Beras Oplosan: Saat Kita Ditipu di Meja Makan

  • Whatsapp
Tapi bagaimana jika nasi itu—yang dibeli dengan harga mahal, dengan label “beras premium”—ternyata palsu? Dioplos.
Tapi bagaimana jika nasi itu—yang dibeli dengan harga mahal, dengan label “beras premium”—ternyata palsu? Dioplos.

Oleh: Andi Anita Anggriany Amier*

Pagi hari. Seorang ibu membuka rice cooker di dapur mungilnya. Uap nasi mengepul, harumnya memenuhi ruangan. Di luar, anak-anaknya bersiap berangkat ke sekolah. Ia mencidukkan nasi, menatanya di piring dengan hati-hati. Ia tahu, ini bukan sekadar sarapan. Ini energi, ini harapan, ini cinta.

Tapi bagaimana jika nasi itu—yang dibeli dengan harga mahal, dengan label “beras premium”—ternyata palsu? Dioplos. Beratnya dikurangi. Mutunya tak sesuai. Dan ia, tanpa sadar, telah memberi makan anak-anaknya dengan sesuatu yang tak seperti yang dijanjikan oleh label di karung beras.

Bacaan Lainnya

Inilah kenyataan pahit yang diungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman belum lama ini. Sebuah temuan yang membuat banyak orang terdiam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena selama ini mereka memang sudah curiga, hanya tak tahu ke mana harus bertanya.

Dari investigasi yang melibatkan 13 laboratorium di 10 provinsi dan meneliti 268 merek beras, ditemukan fakta mencengangkan: 85 persen beras premium di pasaran adalah hasil oplosan. Tak hanya itu, **hampir 60 persen dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) dan 21 persen tidak sesuai berat kemasan. Artinya, rakyat membayar mahal untuk barang yang kualitasnya menurun dan timbangannya pun dikurangi.

Dan kita bicara bukan hanya tentang satu-dua produsen. Menteri Amran melaporkan 212 produsen ke Kapolri dan Jaksa Agung. Ini bukan soal satu pasar kecil di sudut kota. Ini soal sistem distribusi pangan nasional yang keropos di banyak titik.

Beras adalah makanan pokok lebih dari 270 juta penduduk Indonesia. Kita menyebutnya nasi, dengan penuh takzim, karena ia bukan sekadar sumber karbohidrat. Ia adalah pengikat sosial. Ia adalah lambang kerja keras petani, perjalanan panjang dari sawah ke meja makan. Maka ketika beras dioplos dan dijual dengan harga tinggi, itu bukan cuma soal ekonomi—itu pengkhianatan terhadap kehidupan orang banyak. Kita telah ditipu mentah-mentah di meja makan kita.

Lebih menyakitkan lagi, ini terjadi di saat produksi nasional justru meningkat. Data FAO memperkirakan produksi beras Indonesia 2025/2026 mencapai 35,6 juta ton, jauh melampaui target nasional yang hanya 32 juta ton. Artinya, stok beras melimpah. Seharusnya, harga turun. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: harga tetap tinggi, bahkan melambung.

Pos terkait