oleh

Hadapi MEA, Karakter Bangsa Harus Dibenahi

BINCANG GENRE; Dari kiri ke kanan, tampak Kepala BKKBN RI, Surya Chandra Surapaty bersama dua narasumber lainnya, Ketua Koalisi Kependudukan Sulteng, Prof Dr  Chairil Anwar dan Wakil Ketua DPRD Sulteng, Alimudin Paada dalam bincang Genre di salah satu warkop di Kota Palu, Sabtu malam, 31 Oktober 2015.

Kepala BKKBN Pusat dalam Bincang-bincang Menghadapi MEA dan Menyongsong Bonus Demografi

TINGGAL menghitung hari, akhir 2015, masyarakat Asean akan memasuki era pasar bebas Asean atau yang lebih dikenal dengan sebutan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).
Menghadapi Era ini, bangsa Indonesia juga akan menghadapi persaingan tenaga kerja yang semakin ketat. Apakah yang harus dilakukan bangsa ini menghadapi era itu?

Laporan Maria Sandipu/Palu Timur

MEA sebagai peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia. Begitu kata Kepala BKKBN RI, Surya Chandra Surapaty saat berbincang-bincang bersama Generasi Berencana (Genre) Kota Palu Menghadapi MEA dan Menyongsong Bonus Demografi 2020-2035, di salah satu warkop, Sabtu malam, 31 Oktober 2015.

Menghadapi era ini, tak ada kunci ampuh selain menyiapkan SDM generasi muda. SDM seperti apakah yang harus dipersiapkan bangsa ini agar tidak terhempas dalam persaingan pasar bebas MEA?
Jawabannya kata Surya Chandra SDM yang berkarakter. Untuk mendapatkan SDM yang berkarakter, bangsa ini harus melakukan revolusi mental total. Revolusi mental akan melahirkan generasi bangsa yang berkarakter yang pada akhirnya berkualitas dan berdaya saing. Sangat mudah kata Surya Chandra untuk bisa membangun revolusi mental. Caranya kata Surya Chandra dimulai dari dalam diri sendiri.

Mengutip kata-kata sang proklamator, Bung Karno, Surya Chandra menegaskan bahwa revolusi mental adalah gerak hidup baru yang berhati putih, berkemauan baja dan kokoh seperti elang dan rajawali serta berapi-api.  ’’Sebenarnya revolusi mental itu adalah bagian dari implementasi sila-sila dalam pancasila. Mulai dari sila pertama hingga sila ke lima. Renungkan dan aplikasikanlah sila-sila itu dalam hidup kita. Niscaya kita akan menjadi generasi yang terbarukan,’’ ujarnya

Pendidikan formal kata Surya Chandra bukan satu-satunya strategi membentuk generasi yang berkualitas. Setinggi apapun latarbelakang pendidikan seseorang bukan jaminan untuk mencapai kesuksesan bangsa bila tidak dibarengi karekter yang kuat dan berkualitas. ‘’Biar sampai S3 atau apapun pendidikan, tapi kalau tidak memiliki karakter sia-sia saja. Biar nggak lama sekolah tapi karakter kuat kita sukses,’’tandasnya.

Untuk membentuk karakter bangsa tidak mahal dan tak membutuhkan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran untuk membawa perubahan dalam pola pikir dan pola tindak.
Bangsa yang merdeka katanya, adalah bangsa yang bukan hanya terbebas dari belenggu penjajahan namun juga terbebas dari masalah-masalah klasik yang ada. ‘’Kalau masih banyak yang bodoh, sakit-sakitan dan hidup miskin berarti masih belum merdeka,’’ ujarnya.

Olehnya, Surya yang hadir bersama sejumlah narasumber di antaranya, Ketua Koalisi Kependudukan Sulteng, Prof Dr Chairil Anwar, kemudian Kepala Pemberdayaan Perempuan dan KB Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, serta Wakil Ketua DPRD Sulteng, Alimuddin Paada berharap gerakan ini segera dilakukan secara masif di seluruh nusantara. Yang dimulai dari dalam diri sendiri hingga ke kelompok yang lebih besar. Ini juga menjadi rangkaian persiapan bangsa menghadapi bonus demografi Indonesia 2020-2035 mendatang.

Mendukung seruan kepala BKKBN, dalam pernyataan akhir, dua dari tiga narasumber yang turut dalam bincang-bincang itu pun menyerukan hal yang sama. Bahwa sebagai pemuda, generasi muda harus menyiapkan diri dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan pembangunan bangsa. Seperti yang diungkapkan Ketua Koalisi Kependudukan Sulteng, Prof Chairil Anwar dan Wakil Ketua DPRD Sulteng, Alimudin Paada. Generasi muda yang tangguh dan berkualitas kata kedua narasumber  adalah generasi muda yang siap dan kreatif dalam mengisi pembangunan. (***)

News Feed