Minggu, 5 April 2026
Palu  

Ini Bakteri yang Diduga Cemari Makanan Murid SD IT Al Fahmi

PALU EKSPRES, PALU – Insiden keracunan makanan siswa-siswi SDIT Al-Fahmi Palu, Senin 4 Desember 2017 langsung ditindaklanjuti para pihak terkait. Dinas kesehatan (dinkes) Sulteng bekerja sama Dinkes Palu langsung menerjunkan tim investigasi penyebab keracunan tersebut.

Kepala BPOM Palu, Safriansyah dalam keterangan persnya mengaku pihaknya juga telah mengambil sampel pangan yang dikonsumsi siswa untuk uji laboratorium kesehatan daerah.

“Semua sampel pangan, mulai dari nasi goreng, lauk, saus termasuk sampel dari muntahan korban keracunan,”kata Safriansyah, Senin 5 Desember 2017 di kantor dinkes Palu.

Dugaan sementara, bakteri yang mengontaminasi pangan siswa itu bakteri jenis staphyllococcus aureus (S Aureus). Itu menurut Safriansyah jika merujuk pada hasil sampel pangan yang pernah diteliti pada beberapa kasus keracunan pangan di sekolah yang pernah terjadi. ‎

“Kalau melihat gejalanya relatif sama. Menyebabkan muntah, diare dan demam,”jelasnya.

Dia menjelaskan, bakteri itu biasanya melekat pada kaki, kuku dan rambut manusia karena sanitasi lingkungan yang buruk. Bisa jadi sebutnya, pangan yang dikonsumsi terpapar dari sentuhan manusia.

“Tapi kami belum bisa memastikan jenis kumannya, dari mana asalnya. Apakah kontaminasi dari manusia, sanitasi lingkungan yang tercemar, atau memang dari bahan pangannya,”sebutnya.

Untuk hasil uji lab sendiri, kata Safriansyah baru bisa diketahui dua pekan mendatang. Uji sampel mikroba dan bahan kimia menurutnya berbeda. Bahan kimia cendrung lebih cepat dilakukan ketimbang mikroba.

Karena itu pihaknya belum dapat menyimpulkan jenis bakteri yang mengontaminasi pangan tersebut.‎

“Kita menunggu masa inkubasi kuman. Artinya kita menunggu kumannya hidup kembali untuk menegakkan jenis kuman. Ini butuh waktu relatif panjang,”jelasnya.

Sekretaris Dinkes Palu, Ilham menjelaskan, pihaknya pun saat ini sedang menunggu hasil uji lab tersebut. Serta menunggu perkembangan laporan tim investigasi yang dibentuk bersama Dinkes Sulteng.

“Saat ini tim masih berada dilapangan. Mencari penyebab apakah bakteri itu datang dari luar atau dari dalam lingkungan sekolah,”jelasnya.

Ditanya soal apakah insiden keracunan itu bisa ditingkatkan status menjadi kejadian luar biasa (KLB) atau tidak‎, kata Ilham, semunya baru bisa ditentukan setelah mengetahui hasil uji lab tersebut.

“Kita tunggulah dulu hasil uji labnya, baru kita bicara apakah itu masuk KLB atau tidak,”jelas Ilham.

Kepala Sekolah SDIT Al-Fahmi, Rahmawati Otolua yang juga hadir, menjelaskan, kejadian itu baru pertama kali terjadi di sekolahnya. Dia mengaku sedikit heran, karena tidak semua siswa yang keracunan dari sekian banyak siswa siswi yang mengonsumsi makanan tersebut.

“Siswa-siswi kami berjumlah hampir 700an. Ada juga yang makan tapi tidak keracunan. Bahkan ada beberapa guru juga tidak keracunan meski memakan pangan tersebut,”bebernya.

Namun begitu dia menyerahkan sepenuhnya penyebab pasti keracunan pada upaya yang saat ini dilakukan tim investigasi dan BPOM Palu.

Diapun membantaj jika penyediaan makanan dikelolah sendiri pihak sekolah.

“Kalau itu tidak benar. Karena kami memitrakan penyediaan makanan tersebut,”pungkasnya.

(mdi/Palu Ekspres)‎