Pemberantasan Frambusia Butuh Komitmen Bersama

  • Whatsapp

SOSIALISASI FRAMBUSIA – Sosialisasi Pemberian Obat dan Pencegahan Massal (POPM) Frambusia di daerah endemis wilayah Kabupaten Parigi Moutong yang dihadiri sejumlah stakeholder.(F/Ahmad Udyn/PE)

PARIMO, PE – Pemberantasan frambusia atau sejenis penyakit kulit yang menyerang sekujur tubuh membutuhkan komitmen bersama guna mendukung eliminasi penyakit itu. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidan Penanganan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Parigi Moutong, I Gede Widiadha. saat menyampaikan  sosialisasi Pemberian Obat dan Pencegahan Massal ( POPM ) Frambusia di daerah endemis wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Rabu 7 Oktober. ”Kita berharap pemberantasan penyakit frambusia itu melibatkan semua pihak, termasuk bupati, camat hingga rukun warga,” katanya dalam sosialisasi intensifikasi penemuan kasus frambusia di Kecamatan Palasa Lebak.

Ia mengatakan, penemuan kasus Frambusia di Kecamatan Palasa tercatat 21  kasus dan hingga saat ini belum terbebas dari penularan penyakit kulit tersebut. Menurut dia, semua penderita Frambusia adalah warga Komunitas Suku pedalaman yang jauh dari ibu kota kecamatan Palasa. Dari 21 kasus Frambusia itu, pihak Dinkes kabupaten sudah melakukan upaya untuk mengatasi termasuk melibatkan pemerintah kecamatan dan desa itu sendiri.

“Semua penderita penyakit Frambusia itu mendapat pengobatan agar mereka tidak menularkan kepada warga lainnya, dengan jalan melibatkan pemerintah mulai dari kecamatan hingga ke desa,” tuturnya.
Ia menyebutkan di Kabupaten Parigi Moutong sebagi daerah endemis penyebaran penyakit Frambusia hanya ada di Kecamatan Palasa. Hal ini diperlukan dukungan mulai dari bupati, camat, kepala desa, hingga rukung warga. Penyebab penyakit Frambusia itu, katanya, terjadi karena buruknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) warga setempat hingga muda terserang penyakit tersebut.

“Sebab mereka tingkat PHBS sangat rendah, seperti berpakaian sampai berminggu-minggu tidak diganti, mandi tidak menggunakan sabun, dan bahkan warga pedalaman ketika tidur tidak beralas tikar,” ungkapnya.
Perilaku seperti itu, kata dia, merupakan kebiasaan masyarakat pedalaman yang kurang memahami PHBS, sehingga petugas medis kesulitan untuk mengubah pola hidup bersih dan sehat.
“Saya kira dengan hidup kurang bersih tentu sangat rawan terhadap penyebaran penyakit menular, seperti Frambusia itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan petugas medis hingga saat ini terus melakukan pengobatan maupun pencegahan penyebaran penyakit tersebut. Meskipun penyakit Frambusia itu tidak mematikan, karena menyerang pada bagian kulit saja, seperti luka koreng, katanya, tetapi bisa menurunkan produktivitas.
Ia menjelaskan, pengobatan Frambusia dilakukan dengan penyuntikan jenis Benzetin untuk membunuh kuman-kuman pada bagian tubuhnya. Namun, katanya, hingga saat ini penyakit koreng-koreng yang menyerang bagian kaki, tangan, dan badan belum terbebas dari daerah itu.

“Kami terus melakukan pemantauan dan pengawasan agar penderita itu tidak menular pada warga lainnya,tentunya akan melibatkan stakholder yang ada”pungkanya. Dalam sosialiasai Frambosia yang berlangsung di aula pertemuan BKD,dihadiri sejumlah stakeholder, baik dari pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa termasuk semua perwakilan dari masing – masing Puskesmas yang ada di kabupaten Parigi Moutong.(ady)

Pos terkait