Sabtu, 4 April 2026

Stimulus THR Dongkrak Ekonomi Sulteng TW II 2018

PALU EKSPRES, PALU – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulteng memperkirakan prospek ekonomi Sulteng meningkat untuk triwulan (TW) II dan III tahun 2018. Pada TW 1 ekonomi Sulteng bertumbuh 6.62% year on year (yoy). Jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan TW l 2017 yakni 3,97% (yoy).

TW II dan III 2018 perekonomian diperkirakan tumbuh masing-masing  pada kisaran 6,8 -7.2persen (yoy) dan 8,8-9,2persen (yoy). Ini tidak terlepas dari kian meningkatnya kinerja perusahaan di kawasan industri Morowali (nikel pig urin/NP1) serta  Banggai LNG. Sehingga dari sisi ekstemal ekspor kedepan diperkirakan akan memberikan kontribusi yang semakin tinggi.

Dari sisi domestik konsumsi, ekonomi Sulteng TW II tahun ini diperkirakan semakin meningkat. Ini seiring dengan realisasi  stimulus pemberian tunjangan hari  raya (THR),  gaji ke 13 kepada pegawai negeri sipil. TNl, Poiri dan pensiunan.

Formulasi stimulus pemerintah ini menurut Kepala BI Perwakilan Sulteng, Miyono, agak berbeda tahun sebelumnya. Karena penerimanya bukan hanya pegawai negeri aktif tetapi juga pensiunan.

“Dengan begitu andil sektor konsumsi dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi dari triwulan sebelumnya,”jelas Miyono dalam keterangan pers bertajuk kajian ekonomi dan keuangan regional Mei 2018. Kamis 31 Mei 2018 di Hotel Santika Palu.

Selain THR, secara sektoral pada TW ll 2018 juga ditopang sektor pertanian yang akan memasuki panen raya. Yang turut memberi andil terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng. Ini jelas Miyono juga diperkirakan meningkat.

Sedangkan untuk TW III 2018 pemerintah diperkirakan mampu merealisasikan belanja yang cukup besar. Yang akan memberi multiplier efek tidak sedikit bagi peningkatan konsumsi masyarakat. Demikian kontribusi sektor pertanian diperkirakan juga cukup tinggi di TW Ill 2018.

“TW Ill 2018 juga akan terdapat peningkatan kapasitas produksi di sektor industri manufaktur. Seiring berakhirnya tahap komisioning sejumlah perusahaan baru.Artinya produksi akan semakin meningkat. Sehingga ekspor diperkirakan juga meningkat,”urai Miyono.

Dia menjelaskan pula secara tahunan perekonomian diproyeksikan tumbuh di kisaran 8,0 8.4persen (yoy). Lebih tinggi dari tahun sebelumnya 7,14persen (yoy).

Namun inflasi Sulteng pada dua TW kedepan diperkirakan meningkat dibandingkan TW sebelumnya. Inflasi triwulan ll diperkirakan berada di kisaran 2,6 3,0persen (yoy) dan TW III berada pada kisaran 2,9,32persen (yoy) .

“Tekanan inflasi pada TW II 2018 diperkirakan terjadi pada Mei dan Juni seiring dengan berlangsungnya momen Ramadhan dan hari raya Lebaran,”katanya.

Peningkatan konsumsi masyarakat diperkirakan tidak hanya terhadap bahan pangan tetapi juga jasa. Dari volatile foods, komoditas yang perlu diwaspadai adalah kelompok barang kebutuhan pokok terutama ikan, ayam dan telur ayam.

Sedangkan untuk komoditas ikan, potensi kenaikan harga selain diakibatkan meningkatnya permintaan juga bisa disebabkan terbatasnya pasokan.

Hasil tangkapan ikan nelayan lanjut Miyono selama bulan puasa diperkirakan menurun. Sehingga jumlah pasokannya juga terbatas. Perbedaan harga ikan yang cukup signifikan dengan provinsi lain juga bisa menjadivpenyebab kurangnya pasokan.

“Karena tidak sedikit ikan hasil tangkapan nelayan yang dikirim ke provinsi lain,”jelasnya panjang lebar.

Dari sisi ‘administrasi prices’ BI Sulteng memperkirakan masih akan terdapat penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Seiring dengan kecenderungan kenaikan harga minyak dunia.

Juga terdapat potensi peningkatan harga tiket angkutan udara seiring meningkatnya permintaan karwnab libur panjang.

Faktor pelemahan niiai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi meningkatkan harga barang impor, atau barang yang diproduksi dengan menggunakan bahan baku impor.

Untuk mengeliminir atau meminimalisir dampak negatif dari beberapa faktor tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulteng bekerjasama dengan tim Satgas pangan kepolisian daerah perlu mengantisipasinya.

Yaitu dengan mengambil langkah-langkah konkrit. Terutama dalam upaya menjamin kecukupan pasokan barang dan jasa. Yang diantaranya dilakukan melalui sidak ke pasar-pasar untuk memastikan efektifitas penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Sidak ke pedagang besar/grosir agar tidak terjadi penimbunan. Menggelar pasar murah. Melakukan operasi pasar terutama beras. Serta bekerjasama dengan Kementerian dan pihak maskapai guna mengenda|ikan harga tiket pesawat udara.

“Disamping itu juga perlu dilakukan imbauan kepada masyarakat agar berbelanja secara bijak dan tidak panic buying,”harapnya.

Melalui upaya-upaya itu, BI berharap inflasi tahunan Sulteng dapat terkendali pada kisaran yang telah ditetapkan. Yaitu 3,5 plus minus 1persen,”demikian Miyono.

(mdi/Palu Ekspres)