PALU EKSPRES, PALU – Dharmawanita DPW LPP RRI Palu, menyelenggarakan Pameran Tenun Karya Perempuan Penyintas di auditorium RRI Palu. Perempuan penyintas adalah mereka yang telah melampaui rasa sakitnya akibat peristiwa kekerasan, stigma dan diskriminasi yang pernah menderanya dimasa silam.
Namun tetap bertahan menenun kain Bomba demi menyangga ekonomi keluarga dan menjaga budaya tenunan Kaili.
Sabtu, 21 April lalu, para perempuan penenun berbagi kisah di balik karyanya. Tentang suka duka menjaga tradisi tenun. Mereka memeragakan cara bertenun dan memamerkan hasil karyanya.
Nurlaela Lamasitudju, Sekjend SKP-HAM Sulawesi Tengah, mengatakan, SKP-HAM telah 3 tahun mendampingi perempuan penenun ini. Selama waktu itu telah terbentuk kelompok tenun perempuan Bomba Kumbaja beranggotakan 21 orang terdiri dari penenun dan penjahit. Kelompok ini telah dilatih meningkatkan kapasitasnya dlm berkarya, mengembangan kain tenun menjadi beraneka ragam produk berupa, dompet, tas, pouch, tempat laptop dll.
Perjalanan kreativitas kelompok ini telah terekam dalam sebuah film “Bomba Kumbaja – Perempuan dan tenun” film ini akan dilauncing pada hari ini. Selain kisah penenun, ada pula kisah dan karya perempuan difabel yang turut dipamerkan pada hari ini.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, kami berharap tradisi menenun akan semakin dicintai oleh masyarakat, terutama generasi muda, agar mengenal budaya tenunan ini. Dengan membeli karya tenunan papa perempuan ini, masyarakat telah turut membantu kehidupan ekonomi mereka.
SKP-HAM mengapresiasi pihak pihak yang telah berkolaborasi dalam penyelenggaraan ini. antara lain, KNPI Kota Palu, Dharmawanita DPW LPP RRI Palu, Lavea – Bomba Kumbaja. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan Program Peduli melalui Indonesia Untuk Kemanusiaan.
(kia/Palu Ekspres)






