Bukankah ini semua merupakan indikator, bahwa telah terbuka peluang sebesar-besarnya bagi siapa saja, seorang hamba Muslim untuk meraup kebaikan sebanyak-banyaknya, memeperoleh rahmat, keberkahan dan mendapatkan ampunan Allah.
Dalam hadis lain sebagaimana riwayat Al-Bukhari dan Muslim, juga dari sahabat Abu Hurairah r.a. yang bermakna bila seseorang hamba berpuasa maupun menegakkan qiyam Ramadan dengan dorongan keimanan dan kesungguhan hati, maka akan diampuni oleh Allah dosa-dosanya yang terdahulu. SubhanAllah, ini adalah kemenangan dan keuntungan besar!
Namun, bila sebaliknya kita masih saja bersantai, merasa biasa-biasa saja terhadap Ramadan, bahkan mungkin menganggap Ramadan hanya sebuah fenomena tahunan, sehingga kita tidak lagi memiliki kepekaan/sensitivitas terhadap hakikat yang terkandung dalam bulan Ramadan, kita enggan memuliakan bulan Ramadan dengan memperbanyak amal kebajikan, memperlakukan hari2 bulan Ramadan sama dengan hari2 di luar Ramadan, maka kita pasti termasuk orang yang bodoh dan merugi, sebagaimana yg diwasiatkan oleh baginda Rasulullah SAW dalam hadis di atas.
Ketahuilah, di antara sifat manusia adalah cenderung mengubah sikapnya ketika ia memandang biasa-biasa saja pada suatu objek. Akibatnya ia akan kehilangan kepekaan/sensitivitas pada objek tersebut. Misalnya saja ketika seseorang dikunjungi oleh sahabat lama yang sekian tahun tidak pernah berjumpa, maka ia akan cenderung bersikap penuh kepekaan, keharuan dan penjiwaan yang mendalam.
Maka segala usaha maksimal akan dilakukan, dalam rangka menjamu sahabat lama tersebut. Ia akan memberikan pelayanan terbaik dan ekstra, agar membuat hati sahabat tersebut dipenuhi kesan2 positif.
Namun akan berbeda, bila seorang sahabat lain yang agak sering atau mungkin terlalu sering bertemu dengannya, ia akan cenderung bersikap biasa-biasa saja, datar-datar saja. Oleh sebab itu, para ahli ilmu memberikan sebuah kaidah/norma yang patut kita perhatikan, yakni “keseringan berinteraksi dapat melemahkan sensitivitas/kepekaan.”
Waspadalah! Jangan sampai hal ini terjadi pada bulan Ramadan. Jangan biarkan sikap kita biasa-biasa saja terhadap bulan Ramadan, jangan pernah anda bersikap masa bodoh terhadap keutamaan bulan Ramadan atau kita akan celaka akibat kebodohan dan kerugian yang datang dari sikap-sikap kita tersebut.
Mari kita terus memperbanyak amal kebajikan di bulan Ramadan, seperti tadarus Alquran, qiyam Ramadan/salat tarawih, menggairahkan salat sunnah rawatib dan salat sunah lainnya, bersedekah, berinfak, berzakat dan sebagainya. Ingatlah! Di antara malam-malam di bulan Ramadan, terdapat satu malam yg nilainya lebih utama dari pada seribu bulan, maka buru dan kejarlah ia, terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Hindarilah kesia-siaan, seperti banyak tidur, meninggalkan salat 5 waktu berjamaah, bermedsos ria sepanjang hari, ber-game online ria, menggibah, namimah, ngabuburit, clubbing, dan sebagainya. “Berapa banyak orang yg puasa tidak mendapatkan kebaikan/keuntungan Ramadan, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga,”(Hadis hasan riwayat Ahmad dari sahabat Abu Hurairah ra).
Na’udzubillah min dzaalik. Mudah-mudahan Allah memudahkan segala urusan kita dalam menekuni hakikat yg terkandung pada bulan Ramadan, dan Allah mengampuni dosa-dosa kita semua, sebelum Ramadan tahun ini meninggalkan kita.
Sehingga kita termasuk orang yang berbahagia ketika tiba hari Idul Fitri, kebahagiaan yang hakiki sebab dosa-dosa kita diampuni Allah, sehingga kita laksana bayi yg baru terlahirkan. Wallahu A’lam.
(***)






