Saat itu pasukan sudah meminta izin kepada Pangdam XVII/ Cenderawasih untuk mengambil tindakan tapi belum diizinkan.
“Petunjuk Panglima, apabila masih menyatu dengan rakyat jangan melakukan aksi apa-apa, karena kita mengutamakan tindakan kemanusiaan,” ungkap Aidi.
Keesokan harinya, tepatnya Jumat (17/11) menjelang jam ‘J’ yang sudah disepakati, pasukan memantau pergerakan KKB ke pos-pos yang sudah dibuat di daerah ketinggian.
Mengingat jarak sudah sangat dekat dan takut pergerakannya diketahui, Aidi menyebut pasukan tidak makan selama sehari, karena takut jika gerakan mereka diketahui oleh KKB. “Dia benar-benar membeku di situ,” tandas Aidi.
Ketika KKB sudah ke pos –pos yang didirikan sendiri, pasukan TNI menggunakan kesempatan itu untuk melakukan aksi serentak atas komando Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI George Elnadus Supit.
Kabut cukup tebal pagi itu sehingga jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter dan tidak mungkin dilakukan pengejaran.
Aidi mengungkapkan kontak senjata terjadi selama sekitar 2 jam, namun KKB mundur dan menjauh dari perkampungan.
Pasukan tidak langsung melakukan pengejaran, karena mengutamakan pengamanan warga yang tersandera.
Ketika warga bisa diinventarisir, tim terpadu TNI dan Polri langsung diminta untuk melakukan evakuasi. Saat evakuasi KKB juga masih melakukan penyerangan.
Warga yang dievakuasi secara spontan mengamankan diri, mencari tempat berlindung sehingga tidak ada korban.
“KKB masih terus menyerang dari ketinggian jarak jauh, bahkan Kapolda dan Pangdam hampir terkena tembakan saat proses evakuasi,” ungkap Aidi.
Aidi menegaskan, bahwa TNI bersama Polri akan terus melakukan pengejaran terhadap KKB, karena sudah banyak sekali kejahatan yang dilakukan mereka.
(sun)






