Olehnya, Gubernur Longki Djanggola meminta agar Ketua Umum PB PMII Aminuddin Ma’ruf meminta maaf secara terbuka atas pernyataannya yang melukai hati masyarakat Sulawesi Tengah itu.
“Sudah sepatutnya, Ketua Umum PB PMII meminta maaf atas pernyataannya yang melukai perasaan masyarakat Sulteng secara umum itu dan secara khusus melukai hati umat Islam di Sulawesi Tengah,” tandas Longki.
Gubernur juga meminta agar kader PMII dan Majelis Ulama Indonesia Sulteng turut melayangkan protes mereka.
Seperti yang sudah dilansir sejumlah media, Aminudin Ma’ruf menyebut bahwa di wilayah Palu, Tanah Tadulako banyak gerakan radikal.
Kata dia, “Pak presiden kami sengaja laksanakan kongres di Tanah Tadulaku bertema meneguhkan konsensus bernegara untuk Indonesia berkeadaban. Tanah ini pusat radikal Islam. Di tanah ini pusat dari gerakan menentang NKRI, PMII sengaja membuat Kongres di tanah ini untuk membuktikan jika ada PMII tidak sejengkal tanah pun PMII mundur untuk mereka yang mau mengubah Pancasila dan mengancam NKRI. Sebelum kami maju ada Pak Tito yang maju duluan, ada kakak Banser. Kalau Pak Tito sudah kalah baru PMII maju.”
Sekarang pernyataannya yang sempat diberi tepuk tangan dan derai tawa oleh peserta Kongres itu kini menuai kecaman dari sejumlah kalangan. Ibarat kata tetua-tetua kita, “karena mulut badan binasa” itulah yang dialami oleh Aminuddin Ma’ruf kini.
(Palu Ekspres)






