Sabtu, 4 April 2026
Palu  

Pengakuan Penggemar Film Dilan 1990, Nonton Hingga Puluhan Kali di Bioskop

Namun menurutnya, jika ditanya apakah ada pengalaman pribadi semasa SMA yang nyata atau mirip dalam film Dilan? Devi tegas menjawab tidak ada. Dirinya terdorong nonton film ini lebih ke soal kerinduan pada masa lalu.

Kebetulan, setting ceritanya memang sangat mirip. Misalnya, untuk apel malam minggu ke rumah cewek harus berhadapan dulu dengan orang tua di rumah. Seketika Devi mengaku teringat ayah kandungnya almarhum Sutomo Borman yang sangat ketat dan tegas mengurusi relasi antara dia sebagai ABG perempuan dan teman laki semasa SMA kala itu.

Hal lainnya adalah, karakter Dilan yang suka tawuran antargenk atau antarsekolah. Coba ingat, saat itu terjadi perkelahian anak-anak SMA I Palu sdengan anak STM Negeri Palu (SMK 3) kini atau dengan anak SMA 2 Palu. Padahal tawuran itu dipicu oleh hal-hal sepele.

Disamping plot cerita yang mengingatkan kenangan dekade 90-an, istri dari Stanley Panintjo ini, mengaku sosok Dilan adalah laki idaman ABG perempuan di masa itu. Mandiri, cool, cuek, suka ibadah dan bertanggungjawab. Karena itu, para ibu zaman now yang menjalani fase ABG pada 90-an, mengidamkan anak-anaknya ingin seperti karakter Dilan.

”Mungkin Dilan itu ideal ya, tapi setidaknya kta ingin anak-anak bisa seperti itu. Obsesi ini mungkin yang membuat kenapa bolak-balik nonton filmnya,” ujarnya tersenyum.

Pertama menonton film ini ia bersama keluarga kecilnya. Beriktuya bersama geng alumni SMA. Dengan geng alumni bahkan sempat nonton beberapa kali. Kemudian geng kantor. Pernah katanya, sehari dua kali nonton film ini. Yang terakhir malam tadi, ia mengajak Neni Muhidin – founder Perpustakaan Nemu Buku. Devi mengajak kolega dekatnya itu dengan dua syarat yang tidak boleh ditawar. Tidak boleh cerewet dan jangan mengeritik film ini. ”Pokoknya duduk, nonton dan nikmati,” tegas perempuan berjilbab ini mewanti-wanti kawannya itu.

*****