Minggu, 5 April 2026
Palu  

Teknologi Budidaya Udang Supra Intensif, Gerakan Meraup Dolar Dimulai dari Sulteng

PALU EKSPRES, PALU– Harapan besar disematkan sejumlah stakeholder terkait pelaksanaan Workshop budidaya udang supra intensif skala kecil dan menengah yang akan digelar di Hotel Best Westren Coco Palu pada Kamis (20/9/2018).
Workshop yang akan mempertemukan pihak pemerintah, perbankan, kalangan dunia usaha serta penemu teknologi budidaya ini, diharapkan melahirkan solusi sekaligus bisa segera operasional di lapangan. Apalagi teknologi budidaya supra intensif ini merupakan peluang usaha untuk mencetak wirausaha baru.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulteng DR Hasanuddin Atjo berharap, melalui workshop budidaya udang supra intensif ini, bisa nantinya menginisiasi lahirnya gerakan meraup dolar yang dimulai dari Sulteng.
Penemu teknologi supra intensif itu malah berharap, gerakan meraup dolar yang dimulai dari Sulteng, bisa meluas jadi skala nasional. Terlebih lagi investasi yang dibutuhkan relatif kecil sementara kebutuhan pasar ekspor yang sangat besar. “Kalau ini bisa jadi gerakan nasional, maka dapat menjadi tamabahan amunisi ditengah menguatnya dolar terhadap rupiah, investasi kecil dan cepat serta pasar unlimitted,” tulis Hasanuddin Atjo.
Sementara itu, Sekretaris Ikatan Sarjana Perikanan (Ispikani) Sulteng Dr Fadly Tantu mengatakan, melalui teknologi supra intensif skala kecil ini adalah momentum untuk mencetak wirausaha baru. Sebab, dengan lahirnya wirausaha baru tersebut, sangat berpotensi menjadi magnet penarik dolar masuk ke pedesaan lewat pembudidaya udang supra intensif skala kecil. “Kita Harus mengembangkan potensi lokal yang bisa meraup dolar,” ujar DR Fadly Tantu melalui WA, Rabu (19/9/2018).

Selain itu katanya, teknologi budidaya supra intensif ini adalah teknologi yang seharusnya menjadi aset bangsa yang dapat dijadikan pendorong ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus menjadi andalan dalam meraup dolar. “Ini karena udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang berorientasi ekspor,” jelasnya.

DR fadly Tantu yang juga akademisi Untad ini menambahkan, sebenarnya dari sisi teknologi, Sulteng  sudah memilikinya walaupun masih perlu ada perbaikan. Sehingga, tugas pemerintah adalah bagaimana memberikan jaminan kemudahan kepada masyarakat  pesisir sebagai pelaku usaha untuk bisa mengakses permodalan agar tumbuh industri-industri9 ikutan yang mendukung teknologi supra intensif. 

Selain itu, pemerintah menyiapkan sumberdaya manusia SDM yang tersertifikasi kompoten dalam mengelola teknologi supra intensif. 

Untuk diketahui, DKP Sulteng akan menggelar Workshop budidaya udang supra intensif. Kegiatan ini akan mempertemukan pemilik/penemu teknologi budidaya dengan pemegang kebijakan di sektor keuangan, khususnya perbankan serta kalangan dunia usaha untuk edukasi dan sosialisasi yang diharapkan melahirkan sinergi sehingga teknologi ini secepatnya bisa direplikasi secara massal.

Workshop ini akan menampilkan empat pembicara kunci yakni Dr Ir H Hasanuddin Atjo, MP selaku penemu teknologi, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulteng Miyono, Dirut Bank Sulteng Rahmat Abdul Haris dan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulteng Ishak Bashir Khan.

Diskusi akan berlangsung secara panel yang akan menghadirkan enam orang pembahas yakni Direktur Pakan Ditjen Pereikanan Budidaya Kementerian KP, Ketua Kadin Sulteng, Kepala BRI Cabang Palu, Direktur PT. Matahari Sakti Jakarta, Direktur Bogatama Marinusa Makassar, keduanya pelaku bisnis sektor perudangan, serta akademisi yang juga Sekretaris Ikatan Sarjana Perikanan (Ispikani) Sulteng Dr Fadly Tantu.

Teknologi budidaya udang supra intensif ini disebut skala kecil dan menengah (skala rakyat) karena konstruksi tambaknya tidak menggunakan beton tetapi terpal plastik yang didirikan dengan menggunakan tulang (kerangka) besi sehingga biaya konstruksinya relatif murah hanya sekitar Rp15 juta per tambak namun produktivitasnya sama dengan kolam beton berkapasitas besar.

(fit/antara)