”Provokasi Korut membuat kami bereaksi lebih dari sekadar sebuah pernyataan,” ujar Presiden Korsel Moon Jae-in.
Korsel dan AS sudah lama bersekutu. Ada 28.500 prajurit AS yang ditempatkan di Korsel. Secara teknis, Korut dan Korsel masih berada dalam kondisi perang sejak 1953.
Dua negara di Semenanjung Korea itu hanya menandatangani perjanjian damai dan melakukan gencatan senjata demi mengakhiri Perang Korea.
Komandan Pasukan Gabungan AS Jenderal Vincent Brooks menegaskan bahwa satu-satunya yang menjadi pemisah antara gencatan senjata dan perang dengan Korut adalah karena mereka menahan diri. Namun, jika ada perintah dari pimpinan mereka, tidak tertutup kemungkinan serangan betulan akan dilakukan.
Korut memang telah membuat berang negara-negara lain lantaran terus-menerus menggelar uji coba misil dan nuklir. Dewan Keamanan (DK) PBB kemarin langsung menggelar rapat dararut untuk membahas tindakan Pyongyang.
Bisa jadi, DK PBB akan menelurkan sanksi-sanksi tambahan. Namun, sebagaimana sanksi-sanksi sebelumnya, Korut mungkin lagi-lagi tak menggubris. Pertemuan G-20 di Hamburg, Jerman, Jumat (7/7) juga bakal membahas tentang Korut.
Alih-alih menahan diri seperti permintaan sekutu-sekutunya, Korut malah menambah panas situasi dengan menyatakan bahwa Hwasong-14 alias KN-14 yang diuji coba pada Selasa pagi (4/5) itu mampu membawa hulu ledak nuklir berukuran besar.
Lewat kantor berita KCNA, Kim Jong-un mengungkapkan bahwa kini kemampuan presenjataan negaranya telah lengkap. Mereka memiliki bom atom, bom hidrogen, serta misil balistik interkontinental (ICBM).
Militer AS mengonfirmasi kebenaran bahwa yang diuji coba Korut itu adalah ICBM. Bukan sekadar misil jarak menengah seperti dugaan awal.






