Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan Sumatra Utara menjadi wilayah yang relatif cepat pulih pascabencana banjir bandang dan tanah longsor. Adapun daerah dengan tantangan pemulihan terberat adalah Aceh Tamiang.
“Yang paling berat adalah Aceh Tamiang karena pemerintahannya belum berjalan efektif dan ekonominya juga belum berjalan maksimal,” kata Tito dalam rapat koordinasi pimpinan DPR RI bersama Satgas Pemulihan Pascabencana dan kepala daerah terdampak bencana, Selasa (30/12).
Tito menyebutkan masih terdapat lima wilayah di Sumatra Utara yang dalam proses pemulihan, yakni Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kota Sibolga. Di Aceh, terdapat tujuh wilayah yang masih menjadi perhatian pemerintah, antara lain Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Sementara di Sumatra Barat, tiga daerah yang terdampak adalah Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.
Secara keseluruhan, terdapat 52 kabupaten/kota terdampak bencana di tiga provinsi, masing-masing 18 wilayah di Aceh, 18 wilayah di Sumatra Utara, dan 16 wilayah di Sumatra Barat.
Mendagri juga melaporkan kebutuhan anggaran pemulihan bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra mencapai sekitar Rp59,25 triliun. Anggaran tersebut terdiri atas Rp33,75 triliun untuk Aceh, Rp13,5 triliun untuk Sumatra Barat, dan Rp12 triliun untuk Sumatra Utara.
“Anggaran itu mencakup berbagai komponen, mulai dari pembangunan kantor desa, sekolah, fasilitas kesehatan, jembatan, hingga infrastruktur lainnya,” ujar Tito. ***






