Minggu, 5 April 2026
Palu  

ISPA di Palu Meningkat Pada Usia diatas 5 Tahun

PALU EKSPRES, PALU – Jumlah penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) Kota Palu tahun 2017 pada kelompok usia diatas 5 tahun meningkat dari tahun sebelumnya. Namun begitu terjadi penurunan kasus pada kelompok usia dibawah 5 tahun. Pengelompokan pasien ISPA yang tercatat dari 13 Puskesmas se Kota Palu dibagi dalam dua kelompok usia. Yakni kelompok usia dibawah 5 tahun dan usia diatas 5 tahun.

Sesuai data dari dinas kesehatan (Dinkes) Palu, untuk tahun 2017 jumlah pasien ISPA pada kelompok usia 5 tahun keatas tercatat sebanyak 321 kasus. Tahun 2016 hanya tercatat sebanyak 107 kasus. Sedangkan pada kelompok usia dibawah 5 tahun, untuk tahun 2017 turun menjadi 2.174 dari 2.508 kasus pada tahun 2016.

Dari 13 Puskesmas yang ada, Puskesmas Sangurara untuk tahun 2017 ini tercatat paling besar mendapat kunjungan pasien ISPA. Jumlahnya 439 pada kelompok usia dibawah 5 tahun dan 6 kasus untuk kelompok usia diatas 5 tahun.

Sementara tahun 2016, jumlah pasien di puskesmas yang membawahi kelurahan Duyu, Balaroa,Bayaoge, Donggala Kodi dan Nunu ini, untuk usia diatas 5 tahun sebanyak 5 kasus dan usia dibawah 5 tahun sebanyak 323 kasus.

Kemudian Puskesmas Kamonji yang membawahi Kelurahan Silae, Kabonena, Lere,Baru, Ujuna, Kamonji dan Siranindi. Jumlah total antara kelompok usia dibawa 5 dan diatas lima tahun pada tahun 2017 sebanyak 342 kasus. Puskesmas Talise jumlah total tahun 2017 sebanyak 439 kasus. Ini membawahi kelurahan Talise, Valangguni, Tondo dan Layana Indah. Puskesmas Singgani dengan wilayah Kelurahan Besusu Barat, Besusu Tengah, Besusu Timur, Lasoani dan Poboya sebanyak 283 kasus.

Mabelopura dengan wilayah Kelurahan Tatura Utara dan Selatan tahun 2017 sebanyak 212 kasus. Puskesmas Birobuli dengan wilayah Birobuli Utara,Lolu Utara dan Lolu Selatan sebanyak 142 kasus. Nosarara dengan wilayah Kelurahan Tavanjuka, Palupi dan Pengawu sebanyak 124 kasus.

Puskesmas Bulili dengan wilayah Kelurahan Birobuli Selatan dan Perobo sebanyak 101 kasus. Puskesmas Tipo dengan wilayah Kelurahan Tipo, Buluri dan Watusampu dengan 99 kasus. Puskesmas Kawatuna dengan kelurahan Kawatuna dan Tanamodindi sebanyak 96 kasus. Kemudian Puskesmas Tawaeli dengan wilayah Kelurahan Lambara, Mpanau, Kayu Malue Ngapa dan Kayumalue Pajeko sebanyak 83 kasus.

Puskesmas Pantoloan dengan wilayah Kelurahan Pantoloan, Pantoloan Boya dan Baiya sebanyak 96 kasus dan Puskesmas Mamboro dengan wilayah Kelurahan Mamboro, Mamboro Barat dan Taipa sebanyak 60 kasus.

Petugas data pengendalian penyakit menular Dinkes Kota Palu, Setia Hati, kepada Palu Ekspres menjelaskan, identifikasi ISPA dilakukan dengan diagnosa bakteri Pneumonia. Pneumonia menurutnya disebabkan banyak hal. Bukan saja karena debu yang beterbangan dijalanan atau debu hasil kegiatan pertambangan galian c atau debu hasil pembakaran batubara seperti yang terjadi di Kelurahan Mpanau dengan adanya PLTU.

Penyebab lainnya bisa dipicu asap rokok, asap dari pembakaran dapur yang masih menggunakan kayu bakar. Termasuk soal status gizi dan sanitasi lingkungan.

“Memang karena debu, tapi tidak semata karena debu kegiatan pertambangan atau hasil pembakaran batu bara,”jelasnya.

Setidaknya kata dia bisa terukur dari data pasien antara Puskesmas. Misalnya antara Puskesmas Tawaeli dan Puskesmas Sangurara. Di Puskesmas Sangurara, jumlah pasien ISPA jumlahnya lebih besar ketimbang Puskesmas Tawaeli tempat adanya kegiatan PLTU. Atau antara Puskesmas Sangurara dan Puskesmas Tipo tempat kegiatan pertambangan Galian C yang menimbulkan banyak debu.

“Tapi ini belum ada penelitian lebih jauh. Apakah perbandingan data pasien itu disebabkan lebih besar adanya kegiatan pertambangan atau tidak,”demikian Setia Hati.

(mdi/Palu Ekspres)