Selanjutya, bila dominasi di parlemen kian menguat, Nasdem akan dengan gampang memenangkan calon dan kadernya dalam Pemilu Kepala Daerah. Pemilihan Gubernur Sulteng tahun 2021 nanti, akan menjadi pertaruhan terbesar Nasdem dalam konteks Sulteng.
Hitung-hitungan ini bisa saja tercapai berkat kehadiran Cudi. Maklumlah, Cudi adalah tokoh besar dengan tingkat popularitas dan elektabilitas yang tak kecil. Kekalahan Cudi dalam Pemilihan Gubernur 2016 lalu, tidaklah menjadi handicap yang buruk baginya. Toh juga Cudi kalah dari figur yang tak kalah populer dan hebat darinya, yakni Gubernur Sulteng saat ini, Longki Djanggola.
Peluang untuk lebih eksis itulah yang dimanfaatkan oleh Cudi. Praktik ini yang disebut sebagai politik oportunis. Memang ini terkesan pragmatis. Tapi dalam politik, bukankah hal seperti ini dikatakan lumrah, meski secara etik, bisa diperdebatkan.
Seseorang dikatakan oportunis apabila ia berpihak pada suatu hal ketika hal tersebut menguntungkan dirinya. Beberapa pandangan menyebutkan, politik oportunis adalah sebuah ungkapan untuk memaknai kepentingan politik yang bukan lagi berdasarkan pengabdian, tetapi sebagai sebuah kepentingan untuk mencari duniawi.
Artinya soal etika dibelakangi dulu. Itu urusan kedua. Meski kemudian ada yang menilai tindakan Cudi ini bak seseorang yang setelah makan bersama lalu meninggalkan meja makan tanpa cuci tangan.
Ya, pengandaian ini, meski tak benar sekali, dapat diterima. Bagaimanapun Cudi dan Golkar itu tak bisa dipisahkan begitu saja. Sama-sama berkontribusi terhadap satu dan lainnya. Golkar eksis karena Cudi, sebalinyak Cudi besar karena Golkar. Artinya, harusnya bukan sesuatu yang mudah bagi Cudi meninggalkan Golkar hanya karena Nasdem membutuhkannya.
Mau diapa, semua sudah terjadi. Kini, Cudi sudah berbaju biru. Apakah ini sebuah praktik oportunis atau tidak, biarlah masyarakat yang menilai dan memutuskannya?
***






