Yang tidak kalah penting, menurut Rafani, ialah para pelajar dapat mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan produktif yang positif, di lingkungan sosial masyarakat, selama bulan Ramadan.
“Misalnya, dengan ikut bergabung dalam komunitas, yang peduli terhadap anak yatim piatu di panti asuhan, bagi-bagi takjil (makanan berbuka puasa) di jalanan, atau ikut pesantren kilat Ramadan, baik di sekolah maupun di mesjid sekitar, untuk menambah ilmu pengetahuan agama, yang pasti harus ada kegiatan positif dan produktif, ” tuturnya.
Hal tersebut, lanjut Mahasiswa Universitas Tadulako ini, haruslah menjadi prioritas, bagi para orang tua. Sehingga, jangan sampai para pelajar, khususnya di Sulteng, hanya menghabiskan waktu di bulan Ramadan, misalnya dengan nongkrong di jalanan, atau melakukan perbuatan sia-sia lainnya.
“Ini bisa jadi bahaya, jika misalnya ternyata teman nongkrongnya, adalah orang-orang yang tidak baik, contohnya pecandu narkoba, akan sangat rawan, untuk seseorang ikut terjangkit narkoba. Atau juga perilaku dan lingkungan pertemanan yang tidak sehat lainnya. Jika jauh dari kontrol orang tua, ini bisa sangat berbahaya. Maka, dengan kegiatan-kegiatan yang produktif dan positif, akan sangat membantu para pelajar kita, untuk mengisi Ramadannya, menjadi lebih bermakna dan mendidik,” tandasnya.
(abr/Palu Ekspres)






