Reny sebelumnya menyebut angka penderita kematian akibat penyakit jantung lebih dominan dibanding dari penyakit lain. Penanganan atau tindakan pasien penyakit jantung menurutnya harus dilakukan secara cepat. Karena itu mutlak diperlukan rumah sakit khusus.
Renny mengisahkan, dahulu penderita penyakit jantung hanya ada pada tataran pejabat atau pengusaha. Namun saat ini penderitanya sudah dari semua kalangan dan lapisan masyarakat. Ini ujarnya merupakan dampak pola hidup yang kurang teratur. Sesuai data yang ada,Sulteng sebut Reni berada pada urutan kedua setelah NTT untuk kasus terbanyak penderita penyakit jantung.
Oleh sebab itu, kedepan Sulteng harus membentuk RS Jantung walaupun tidak sebesar RS Jantung harapan kita. Menurutnya, menjalankan SISRUTE biayanya sangat mahal. Harganya menembus hingga Rp2 miliar. Namun kini sistem tersebut telah diambilalih Kementerian Kesehatan. Sehingga kemudian Sulteng dapat menggunakan sistem tersebut secara gratis.
“Kedepan RS Undata akan memberikan kemudahan bagi pasien yang dirujuk ke rumah sakit. Karena sistem ini akan terintegrasi dengan puskesmas dan seluruh rumah sakit di Sulteng,”demikian Reni.
Direktur RS. Wahidin Sudiro Husodo, Halik Saleh, pencetus aplikasi SISRUTE menyebut sistem itu lahir akibat adanya penolakan pasien dari rumah sakit. Serta tidak adanya informasi valid terkait informasi rujukan pasien.
“Berangkat dari permasalahn itu maka dicetuskanlah sitem ini di RS Wahidin Sudiro Husodo Makassar,”ungkapnya. Awalnya jelas Halik, sistem itu hanya diikuti 6 rumah sakit. Melihat manfaatnya yang besar, kini sistem sudah mengintegrasikan seluruh RS dan Puskesmas di Makassar. “Dan karena sistem ini baik, maka selanjutnya iambilalih pepartemen kesehatan untuk digunakan pada seluruh Rumah Sakit di Indonesia,”katanya.
(mdi/Palu Ekspres)






