Minggu, 5 April 2026
Agama  

Kakanwil Kemenag Dorong Ponpes Terus Lahirkan Kader Bangsa

PALU EKSPRES, PALU – Keberadaan pondok pesantren (ponpes) sebagai lembaga pendidikan tertua, yang telah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia, telah banyak melahirkan santri yang menjadi kader bangsa. Sehingga, di era yang semakin maju dan penuh tantangan saat ini, ponpes dituntut terus maju dan meningkatkan diri, untuk dapat mempertahankan peranannya dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa ke depan.

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng, H. Abdullah Latopada, saat membuka kegiatan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat Provinsi Sulteng, di Wisma Alam Raya, Senin (25/9).

“Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua, yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Olehnya pemerintah tidak melihat pendidikan pesantren sebelah mata, pemerintah tidak boleh melupakan pesantren karena telah menghasilkan banyak tokoh bangsa. Para Kyai dan santri, berperan besar melahirkan negeri ini, seperti KH Hasyim Asy’ari melalui NU, dan juga Kyai-kyai Muhammadiyah,”

Persoalan kebangsaan kata Abdullah, turut menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi oleh ponpes. Menurutnya, kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini, dihadapkan pada pertarungan ideologis yang sangat luar biasa. Olehnya ia menegaskan, pesantren harus menjadi garda terdepan dalam menguatkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

“Jadikan santri sebagai kader bangsa, maka tidak boleh diajarkan kepada mereka, tentang menentang bangsa. Harus mengajarkan Islam sejuk, bukan Islam teroris, mencetak santri berakhlak dan tahu etika, bukan mengajarkan kekerasan dan dosa,” tegas Abdullah.

Tantangan lainnya lanjut Abdullah, yakni ponpes harus dapat merespon terjadinya kelangkaan Kyai atau Ulama, di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencetak seorang Kyai atau Ulama, menurutnya tidaklah mudah, karena harus memenuhi persyaratan lahiriyah, yakni yakni harus memiliki seperangkat keilmuan agama yang komprehensif, serta syarat batiniyah harus memiliki tingkat spiritualitas yang hebat.

“Untuk mencapaiya, dibutuhkan proses pelatihan dan riyadhah yang luar biasa, dan itu membutuhkan waktu yang lama. Ini hal yang perlu kita cermati bersama untuk dicarikan solusinya,” ujarnya.

Kegiatan MQK kata Abdullah, dapat menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut. Melalui kegiatan ini, menunjukkan bahwa ponpes tidak kehilangan auranya, dalam pengkajian dan pengakraban ilmu-ilmu agama, yang terkandung dalam kitab kuning oleh para santri.

“Para santri inilah, yg akan jadi pewaris para Ulama. Dan Ulama merupakan pewaris Nabi,” imbuhnya.

Selain kedua tantangan di atas, tantangan lainnya disebutkan Abdullah, adalah arus modernitas global yang saat ini terjadi sangat cepat. Untuk menghadapinya, ponpes dituntut untuk mampu mengadaptasi perubahan zaman, di samping memertahankan tradisi membaca kitab kuning.

“Yang perlu dikuatkan ke depannya, adalah bagaimana ponpes dapat mengembangkan kehidupan modern, tapi tidak meninggalkan fungsi-fungsi tafaqquh fid-din. Santri tidak boleh meninggalkan pola pikir modern, walaupun pakai sarung tradisional, tapi otaknya penuh ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki pemikiran yang moderat dan bijaksana,” ujarnya lagi.

Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kemenag Sulteng, H. Kiflin Padjala menjelaskan, MQK tingkat Provinsi Sulteng yang dilaksanakan hingga 28 September 2017, merupakan seleksi untuk mengikuti MQK tingkat Nasional, yang akan diselenggarakan di Kabupaten Jepara Jawa Tengah, pada 29 November hingga 7 Desember 2017 mendatang.

Kegiatan MQK tigkat Provinsi Sulteng tahun ini, diikuti oleh 84 orang santri, dari berbagai ponpes yang berasal dari 7 Kabupaten dan Kota di Sulteng. Para santri akan memperlombakan 13 kitab kuning, dan terbagi dalam tiga katagori, yakni Ula, Wustha dan ‘Ulya.

“Kami bangga dan mengapresiasi keikutsertaan para santri. Diharapkan, pondok tidak terlupakan sejarah sebagai pembangun negara, sehingga bisa melahirkan santri, yang bisa diwariskan negara ini kepada mereka, dan bisa mewarnai bangsa ke depan,” ujar Kiflin.

(abr)