 5,9; 6,2; dan 6,9.

Bergesernya sesar yang menimbulkan gempa ini bisa juga memicu terjadinya pergerakan pada sesar lain. Kasus ini terjadi pada gempa Turki.

Gempa Turki menyebabkan gempa di jalur sesar lain, yaitu sistem sesar Surgu di sebelah barat sesar Anatolia Timur sehingga menyebabkan gempa M 7,5 dan 6,0. Akibatnya kerusakan yang semakin meluas dan parah.

Nah, menurut Dwikorita karakteristik zona sesar utama yang dikelilingi oleh sesar-sesar lainnya banyak terdapat di Indonesia.

Tentu saja sesar di Indonesia salah satunya adalah Sesar Palu Koro, Sesar Cimandiri, Sesar Semangko, Sesar Aceh-Seulimeum, dan Sesar Kawa.

Pentingnya Mitigasi Gempa

Mengingat pengalaman Indonesia yang beberapa kali daerahnya diguncang gempa, maka mitigasi menjadi hal yang penting untuk segera dipahami masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Penting untuk memperhatikan pemukiman yang berada di Sesar Besar Sumatera, Sesar Lembang, Sesar Opak, dan Sesar Palu Koro perlu diberi perhatian khusus.

BMKG sendiri menyarankan mitigasi yang harus dilakukan berupa penguatan atau pengembangan studi/ kajian/riset dan teknologi. Termasuk mempertimbangkan untuk menerapkan bangunan tahan gempa dengan building code.

Mitigasi ini penting untuk menjadi langkah mencegah dampaknya berupa banyaknya korban jiwa dan kerusakan bangunan saat musibah gempa terjadi. (aaa/PaluEkspres)