Dewan Tolak Pengurangan Buruh Angkut Sampah

  • Whatsapp

PALU EKSPRES, PALU – Dewan Kota (Dekot) Palu menolak keras pengurangan tenaga buruh angkut sampah di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu. Sebagai bentuk penolakan, Dekot akan mengeluarkan rekomendasi kepada Wali Kota Palu.

Penolakan ini dikemukakan Ketua Komisi C Dekot Palu, Sophian R Aswin dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DLH Palu, Selasa 16 Januari 2017. RDP juga dihadiri perwakilan buruh angkut sampah.

Bacaan Lainnya

Sophian menilai pengurangan itu tidak manusiawi. Terlebih disaat Pemkot sedang menggenjot upaya penanggulangan kebersihan dan kebersihan kota.

“Saya faham betul bagaimana perasaan mereka. Sudah honornya kecil, kerjanya pun sangat berat,”kata Sophian.

DLH menurutnya tak boleh menjadikan alasan pengurangan itu untuk menyesuaikan alokasi anggaran yang telah ditetapkan dalam daftar penggunaan anggaran (DPA) tahun 2018. Dimana kata Sophian, insentif hanya dialokasikan bagi 3 buruh dan 1 sopir dalam setiap unit truck sampah.

“Kami di DPRD sudah mengawal anggaran itu, bahwa alokasi insentif untuk lima orang dalam setiap unit. Kenapa sekarang berubah menjadi 4 orang,”tanya Sophian.

Karenanya Sophian menyarankan untuk dilakukan penambahan kembali insentif untuk 1 buruh yang tidak masuk dalam DPA dengan metode pekerjaan mendahului.

“Kan bisa kita gunakan pola itu. Nanti setelah di perubahan APBD 2018 baru dimasukkan usulan anggarannya,”saran Sophian.

Untuk kepentingan itu, Sophian meminta Asisten 3, Muchlis Umar yang hadir mewakili wali kota untuk menyurat ke Komisi 3 Dekot agar kebijakan itu segera dilaksanakan.

“Setelah itu kami terbitkan rekomendasi pekerjaan mendahului itu,”tekan Sophian.

Sekretaris DLH Palu yang juga pelaksana tugas kepala DLH, Firman menjelaskan, penetapan DPA insentif buruh angkut 2018 sudah ada sebelum dirinya menjabat. Dia mengaku tidak punya kewenangan untuk mengubah DPA itu.

Namun menurutnya, untuk sementara, teknis pengangkutan sampah bisa dilakukan dengan sistem shift. Yakni buruh bergantian mengisi retase dalam setiap pengangkutan.

Dengan demikian, tak ada pengurangan buruh dalam setiap unit.

“Jatah retasenya yang kita kurangi untuk dibagikan pada satu orang yang tidak teranggarkan,”kata Firman.

Solusi akhirnya ditarik bahwa untuk satu minggu kedepan,seluruh sopir dan buruh tetap bekerja dengan pola tersebut. Sambil menunggu Dekot Palu menyusun rekomendasi penambahan anggaran insentif buruh yang terlanjur dikurangi. Para buruh dan sopir yang hadir sepakat dengan solusi tersebut.

(Mdi/Palu Ekspres)

Pos terkait