PERAYAAN Idulfitri oleh umat Islam identik dengan momen mempererat silaturahmi. Di Indonesia, Idulfitri banyak berkaitan dengan tradisi sosial saling mengunjungi keluarga, kerabat, sahabat, hingga relasi lainnya, baik dalam bentuk kunjungan tunggal maupun beramai-ramai. Salah satunya tradisi Ziarah Rombongan yang dilaksanakan masyarakat Dusun Malambora Desa Wani II, yang hingga kini di Idulfitri 1439 H/2018 M terus digiatkan.
Laporan: Imam El Abrar, Tanantovea
Pagi itu sekitar pukul 07.30 WITA pada Sabtu 16 Juni 2018, bertepatan dengan 2 Syawal 1439 H atau hari kedua Idulfitri, beberapa warga sekitar Dusun Malambora Desa Wani II Kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala, satu persatu mulai berdatangan ke Masjid Al-Amin Malambora. Kedatangan mereka untuk berkumpul sebelum melaksanakan salah satu bagian dari tradisi Idulfitri, yakni Ziarah Rombongan.
Ziarah Rombongan merupakan tradisi warga Dusun Malambora dan sekitarnya, dalam bentuk saling mengunjungi rumah warga dengan beramai-ramai. Para warga mengambil titik berkumpul di Masjid Al-Amin, sebuah Masjid tua yang berdasarkan catatan sejarah didirikan sejak tahun 1906, atau sekitar seabad lebih dua belas tahun yang lalu. Tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 2 Syawal atau sehari setelah hari raya Idulfitri.
Sekitar pukul 08.00 WITA, para warga yang semuanya laki-laki yang sebelumnya telah berkumpul memulai perjalanannya berjalan kaki ramai-ramai mengunjungi satu persatu rumah warga sekitar. Sepanjang jalan, suasana keakraban sangat terasa terjalin antarwarga. Di tiap rumah yang dikunjungi, tak lupa rombongan meyapa tuan rumah dilanjutkan berdoa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama. Tidak ketinggalan, tersedia kudapan ringan tradisional penambah hangat suasana.
Saah seorang warga yang juga Ketua Pengurus Masjid Al-Amin Malambora, Lukman Hadi menceritakan, kegiatan Ziarah Rombongan yang dilaksanakannya bersama para warga pada Idulfitri tahun ini, merupakan tradisi yang telah dibangun oleh para orang tua mereka terdahulu, sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak Masjid Al-Amin eksis berdiri sebagai salah satu monumen saksi penyebaran Islam awal di lembah Palu dan sekitarnya.
“Tradisi ini sudah dilaksanakan oleh orang-orang tua kita dahulu, bahkan sejak Masjid Al-Amin ini berdiri,” kata Lukman.
Ia menegaskan, pihaknya berupaya untuk terus melestarikan tradisi tersebut, demi menjaga hubungan silaturahim dan kekeluargaan antarwarga, yang dahulu telah dibangun oleh para pendahulu mereka. Daerah tersebut kata Lukman, ditinggali oleh rumpun warga yang berasal dari berbagai latar belakang keluarga, di antaranya Bugis dan Arab.
Tradisi tersebut diikuti oleh para warga dari segala usia, mulai dari orang tua hingga anak-anak. Bahkan, momen tersebut juga dimanfaatkan oleh anak-anak untuk memperoleh “hagala” (uang pemberian di hari raya-red) dari beberapa tuan rumah yang dikunjungi.
“Dari generasi ke generasi sampai kita saat ini, tetap melestarikan kegiatan ini, karena kita menganggap sangat penting sekali hubungan silaturahim ini kita jaga, jangan sampai terpisah.
Di sini ada beberapa marga seperti Alatas, Al-Haddad, As-Segaf dan Al-Mahdali. Rumpun persaudaraan di masyarakat yang majemuk inlah yang kita jaga,” jelas Lukman, yang merupakan Purnawirawan Polisi berpangkat AKP.
Olehnya ia sangat berharap, tradisi yang telah terbangun lebih dari seabad lalu tersebut dapat terus dilestarikan dan dikembangkan oleh para generasi muda. Karena perayaan Idulfitri menurutnya, adalah momen untuk saling mewujudkan kedekatan komunikasi antarwarga dan kerabat. Bagi Lukman, penting ditunjukkan kepada para generasi muda, pentingnya tradisi tersebut dilestarikan sebagai bagian dari peninggalan para pendahulu mereka.
“Kita tunjukkan bahwa beginilah yang seperti dilakukan oleh orang-orang tua kita terdahulu, supaya kita hubungan silaturahim tetap dekat dan melekat serta tidak terputus. Persoalan-persoalan sepele jangan sampai menjadi hambatan bagi kita. Keluarga kita dari jauh yang sudah bekerja di luar, ada yang dari Palu, Donggala, bahkan Makassar juga sering meluangkan waktu datang ke sini untuk ikut Ziarah Rombongan,” tuturnya.
DILANJUTKAN IBU-IBU
Tradisi Ziarah Rombongan warga Malambora yang dilaksanakan pada 2 Syawal setiap tahun, tidak hanya dilaksanakan oleh warga yang berjenis kelamin laki-laki saja. Usai para laki-laki berkunjung beberapa hari ke rumah-rumah warga, para Ibu-ibu serta warga perempuan lainnya lalu melanjutkan kegiatan yang sama, selama beberapa hari pula.
Lukman menuturkan, tradisi Ziarah Rombongan biasanya dilakukan selama beberapa hari, paling sering tiga hari, dengan menargetkan belasan hingga dua puluhan rumah yang dikunjungi setiap harinya.
“Kita targetkan belasan rumah untuk hari pertama, setelah itu kita berhenti, dan lanjut lagi besok harinya berkumpul lagi di Masjid Al-Amin di jam yang sama, untuk berkunjung ke belasan rumah berikutnya,” ujarnya.
Usai pelaksanaan selama tiga hari, kegiatan tersebut lalu dilanjutkan oleh para warga perempuan yang tergabung dalam Majelis Pengajian Jamiatul Muslimat Masjid Al-Amin, selama dua hari melakukan kunjungan yang sama ke rumah-rumah warga.
“Setelah kita berhenti di hari ketiga, dilanjutkan ibu-ibu pengajian Jamiatul Muslimat melakukan kunjungan serupa selama dua hari. Sehingga, kurang lebih lima hari kita meramaikan Idulfitri dengan tradisi ini,” pungkas Lukman.
(***)






