oleh

Kemiskinan akan Jadi Pembahasan Rutin

PALU EKSPRES, AMPANA – Ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) triwulan (TW) I 2017 terhadap TW I 2016 atau E one E tumbuh 3,91 persen. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pengadaan litrik dan gas 11,71 persen.

“Adapun dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen impor luar negeri barang dan jasa yang tumbuh 81,34 persen,” kata Sekertaris Daerah Provinsi Sulteng, Dra. Derry Djanggola, M.Si saat membuka Rapat Koordinasi Perekonomian Provinsi Sulteng yang dipusatkan di Kabupaten Touna, Rabu 19 Juli 2017 malam yang dilaksanakan di Hotel Grand Pink.

Sementara itu katanya, ekonomi Sulteng TW I 2017 terhadap TW sebelumnya Q two Q mengalami kontraksi sebesar 0,09 persen.

Dari sisi lapangan usaha, kontraksi terendah terjadi pada kategori jasa keuangan dan asuransi yang turun sebesar 4,13 persen.

“Sedangkan dari sisi pengeluaran kontraksi terendah terjadi pada komponen pembentukan modal tetap bruto minus 16,44 persen,” ujarnya.

Dikatakannya, jika melihat dari angka-angka ekonomi Sulteng TW I 2017 dibanding TW IV 2016 Q two Q relatif stagnan.

Hal tersebut dikarenakan adanya kontraksi dari beberapa kinerja bidang usaha “Data ini sumbernya dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng,” katanya.

Ditambahkannya, inflansi merupakan suatu hal yang menjadi perhatian pihak-pihak terkait, Pemerintah dan Bank Indonesia.

“Berdasarkan laporan Bank Indonesia bahwa perkembangan harga barang dan jasa di Sulteng semakin terkendali,” jelasnya.

Namun, kata dia, tekanan inflansi pada triwulan 1 2017 sedikit meningkat seiring masih berlangsungnya dampak lanjutan anomalis cuaca lamina.

“Olehnya, melalui koordinasi yang baik melalui TPID, kami optimis target inflansi hingga akhir tahun bisa tertekan 4 hingga 1 persen,” harapnya.

Sementara itu Wakil Bupati Tojo Una-una (Touna) Admin AS. Lasimpala, SIP menyampaikan, berbicara tentang memerangi kemiskinan tentunya tidak bisa melupakan apa yang dinamakan inflasi. Ketika inflasi tidak terkendali, otomatis daya beli turun.

“Kecuali diimbangi dengan peningkatan pendapatan. Tetapi untuk mempertahankan saja sulit apalagi untuk meningkatkan pendapatan,” kata Wabup.

Menurutnya, untuk memerangi kemiskinan, inflasi harus ditekan. Untuk bisa menekan inflansi harus mendorong produkvitas. “Kalau tidak kemiskinan akan menjadi rutinitas kita bicarakan,” tegasnya.

“Olehnya melalui rakor perekonomian ini dapat melahirkan konsep strategis yang dapat menekan inflansi,” harapnya.

(mg3/Palu Ekspres)

News Feed