Sabtu, 4 April 2026

Pengamat Pertanyakan Survei Indikator Versi DIA. Skala Makassar Atau Sulsel ?

Pengamat Pertanyakan Survei Indikator Versi DIA. Skala Makassar atau Sulsel?
Prof Dr Armin Arsyad / Foto: istimewa

Makassar, PaluEkspres– Pengamat pertanyakan survei Indikator versi DIA. Adalah Guru besar Unhas dan pengamat politik Prof Dr Armin Arsyad merespons munculnya artikel di koran lokal Radar Makassar, Senin (14/10/2024).

Media ini merilis berita survei terbaru Indikator pada Sabtu, (12/10/2024) dengan judul “3,9 Persen lagi DIA Salib Andalan Hati”.

Artikel survei Indikator ini menggambarkan elektabilitas DIA hanya terpaut selisih 3,9 persen. Andalan hati memperoleh 43,3 persen, DIA 39,5 persen. Sedang pemilih yang tidak menjawab 17,2 persen.

Menurut Prof Armin Arsyad, berita tersebut mengandung pertanyaan besar. Karena pada hari yang sama Indikator juga merilis survei mutakhirnya dengan hasil yang jauh berbeda, yakni Andi Sudirman-Fatma jauh melejit dengan capaian elektabilitas 63,1 persen.

Sedang paslon Danny Pomanto-Azhar Arsyad jauh tertinggal dan hanya memperoleh elektabilitas 17,9 persen. Responden yang belum menentukan pilihan sebesar 18,9 persen dan yang menyatakan diri golput atau tidak memilih sebesar 0,2 persen.

“Nah ini menjadi pertanyakan. Karena memakai nama lembaga survei yang sama dalam waktu rilis yang sama,” ujar Prof Armin, (14/10/2024).

Dengan demikian, yang harus menjadi landasan dalam menakar validitas survei adalah penggunaan metodelogi yang dan perolehan sample data yang.

“Dari hasil survei yang saya peroleh dari laman resmi Indikator, jelas laporan secara rinci terkait metodelogi dan penarikan sampel,” lanjut dia.

Dalam survei itu, Prof Burhanuddin menyampaikan bila survei ini berlangsung sejak tanggal 26 September hingga 3 Oktober 2024.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di Provinsi Sulawesi Selatan yang punya hak pilih dalam pemilihan umum. Yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika pelaksanaan survei .

Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei ini jumlah sampel basis sebanyak 800 orang berasal dari seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdistribusi secara proporsional. Kemudian melakukan oversample di Kabupaten Bone menjadi 400 responden.

“Dengan asumsi metode stratified random sampling, ukuran sampel tersebut memiliki toleransi kesalahan (margin of error–MoE) sekitar ±3.5% pada tingkat kepercayaan 95 persen,” katanya.

Analisis gabungan menerapkan pembobotan sehingga sampel dari seluruh Kabupaten/Kota terdistribusi secara proporsional di tingkat Provinsi. Pewawancara mewawancara responden terpilih lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah terlatih.

Sedang quality control terhadap hasil wawancara berlangsung secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak menemukan kesalahan berarti.

“Jadi sangat terinci dan dapat mempertanggungjawabkan secara statistik dan ilmiah,” katanya.

Lantas, bagaimana dengan metodelogi dalam survei yang dari kubu DIA, “Ini yang jadi pertanyaan besar bagi peneliti seperti saya,” kata Prof Armin.

Jadi kalau menelisik lebih jauh, dengan sumber lembaga survei yang sama dengan pelaksanaan waktu survei yang sama, pastilah ada permainan.

“Bisa saja, survei Indikator versi kubu DIA hanya berbasis suara satu daerah, misalnya Makassar. Sehingga hasilnya memang beda,” tandasnya.

Benarkah Ada Manipulasi Survei Indikator Versi DIA?

Sementara itu, pengamat politik M Saiful menyampaikan adanya dugaan terjadi manipulasi dan pelintiran hasil survei yang dari kubu DIA.

“Saya sebut ini merupakan upaya yang sudah kehilangan akal sehat dari tim pemenangan pasangan calon. Apalagi hal tersebut dilakukan dengan sengaja untuk melakukan pembohongan publik.

Dia menambahkan hal ini adalah upaya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan adalah karena mengklaim bahwa survei ini dari Indikator. Ini upaya pembusukan politik paling vulgar dari tim yang sudah kehilangan orientasi sehat dalam berkontestasi secara fair dan sportif,” ujarnya, Senin (14/10/2024).

Upaya manipulatif dan memelintir survei Indikator ini juga diimbuhi dengan komentar dari pengamat politik dari UIN Alauddin Makassar, Ibnu Hadjar Yusuf.

“Sebagai akademisi, terlepas dari dukung mendukung satu paslon, sejatinya dia harus tetap mengedepankan integritas intelektualnya, bukan malah jadi corong untuk membohongi warga,” imbuhnya.

Menurut Saiful, upaya semacam ini menjadi satu episode terburuk dalam tahapan proses pemilihan pemimpin di Sulsel karena sudah menabrak batas etika bahkan menebar kebohongan.

“Mengapa saya bilang begitu, karena tampilan hasil ini adalah hasil survei Indikator untuk basis pemilih di Makassar. Namun dimanipulasi seolah-olah ini adalah hasil survei Indikator untuk Sulsel.

“Sulit membayangkan bila kelak kita dipimpin oleh sosok dengan karakter seperti itu,” pungkasnya.

Sebagai informasi, survei nasional yang Indikator milik Prof. Burhanuddin Muhtadi MA Ph.D, merilis survei terbarunya terkait Pemilihan Gubernur (Pilgug) Sulawesi Selatan (Sulsel). Hasilnya, elektabilitas pasangan calon (paslon) Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalan Hati) unggul sangat jauh dari paslon Danny Pomanto-Azhar Arsyad (DIA).

Laporan lembaga survei nasional yang menempati peringkat teratas dalam kredibilitasnya ini, paslon Andi Sudirman-Fatma jauh melejit dengan capaian elektabilitas 63,1 persen. Paslon Danny Pomanto-Azhar Arsyad jauh tertinggal dan hanya memperoleh elektabilitas 17, 9 persen. Responden yang belum menentukan pilihan sebesar 18,9 persen. Sedangkan yang menyatakan diri golput atau tidak memilih sebesar 0,2 persen. (*)