Kenaikan harga bawang putih disadari betul oleh pemerintah. Sekalipun jenis rempah yang satu ini, tingkat kebutuhannya tidak sevital cabe atau tomat, pemerintah tidak abai terhadap keberatan warga yang kesal dengan meroketnya bawang putih.
Karena itu, Elim Somba menyebut dalam dua atau tiga hari kedepan, pemerintah melalui Bulog akan mengintervensi pasar.
Intervensi diharapkan mampu menetralisir komoditi ini yang kini harganya terus naik menyundul langit di titik Rp75 ribu atau Rp80 ribu per kilogram. Angka ini ungkap Elim memang dianggap memberatkan setidaknya jika dibanding harga normal yang berkutat dikisaran Rp35 ribu/kilogram.
Menjawab pertanyaan wartawan, mantan Plt Kepala Bappeda Sulteng ini, mengatakan, naiknya harga bawang putih salah satunya disebabkan oleh tingginya kebutuhan komoditi tersebut pada bulan ramadan.
Selain itu rantai distribusi ikut pula berkontribusi pada kenaikan harga. Ia menyebut pada beberapa hari kedepan, selain dari Bulog pasar bawang putih di Palu akan disuplai dari daerah tetangga Sulawesi Selatan. Namun yang paling cepat adalah bawang putih yang didatangkan Bulog Sulteng dari Jawa Timur.
Karenanya, ia meminta warga tidak perlu panik. Pemerintah terus mencari jalan keluar untuk menyiasati situasi yang tidak menguntungkan ini. Beruntung, ungkap Dosen Pertanian Universitas Tadulako ini, dari sejumlah item kebutuhan dasar warga di bulan ramadan, hanya bawang putih yang harganya naik tak karuan.
Komoditi lainnya, bawang merah, cabe, tomat, beras dan daging sapi serta ayam harganya relatif stabil. Untuk ayam potong ungkap Elim ada kenaikan dari Rp50 ribu/ekor menjadi Rp60 ribu/ekor. Kenaikan ini dianggapnya masih dalam toleransi mengingat kebutuhan warga pada saat ramadan yang cukup tinggi.
Demikian pula daging sapi, terjadi kenaikan dari Rp100 ribu/kilogram kini dikisaran Rp110 ribu. Kenaikan yang masih cukup wajar ditengah tingginya kebutuhan daging di momen bulan suci ini. Namun yang menggembirakan kata dia, pihaknya mendapat garansi dari penjual daging sapi di Pasar Masomba, bahwa harga Rp110 ribu itu adalah batas tertinggi.
Dan hampir dipastikan tidak naik lagi. Namun penjual daging sapi ini mengingatkan, harga tersebut bisa stabil jika rumah potong hewan di Palu konsisten memasok daging sapi sesuai kebutuhan. Ia menyebut, idealnya rumah potong memasok 25 ekor daging sapi per hari. Namun dari 25 ekor tersebut hanya 20 ekor yang disuplai ke pasar Masomba.
Ia mengkhawatirkan jika pasokan terus kurang, kemungkinan harga naik akan naik melewati Rp110 ribu sebagai angka moderat yang disepakati pedagang selama ini.
Mengakhiri sidaknya, kepada wartawan Elim meminta, pelaku bisnis sembako tidak mematok harga yang bisa mencekik leher konsumen. Terlebih jika tidak ada alasan yang membuat harga kebutuhan pangan itu naik.
Misalnya gagal panen atau sarana transportasi yang rusak sehingga berakibat pada mata rantai distribusi. ”Kita imbau semua pihak yang terlibat dalam mata rantai sembako menjamin ketersediaan kebutuhan sembako secara kontinyu.
Kami dari pemerintah akan terus memastikan tata niaga sembako berjalan dengan lancar dengan transaksi yang moderat serta tidak merugikan satu sama lain. Konsumen senang, pedagang untung, pemerintah tenang” pungkasnya.
(kia/Palu Ekspres)






